Manu Rios aka suami gue as Mario Ferdino
*****
Rachel berjalan sambil menarik kopernya yang baru saja di turunkan dari taksi. Gadis itu berjalan ke tempat resepsionis untuk bertanya dimana kamar apartementnya berada. Setelah diberikan kunci kamar apartementnya oleh Natalia --sang resepsionis--, ia pun berjalan menuju kamarnya.
"Nomor 86, di lantai 4." Rachel berjalan menuju lift lalu masuk ke dalam nya.
Ia menekan tombol angka 4 pada salah satu dinding lift dan pintu lift pun tertutup. Setelah sampai di lantai 4, pintu lift terbuka lalu Rachel keluar dari lift tersebut. Ia mencari-cari dimana keberadaan kamarnya yang bernomor 86 tersebut. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang juga sedang mencari kamarnya itu. Sayangnya, Rachel kalah cepat dengan dia.
80, 81, 82, 83. 3 kamar ke sana pasti nomor 86, batin Rachel.
Saat akan berjalan mendekati kamar nya, ia melihat seseorang hendak membuka pintu kamar nya. "Heh! Siapa lo dan mau lo apain kamar gue? Main buka pintu kamar orang aja," omel Rachel dengan kesal. Sementara yang merasa dipanggil, hanya menolehkan kepala nya dan menemukan seorang gadis dengan wajah kesal nya. Rachel berjalan mendekat ke kamarnya, lebih tepatnya ke orang itu. "Ngapain lo di depan kamar gue?" Rachel memicingkan matanya dengan tatapan yang sangat mengintimidasi orang itu.
"Lo yang ngapain? Ini kamar gue," balas cowok itu dengan angkuhnya lalu menaruh kedua tangannya di depan dada.
Rachel hanya menatap cowok itu dengan datar, sangat datar. "Lo buta atau gimana sih? Jelas-jelas nomor kamarnya itu 86, dan itu kamar gue." Rachel menunjukan kartu yang bertuliskan angka 86, yang tadi diberikan oleh Natalia. Cowok itu juga menunjukan kartunya yang bertuliskan angka 86 juga. Rachel menatap cowok itu dengan bingung.
"Kok bisa samaan sih? Ga mungkin sama, pasti kerjaan lo ya supaya bisa satu kamar sama gue?" tuduh Rachel seraya menunjuk-nunjuk wajah cowok itu dengan jari telunjuk.
"Kalau mau nuduh tuh di pikir dulu. Mana mungkin gue mau sekamar sama singa kayak lo," balas cowok itu tidak mau kalah karena tuduhan yang diberi kepadanya.
"Apa? Singa? Gua manusia ya bukan singa. Lo kali tuh yang singa." Rachel menatap remeh cowok di hadapan nya.
"Gue lagi malas berdebat. Wasting time tau ga?"
"Gini aja deh, coba lo buka pintu kamar ini pake kartu lo. Kalau bisa, berarti kamar ini emang kamar lo, tapi kalau engga ya berarti kamar ini kamar gue. Gimana?" tawar Rachel sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Ok." Dengan percaya diri yang sangat tinggi, cowok itu membuka pintu kamar di depan nya dengan kartunya tetapi hasilnya nihil. Pintu itu tidak bisa di buka.
"Ga bisa ya mas? Coba gue yang buka pake kartu gue, minggir lo." Rachel pun membuka pintu kamar itu dengan kartu miliknya, dan seketika....
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka dengan mudahnya. Rachel menyunggingkan senyumnya dengan bangga. "See? Ini kamar gue bukan kamar lo." Saat Rachel ingin memasuki kamarnya, cowok itu memanggil seseorang yang kebetulan lewat di depannya, seseorang yang bekerja di gedung apartement ini.
"Maaf, kamar saya nomor 86 kan?" tanya cowok itu tetap memaksa kalau kamar yang sekarang di tempati Rachel itu kamarnya.
"Oh, ini kartunya ke balik, mas. Seharusnya anda di kamar 98." Pelayan itu membalikan kartu tersebut sehingga benda kotak berukiran itu bertuliskan angka 98.
Sementara Rachel yang melihat kejadian itu langsung tertawa terbahak bahak. Sedangkan sang cowok hanya bisa menahan malu. "Tapi kamar 98 sedang di renovasi, jadi gimana kalau mas ini di kamar nomor 86 dulu untuk sementara waktu sampai renovasinya selesai?"
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Never be Alone
Genç KurguHal yang gamau gue rasain lagi. Hal yang udah bikin gue kapok. Hal yang bikin gue trauma selama bertahun-tahun. Cinta itu menyejukkan tetapi menyakitkan -Rachel Ferdinand Gue bisa merasakan hal ini lagi. Dengan orang yang berbeda dari sebelumnya. Or...
