"Mama! Papa! Tolong!"
"Tidak apa-apa, Sayang."
"Jangan! Jangan lakukan itu padaku! Aku masih mau hidup!"
"Tidak sakit, kok."
"MAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Hah! Hah! Hah!" aku kelelahan. Nafasku memburu. Mimpi itu lagi. Sudah tak terhitung jumlahnya dalam minggu ini aku bermimpi itu. Mimpi itu hinggap di alam bawah sadarku. Setiap aku memejamkan mata, mimpi itu muncul. Setiap aku memejamkan mataku saat keramas, mimpi itu muncul. Setiap aku berkedip, potongan mimpi itu muncul. Setiap aku memicingkan mata, mimpi itu terlihat hitam-putih. Setiap aku mengedip sebelah mata untuk menggoda cewek cantik, mimpi itu pun muncul juga. Mimpi itu terpotong-potong, seperti puzzle yang tak dapat kupecahkan.
Kuraba tubuhku, keringat keluar dari kulitku. Kulihat jam dinding, jarum pendek menunjuk angka tujuh dan jarum panjang menunjuk angka dua belas. Kuperhatikan jarum tipis berwarna merah, setiap detik berganti sehingga aku bingung mau menilainya. Kuperhatikan terus jarum tipis merah tersebut, lama-lama aku terhipnotis dan "Zzz..."
"OTOONNGG!"
"Gyaaa!" aku terkejut dan terduduk. Kupegang jantungku, detaknya begitu cepat. Kuikuti irama jantungku. Bunyinya asik sekali. Aku terhanyut dalam buaian nada debar jantungku. Tak sadar, irama jantungku pun mulai menghinopnotisku untuk masuk ke alam bawah sadarku...
"OTOONNGGGG!"
"Wuaaa!" aku kaget sekali sampai memental di kasurku yang terbuat dari per dan busa.
"Otong! Ini sudah jam tujuh lebih! Kamu mau terlambat?!" bentak ibuku dari arah dapur.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Aku bingung mau ngapain dulu. Sebaiknya membereskan buku pelajaran dulu atau mandi dulu? Ah! Semuanya sudah tidak sempat! Aku langsung berganti seragam dan memasukkan satu buku tulis ke dalam tasku. Satu buku tulis untuk semua pelajaran, praktis sekali. Aku lalu pergi ke kamar kakakkku, Cimeng. Aku mengambil parfumnya dan kusemprotkan ke seluruh tubuhku. Tak lupa aku makan permen agar mulutku wangi.
"Ayah! Ibu! Aku berangkat!" pamitku pada orangtuaku.
Uhm. Aku masih mengantuk. Kukucek mataku. "Aw!" kuku-ku menyentuh bagian putih dari mataku, untung tidak berdarah. Aku berusaha jalan sebaik mungkin walaupun aku ingin jalan terhuyung-huyung seperti di TV.
"Otong!" seorang cewek memanggilku.
"Ya. Ada apa?" jawabku cool dengan pose yang tegap. Biasa, jaga imej.
"Tong, aku mau menyerahkan proposal buat acara tutup tahun," kata cewek itu.
"Hn..." kubuka map proposal tersebut dengan gaya yang keren. Kulihat dengan seksama tarian tinta hitam di atas kayu yang sudah diolah berwarna putih. Seketika mataku ingin kabur dari otot mataku.
"Apa?!" tanyaku seraya berteriak. "Ah, maaf. Apa ini maksudnya, Mawar?"
"Proposal acara 'Sunatan Massal'," jawab sekretaris OSIS yang cantik itu.
"Siapa yang mengusulkannya?" tanyaku greget.
"Ketua OSIS. Tongkol," jawabnya. "Tongkol ingin kau mengumumkan berita ini ke khalayak ramai. Kan ini tugasnya Humas."
Aku ingin membunuh Tongkol! Untuk apa dia mengadakan acara seperti ini?! Aku benci! Benci acara seperti ini! Aaaargh! Rasanya kepalaku ditimpuk batu, hidungku disumbat ingus, mataku diolesi sambel, telingaku dipaksa mendengarkan lagu Mbah Surip volume maksimum! Argh! Aku benci sekali!
"Otong?" kurasakan sentuhan di pundakku.
"Ah, iya, Mawar. Nanti aku sebarin beritanya," ucapku sambil berjalan pergi dari situ.
"Yang cepat ya, Otong. Acaranya hari Minggu besok," ucapnya.
"Iya. Tenang saja," kataku sambil memberikan senyum sangat tipis pada cewek itu. Aku pun beranjak pergi dari situ. Kulihat dari ekor mataku, pipinya memerah. Pasti karena senyumanku.
Hari ini seluruh pengurus OSIS lagi rapat di ruang OSIS. Membahas acara Sunatan Massal. Sebagai ketua seksi Humas, tentu saja aku wajib ikut rapat. Walaupun sebenarnya aku nggak mau. Nggak mau banget!
"Nah, pokoknya besok kita harus siap!" kata si ketua OSIS, Tongkol.
"Siap apa, Tongkol? Siap dipotong peliharaannya?" kata Tutang. Seluruh anak tertawa, baik laki-laki maupun perempuan. Aku diam saja. Apanya yang lucu?
"Hehehhe. Siap-siap aja besok banyak tontonan bagus," Somat berkata seperti itu dengan muka malas yang mesum.
'PLAAK!' kepala Somat dipukul pakai buku oleh Butet, pacarnya Somat.
"Yang bener dong niatnya! Kan kita ngadain acara ini sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya lah kakak-kakak kelas kita bisa lulus UN seratus persen dan nggak ada satupun murid di sekolah ini yang nggak naik kelas, bla... bla... bla..." Butet ceramah, aku males dengerinnya.
"Sudahlah, Butet. Mereka nggak sungguh-sungguh kok," kata Mawar memadamkan apinya Butet. Butet pun padam.
"Hei, hei!" Tongkol mulai cari perhatian. "Kalian sunat waktu umur berapa?"
ngomong apa dia?!
"Aku waktu umur sepuluh tahun," kata Tutang.
"Aku pas naik kelas empat," kata Somat.
"Haha! Aku sih waktu mau naik kelas enam," kata Tongkol. "Otong, kapan kamu disunat?"
.
.
.
TBC
YOU ARE READING
Sunatan Takdir
HumorSebuah kisah tentang seorang pria yang tidak senang dan suka dengan semua yang berhubungan dengan kata 'sunat'
