Prolog

50.8K 1.6K 38
                                        

Kepalan tangan pucat itu memukul dadanya keras-keras, terhenyak sesaat dengan rasa sakit yang membara di bagian yang telah dihantam tangan ringkihnya. Mungkin ini begitu menyakitkan, tapi ini bukan apa-apa dibandingkan rasa sakit yang diciptakan oleh ke-tiga mayat yang dikeluarkan dari laci pendinginnya masing-masing. Udara di sekelilingnya seakan direnggut paksa, jantungnya di cabut keluar dengan ganas, dan kantung air matanya pecah dengan parah. Ia siap mati ditangan pria itu kini, ia akan membunuhnya. Demi Tuhan!.

"Ak-aku...Ku mohon maafkan aku" Isaknya ditengah kemurkaan yang melingkupinya.

"Karena kecerobohanku. Maafkan aku ibu, ayah, Loan" Tangisnya kian memburuk, wajahnya begitu sarat akan duka dan kekeruhan.

"Aku akan membunuh pri-" Belum sempat menyelesaikan perkataanya kepalanya sudah tersentak ke atas, rambut cokelat bergelombang itu ditarik paksa sehingga kepala Oliver mengadah ke atas, memandang nanar pria bertopi hitam yang siap kembali melumuri tangannya dengan darah segar.

"Kau masih belum mengerti akibat dari perbuatanmu, sweetheart? Kau terlalu pintar atau bodoh, Oliver?" Suara dingin bak es menjalari tengkuknya, membuat romannya berdiri dengan ngeri. Pria itu mendirikan paksa Oliver dan mendorong gadis itu hingga terbentur dengan dinginnya besi pendingin di belakangnya, berada di tengah-tengah mayat ibu dan ayahnya. Tubuhnya bergetar menahan amarah ketika melihat pria tak senonoh itu muncul tanpa diduga.

"Kau lihat mereka?!" Pria itu menjambak kasar rambut sang ibu dan menarik mayat itu jatuh dari tempatnya menimbulkan bunyi gedebuk ringan.

"Kau brengsek, black" Desisan benci Oliver berlarut-larut di udara sementara matanya tergenangi oleh bukti kemurkaanya. Black, Albert Black tersenyum pongah kepada Oliver, menaikkan satu alisnya lalu mencekik leher gadis itu dengan satu gerakan cepat.

"Sekali kau membangkang, satu keluarga yang memiliki ikatan darah denganmu akan kumusnahkan, dua kali kau membangkang, satu persatu temanmu akan meregang nyawa di tanganku, dan ketika kau membangkang untuk ketiga kalinya, kupastikan kau hanya dapat hidup tanpa dapat merasakan seluruh indramu, cantik." Napas Albert mulai memburu ketika wajahnya semakin dekat dengan Oliver, kemudian ia melanjutkan dengan tatapan matanya yang bersinar liar"Aku tidak keberatan mengotori tanganku dengan darah rendahan seperti mereka lagi, karena dengan begitu kau akan menyadari siapa yang berkuasa disini. "

Napas oliver tersengal-sengal, wajahnya mulai memerah membutuhkan oksigen dan kuku-kukunya mencakar-cakar lengan Albert dengan liar. Benaknya berkecamuk dengan ganas.

"Jadi, jadilah gadis yang manis jika kau masih ingin hidup dengan tenang"

Tercemooh, itulah yang dirasakan Oliver saat ini. Air mata gadis itu sudah bercucuran sejak lama dan kini setelah Albert menjatuhkan tubuh mungilnya kelantai ia hanya dapat terbatuk-batuk sembari menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Aku sudah memperingatkanmu, sayang. Aku sudah berlaku adil padamu. Gadis tidak tahu diuntung." Mata hitam bak dasar samudera itu menusuk tajam ke mata Oliver,lalu kembali melanjutkan "Cepatlah pulang ya, aku tidak sabar untuk membuaimu lagi. Sudah berasa seperti ribuan tahun kau tidak menyentuhku"

Satu cium lembut mendarat di pipi Oliver, namun gadis itu tetap bergeming. Menatap lurus pria dengan rambut cokelat bersulur emas tersebut, menantang tubuh kekar yang berbalut jas hitam yang kontras di kulit putihnya. Pria sialan yang tengah menjebaknya. Bibir tipis nan menggairahkan itu tersenyum dengan lembut dengan mata yang menatapnya bengis, membuat garis-garis tegas di wajah ketampananya tampak lebih ketara dan mengerikan.

"Mari" Albert mengulurkan tangannya yang berjemari lentik itu kepada gadisnya sementara Oliver memandangnya dengan api yang berkobar di mata olivenya.

Touch by The Devil (HIATUS)Stories to obsess over. Discover now