Prolog

104 8 0
                                        


                  Little Apple
                    PROLOG


Airin Faiqa Alwani. Gadis urakan yang suka nya mencari keributan. Dan tak pernah absen membuat masalah.

Airin sangat menganggumi sosok Abid, teman kecilnya. Namun Abid sama sekali tidak menanggapi kepedulian Airin sejak dia masuk SMA yang sama.

Sifat Airin yang periang, ceria, bawel, dan berlebihan membuat Abid tidak suka bertemu dengan nya lagi.

Alaric Abid Prananja. Atau yang sering dipanggil Abid. Cowok ini begitu dingin sedingin es batu. Abid suka menyendiri dengan buku nya. Selain itu, Abid suka musik. Dia menyempatkan setiap waktu untuk bermain gitar. Abid tidak suka keramaian. Dan terakhir, Abid tidak suka bertemu Airin lagi.

Acelin Myesha Prananja. Adik bungsu Abid yang suka berkelahi. Dia terkenal sebagai trouble maker. Tiada hari tanpa keributan dan membuat masalah. Makanya dia hobi bertengkar dengan kakaknya. Acel keras kepala, dan setiap hari membuat orangtua nya pusing tujuh keliling. Setiap hari hidupnya mengusil Aga, adik Airin yang sangat tertutup.

Arganta Syahm Alwani. Adik bungsu Airin yang sifat dan karakternya sangat berbeda. Dia mirip seperti Abid. Cowok dingin yang tidak suka dinganggu oleh penganggu. Dia benci Acelin yang setiap harinya usil dan membuat masalah.

***

Airin sudah menyelesaikan tugas sekolah nya. Tumben gadis pembuat onar itu terlihat rajin merangkai kata yang ditugaskan oleh guru bahasa indonesia sampai pulang terlambat.

Kepala seorang cewek menyembul di sisi pintu, dia cengengesan menatap Airin. "Rin! Gue duluan boleh ga? Cowok gue udah jemput tuh ehe, sorry ya."

Airin mendengus, meletakan alat tulisnya kedalam tas. "Yaudah sana,"

Selang mendengar penuturan Airin dari dalam kelas, Rena menghilang dari pintu. Itu sudah biasa.

Airin melirik di sekeliling ruang kelas, tatapan nya tertuju pada satu titik. Abid.

Cowok itu masih berada didalam kelas berdua dengan nya. Ini kesempatan bagus, seringaian senyum nakalnya terukir.

Airin melangkah mendekat pada kursi Abid.
"Eh, Abid ganteng. Kok belum pulang?" Sapa Airin yang sama sekali tidak dibalas oleh Abid. Cowok itu masih berkutat pada kertas yang ditulisnya.

Senyum Airin yang tadinya mengembang itu perlahan menghilang.

"Abid," tepukan pada pundaknya, membuat Abid menoleh dengan dahi yang mengerut.

Airin masih bungkam, seolah tidak lagi mampu mengungkapkan kata. Ini memang terdengar aneh, seorang cewek gila yang mengejar cowok pintar di sekolahnya dengan berbagai cara. Terdengar murahan ditelinga kita bukan?

Namun Airin tidak perduli, walaupun dia urak-urakan, dan selalu membuat masalah. Tetapi dia sangat jatuh hati pada seorang Abid. Meskipun cara mengejar Abid begitu kekanakan.

Kemudian, lamunan Airin tersadar ketika Abid mulai beranjak dari posisinya dan membawa tas gendong disebelah pundaknya.

Airin menatap punggung Abid yang mulai beranjak jauh.

Tanpa Airin berbicara, tiba-tiba punggung itu berbalik. Airin mendongak menatap mata nya, dahi pria itu berkerut sejak tadi.

"Kenapa?" Tanyanya, dalam posisi yang sama namun sudah berbalik menatap Airin.

Seolah ada bisikan jangan menggeleng, Airin mengeluarkan suaranya dengan nada yang kalem tidak seperti biasanya. "Hm, lo tau kan semua kebenaran tentang gue?" Walaupun terdengar ragu, dia tetap melakukan nya.

"Gak."

"Maksud gue, lo tau kan perasaan gue yang lebih sama lo?"

"Gak."

"Lo tau kan selama ini gue ngejar lo karna apa?"

Abid mengernyit,"Gak usah basa-basi, apa yang lo mau bilang?"

Tiba-tiba Airin gemetaran, jantungnya berdegup lebih kencang.

"Gue sayang sama lo, gue cinta." Kata Airin penuh penekanan.

Setelah mendengar penuturan gadis itu, Abid berbalik lagi seolah tidak perduli apa yang Airin katakan.

"Terkadang elo tau bahwa lo mampu menghindari rasa sakit, namun lo juga sadar bahwa cinta lo lebih berarti dari rasa sakit."

"Tapi gue sadar lo gak cinta sama gue." Nada nya terdengar emosi namun penuh kepasrahan.

Abid berhenti melangkah.

"Bukan cuma bahagia dan tawa, tapi derita dan air mata juga bagian dari cinta." Airin menurunkan oktaf suaranya.

Seolah tahu Abid tidak akan merespon, Airin tetap tahu diri.

"Gue hanyalah seorang cewe, menyayangi seseorang ya sayang banget, tak terbalas ya gue cukup sabar kok."

Abid belum berbicara lagi dalam lamunanya, cowok itu berbalik dengan penuh tanda tanya.

"Ya walaupun gue sadar, harapan memang tak seindah kenyataan hidup."

Airin menatap langit-langit kelas,
"Suatu saat gue bukan berhenti memperjuangkan, tapi gue lelah, apalagi yang harus gue perjuangkan? Cinta bukan untuk mengemis dan meminta tapi saling mengisi."

Kemudian hening sesaat.

"Ini pengungkapan rasa cinta gue yang kedua kali nya kan?"

"Beri gue sedikit waktu, Bid. Biar cinta datang karna terbiasa."

Airin melangkah mendahului Abid, menatap nanar kenyataan hidupnya yang pahit.

Cowok yang mematung dibalik pintu merasakan hal yang sama.

***
Acelin melempar bola basket nya kesembarang arah dan meraih tasnya ketika menatap Aga yang melangkah menuju parkiran.

"Aga!"

Seorang yang mempunyai nama itu membalikan tubuhnya. Dia mengernyit tanpa membalas ucapan gadis yang sudah berdiri di hadapan nya.

"Aga, lo kok diem aja si?"

Aga hendak memutar tubuhnya lagi, namun tertahan oleh tarikan dipundaknya.

Mereka saling bertatapan.

"Maaf gue sibuk," suara Aga terdengar penuh penekanan.

Acelin mendesah menatap keangkuhan Aga. Padahal dari dulu dia berbuat masalah karena beberapa alasan sekaligus ingin mencuri perhatian Aga. namun apa kenyataan nya? Terdengar sakit kan?

"Aga, gue mau ngomong sesuatu."

Aga mengernyit menatap gadis didepan nya. "Ngomong aja gak usah basa-basi, gue gak ada waktu."

Acelin nyengir namun rada kecewa, "Lo jutek banget si sama gue? Kenapa?"

"Lo jail dan tukang rusuh, gue gak suka." Kata Aga.

"Maaf, ga."

"Gaperlu minta maaf sama gue, emangnya gue siapa lo?"

"Lo pernah nempelin rambut gue pake permen karet, ngerobek catatan gue, lempar sepatu gue ke genteng, dan lo kotorin baju olahraga gue. Puas? Masih nanya kenapa?"

Itu terdengar sedikit menyakitkan. Tidak sedikit, tapi benar-benar sakit.

"Tetep jahat sama gue, Aga!"

"Gue gak pernah jahat sama lo,"

"Lo jahat Aga, lo gak pernah sedikitpun ngehargain gue. Ataupun bales cinta gue,"

"Siapa suruh selalu ngejar gue?"

"Lo gak punya hati!"

"Udah tau gak punya hati, kenapa masih cinta, hm?"

"Semoga lo bakalan ngerti tentang perasaan gue ini," Acelin menjeda ucapan nya.

"Gue gak pernah menyesali pernah suka sama lo, karena dengan itu gue akan belajar apa artinya memperjuangkan."

Kisah dua kaum hawa yang saling memperjuangkan sosok pria yang susah ditaklukan. Mereka adalah bad girl.

***

Little Apple                                                 [Airin dan Abid]Stories to obsess over. Discover now