"Nello!"

608 32 19
                                        

Gadis itu mengangkat tangannya, bukan karena ia ingin menjawab pertanyaan yang berada di papan tulis melainkan karena ia ingin izin ke UKS, kepalanya sangat pening menyebabkan beberapa tetes keringat mengalir dari keningnya.

"Ya Ninda? Ada apa?" Guru kimia itu menghampiri muridnya yang sedang terduduk lesu.

"Saya boleh izin ke UKS gak bu? Kepala saya pusing." Jawab Ninda-gadis itu, seraya menghapus keringat yang lagi-lagi mengalir.

"Kamu sakit?" Ninda mengangguk mengangguk lesu.

"Yaudah kalo kamu sakit, kamu mau di anter sama temen kamu?"

"Gak usah kali bu, saya bisa sendiri kok." Setelah Ninda meyakinkan gurunya tersebut ia berjalan keluar kelasnya menuju UKS yang berada cukup jauh dari kelasnya, ia harus melewati koridor kelas duabelas terlebih dulu baru sampai di UKS.

Dengan jantung yang berdegub kencang ia menolehkan kepalanya kearah lapangan yang dipenuhi oleh kelas XII IPA 1 yang tengah berolah raga, matanya jatuh menatap seorang laki-laki yang tengah menggiring bola dan begitu saja bola itu menggelinding masuk ke dalam gawang mengecoh sang keeper membuat para siswi berteriak kegirangan seraya menyerukan nama lelaki tersebut.

Langkah Ninda terhenti ketika melihat pujaan hatinya itu melangkah mendekat kearah seorang gadis di pinggir lapangan, gadis itu memberikan sebotol air mineral yang langsung di teguk habis oleh lelaki itu. Hati Ninda cemburu, ia menghembuskan nafas berkali-kali untuk menghalau rasa sesak yang tiba datang menyerang.

Matanya masih saja mengawasi pujaan hatinya itu sampai akhirnya sang lelaki menolehkan kepalanya kearah Ninda, mata mereka saling memandang, menyapa satu sama lain tetapi bibir mereka tetap bungkam. Ninda memalingkan kepalanya lalu kembali berjalan meninggalkan tatapan sang lelaki yang kini masih memandangnya.

"Nin!" seseorang menyerukan namanya, ia menoleh ke belakang dan mendapati Moza tengah berlari kecil kearahnya.

"Ayo gue anter ke UKS." Gadis itu menarik lengan Ninda.

"Za, lo tau gak?" tanya Ninda ketika mereka sampai di UKS, gadis itu membaringkan dirinya di atas ranjang UKS.

"Apaan?" tanya Moza seraya ikut berbaring.

"Heh kok lo ikut tiduran si Za? Ini orang UKSnya mana sih? Cariin gue obat pusing napa Za."

"Bawel deh lo, gue mana tau obat pusing nanti kalo gue asal ambil obat tar lo malah mati lagi gue cariin dulu deh orang UKSnya, lo nunggu sendiri kaga ngapa kan?" tanya Moza seraya menutup tirai.

"Iye jangan lama-lama tapi." Jawab Ninda, Moza hanya bergumam lantas ia pergi keluar.

Pintu ruang UKS terbuka, jantung Ninda berdegub dengan kencang karena takut. 'Perasaan Moza baru banget keluar deh, ini siapa ya yang buka pintunya? Eh anjrit horror juga nih UKS, gue harus kabur sekarang juga!' Ninda membatin ketakutan lantas ia turun dari ranjang, dengan cepat ia menyibakkan tirai dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati seseorang mendorong bahunya sehingga ia kembali melangkah mundur. Gadis itu masih memejamkan matanya karena takut, tunggu! Ia kenal parfum ini perlahan namun pasti ia membuka matanya dan mendongak, ia menghembuskan nafasnya lega saat mendapati lelaki itu berdiri di sana. 'seenggaknya bukan setan.'

"Lo sakit?" tanya lelaki tersebut seraya menyatukan kening mereka, jantung Ninda berdegub sangat kencang hingga rasanya mau melompat keluar.

"E... enggak!" Ninda mendorong lelaki itu. Hatinya masih panas ketika melihat adegan di lapangan tadi. 'Harus jual mahal!' lagi-lagi hatinya membatin.

"Sana tiduran lagi,  sebentar lagi Rio dateng, temen Lo udah manggil kan?" Setelah berbicara seperti itu lantas lelaki itu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar.

BlueWhere stories live. Discover now