Delayed Happy Ending © Livre Azure
"What kind of ending do you expect in a bunch of stories?"
.
.
Akhirnya, sang gadis dan pangeran pun hidup bahagia selamanya.
Tidak sampai lima detik, namun aku sudah menutup buku bacaan di genggaman.
Kuletakkan punggung pada sandaran kursi, lalu menumpukan berat pada tubuh bagian bawah. Berulang-ulang kulakukan, hingga tak terhitung lagi jumlah deritan kursi goyang yang kududuki. Iris mata masih belum bergerak dari buku dongeng yang sudah mendarat di pangkuan, dengan benak yang menyibukkan diri untuk bekerja guna menghalau kebosanan.
Sesungguhnya, apa yang menarik dari akhir yang bahagia?
Hal itu terlalu mendominasi dalam serangkaian cerita, sehingga hela nafas yang mewakili rasa frustasi melaju dari mulutku.
Beberapa orang bodoh di dunia nyata pasti sangat lapar akan kehadirannya, sehingga mereka menuangkan nafsunya ke dalam bentuk cerita.
Dan apakah engkau tahu?
Walaupun aku sangat, amat, SUNGGUH bosan dengan hal bernama akhir yang bahagia,
.
aku juga menginginkannya.
.
Kesadaran ini berawal sejak aku menancapkan jejakku di bangku SMA.
Selamat datang di ceritaku—ah, tidak.
Kami.
Segerombolan manusia yang membutuhkan kebahagiaan dalam hidup.
YOU ARE READING
Delayed Happy Ending
General FictionKisah yang hanya berisi kebahagiaan dari awal hingga akhir adalah sebuah khayalan belaka yang dilebih-lebihkan. Kalau begitu, apa jadinya bila khayalan tersebut mengalami beberapa perubahan?
