Brakk suara pintu yang di dobrak, sheila begitu ketakutan dengan adanya suara derap langkah yang semakin dekat. Ia merangkul buku album keluarganya.
Door pistol itu hampir saja mengenainya. Sheila segera membuka pintu rahasia di belakangnya dengan gemetar. Tak lama, pintu itu terbuka. Ia bergegas berlari melewati lorong itu. Ia merasa marah karena orang itu , orang yang membuat orangtuanya mati mengenaskan. Tertembak di bagian kepalanya. Sheila berlari terus hingga keluar dari lorong yang sesak itu. Ia mencegah taxi dan masuk ke dalamnya. Meninggalkan rumah mewah yang merupakan saksi atas meninggalnya orangtuanya. Ia tak tau bagaimana nasib adiknya yang ia bantu kabur dari rumah itu.
Sheila memberhentikan taxi tersebut. Ia sampai di rumah sederhana, rumah masa kecilnya. Rumah itu masih dalam keadaan bagus. Di dalamnya pun masih ada barang barangnya.
"Non Sheila?" sapa orang tua yang menjaga rumah itu.
"Pak Kas? Pak, saya mau menempati rumah ini lagi" kata Sheila sambil menangis.
"Ada apa non? kenapa non Sheila sendirian? kemana bapak, ibu, dan den Ricki non?" kata pak Kas dengan raut wajah khawatir.
"M-mereka di bunuh pak, dan aku tak tau dimana keberadaan Ricki, ia kabur lebih dahulu pak" kata Sheila sambil terisak.
"Ya ampun non, yang sabar ya, non tinggal disini saja sama saya" tawar pak Kas.
Mereka memasuki rumah itu. Sheila menuju kamar masa kecilnya dan langsung tertidur di kasur tersebut sambil memeluk album keluarganya.
