The Beginning

66 2 2
                                        

Namaku Andrea, Andrea Politan. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, mamaku memiliki pekerjaan yang layak untuk menghidupi aku bersama dengan kedua adikku. Ya, aku hanya memiliki mama, dan dia adalah sosok yang sangat aku sayang meskipun tidak dapat ku ungkapkan secara langsung padanya, entahlah, aku merasa canggung dan kaku ketika secara langsung aku mengatakan kalimat "mama aku menyayangimu", kedengaran aneh bukan?, sedangkan papaku, sudah lama meninggalkan kami, pergi ke tempat yang jauh, kata orang sih, nama tempat itu adalah surga. Apapun nama tempat itu, ku harap papa akan bahagia di sana.

Tetapi setelah mengenal orang itu, semuanya berubah. Aku lebih menyayanginya dibanding siapapun, bahkan melebihi rasa sayangku pada mama. - Maafkan aku mama, maaf mama, hahaha! - Aku mungkin durhaka tetapi apa boleh buat, aku hanyalah seorang remaja yang sedang menemukan jati diri, jatuh cinta kepada orang itu. Tapi aku masih menyayangi mama karena mama adalah orang yang tidak akan pernah mengecewakanku bahkan selalu mendukung keputusanku, meskipun aku belum tahu mengenai keputusan ini... Akan ku ceritakan, bagaimana aku mengenal, berusaha menjadi temannya dan akhirnya jatuh cinta kepada orang itu...

***

Setelah dinyatakan lulus dari jenjang SMA, aku memutuskan melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan sesuai dengan amanat almarhum papaku, aku melanjutkan ke salah satu Universitas yang ada di daerah pegunungan. Awalnya aku tidak terlalu menaruh minat, aku lebih suka jika melanjutkan di Jurusan Kedokteran.

Setelah mengikuti beberapa tes ujian masuk, aku dinyatakan lulus ujian tes masuk bersama dengan temanku. Oh iya, aku hampir lupa memperkenalkan temanku, namanya Yuna, Yuna Bilkist. Dia adalah teman sekaligus sahabat dari SMP, SMA, dan berlanjut ke Perguruan Tinggi yang sama denganku. Aku kaget saja, ketika mendengar bahwa dia yang awalnya memutuskan melanjutkan ke Jurusan Keperawatan merubah keputusannya untuk berkuliah di tempat ini. Akhirnya, kami melalui segala hal dan urusan yang diperlukan untuk masuk ke Fakultas ini, salah satunya mengikuti Ospek dan PMPK.

***

"Jalan jongkok dari situ!!!" Teriak salah satu senior.

Iya, jalan jongkoklah aku sampai ke pintu masuk, inilah akibatnya jika aku terlambat. Belum lagi ketika...

"Keluarkan perlengkapan kalian!!" Teriak senior. Saya bingung kenapa harus dengan teriak, apa tenggorokan mereka tidak sakit, pikirku. Oh tidak, aku mengecek perlengkapan dan aku melupakan satu barang, hanya satu barang saja tetapi akibatnya fatal. Sungguh sangat melelahkan. Di sana aku hanya mengenal Yuna dan ketua kelompokku beserta seluruh anggota kelompok.

Hal ini berlangsung selama satu minggu, 19 Agustus 2013 sampai dengan selesai.

Akhirnya, hari terakhir tiba, dan kami di sortir menurut asrama kami masing-masing. Sungguh sangat melelahkan, belum sempat beristirahat secara maksimal, kami sudah diharuskan untuk aktif kuliah pada besoknya. Dan pada saat itulah, pada hari itulah, pada malam itulah aku mengenal dia.

***

Setelah membawa baju-baju dan segala perlengkapan, aku akhirnya menempati kamar bersama dengan tiga orang lainnya. Sungguh aneh, bukan?, biasanya tidur sendirian di dalam kamar, tetapi kali ini harus berbagi kamar dengan tiga orang ini yang pada saat itu aku belum mengenal mereka.

Sahabatku, Yuna, ditempatkan di Asrama Putri yang berada jauh dengan Asramaku. Tetapi, kami masih sering bertemu, dan berbagi cerita ketika berada di asrama kami masing-masing. Berbeda denganku, ia sangat tidak menyukai Asramanya, dan lebih sering pulang, setiap minggunya ia selalu pulang ke rumah.

Hari pertama ketika kuliah. Aku melihatnya tetapi belum mengenalnya. Siapakah dia? Ingin rasanya ku berkenalan dengannya, kalau saja rasa keingintahuanku lebih besar dari rasa malu. Entah kenapa ketika aku melihatnya untuk pertama kali, rasa itu muncul tetapi belum sebesar sekarang ini, ketika semua yang dia lakukan untukku. Dan, ketika ku melangkah lebih jauh, ternyata namanya, namanya adalah....

***

Aku sedang mendengarkan musik di salah satu kelas yang kosong, kalau tidak salah lagu itu berjudul Beautiful in White. Tiba-tiba saja dia datang dan menyanyi lagu tersebut. Sungguh perjumpaan yang begitu aneh, tetapi pada saat itu aku belum mengetahui namanya, sampai akhirnya dia yang bertanya lebih dulu...

"Lagu yang bagus, coba di putar sekali lagi." Pintahnya.

"Ehmm, ya, iya." Aku mengangguk mengiyakan.

"Oh iya, nama kamu siapa?"

"Heh? Namaku? Namaku eh eh." Aku begitu kaget ketika dia menanyakan namaku, sontak aku seperti hilang ingatan dan melupakan namaku. Hah, yang benar saja, aku akan melewatkan kesempatan emas ini, pokoknya aku harus bersikap tenang. Tenang Ndrea, tenang. "Namaku Andrea. Kalau namamu siapa?"

"Stanley" (bacanya Stenli).

"Stanley, ayo, kita harus pergi, dosen sudah masuk." Sepertinya salah satu teman memanggilnya.

"Sampai ketemu lagi, Andrea..." sambil tersenyum.

Detak jantungku seakan berhenti, darahku seakan berhenti mengalir dan aku seperti berhenti bernafas. Udara di sekelilingku terasa panas. "Ahhhhh." Aku tidak sengaja berteriak, melompat kegirangan. Aku akhirnya mengenalnya, aku mengenalnya. Tanpa ku sadari bahwa itu awal dari segalanya.

Stanley, Stanley, Stan--le-ey. Aku terus saja mengeja namanya dalam hatiku. Seakan takut melupakan nama itu ataupun terlalu senang ketika mengetahui nama itu. Kata orang, kita tidak boleh terlalu berharap lebih ketika membayangkan sesuatu, pusing kata orang, pokoknya saat ini aku sedang bahagia, sebahagia bunga di taman pada saat merekah. Setelah satu bulan berkuliah di sana, akhirnya aku dapat mengetahui namanya. Satu langkah menuju ke arahnya.

"Kenapa kamu? Kelihatannya sangat senang." Tanya Yuna.

"Ah? Masa sih? Biasa aja tuh."

"Bohong kamu, ada apa sebenarnya?"

"Tidak ada apa-apa kok." Senyumku.

Entah kenapa aku tidak bisa menceritakan hal ini kepadanya meskipun dia adalah sahabatku. Mungkin, bukan tidak bisa, tetapi belum, belum saatnya dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan aku Yuna.

Hari-hari ku berlalu dengan baik. Aku tinggal di salah satu Asrama bersama dengan puluhan orang yang belum ku kenal satu persatu secara baik. Artinya aku masih belum mampu beradaptasi.

Sudah berkisar seminggu, semenjak kejadian di kelas itu, kami belum pernah bertemu. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya, lalu setelah itu bercakap dengannya, kemudian mengenal lebih dalam tentangnya, bersahabat dengannya. Tetapi semua hal itu harus ku pendam, karena itu tidak akan mungkin terjadi jika aku tidak bertemu dengannya. Lamunanku terpecah oleh bunyi hujan yang turun membasahi bumi, aku langsung saja berlari mengamankan baju yang telah ku jemur dan telah kering agar tidak lagi basah oleh dinginnya air hujan di daerah pegunungan.

Besoknya digantikan oleh mentari yang cerah.

"Aku pergi dulu ya." Aku pamitan kepada teman-teman asramaku. Aku selalu berpikir, aku yang terlalu cepat mengganti pakaian atau mereka yang terlalu lama? Pokoknya, aku tidak mau berlama-lama menunggu mereka. Sebagai mahasiswa semester satu, aku masih takut untuk datang terlambat. Setelah sampai di kampus, aku melihat hal yang mengagetkan. Aku melihat dia, awalnya aku senang melihat dia, tetapi hal itu berubah setelah aku melihat dia bersama seseorang. Oh tidak, hal yang ku khawatirkan selama ini terjadi. Tanpa sengaja aku meneteskan air mataku, menandakan betapa sakit hati ku karena tidak mampu mengatasi hal ini. Aku berlari ke dalam toilet berusaha untuk tegar dan menenangkan diri, aku akan malu ketika orang-orang melihatku menangis. Sebagai seorang mahasiswa, masa iya menangis di depan umum. Untuk itu aku memilih sembunyi di dalam kesunyian. Tanpa sadar aku telah melewatkan satu jam pertama mata kuliah hari ini.

Sebenarnya siapa seseorang itu? Apa hubungan mereka? Apakah mereka tengah menjalin sebuah hubungan? Terus, lagi pula siapa aku? Apa hakku untuk cemburu? Teman bukan, apalagi bukan someone special untuknya. Tetapi tetap saja, aku tidak bisa melihatnya bersama dengan orang lain. Apakah ini yang dinamakan orang dengan jatuh cinta?....

***

Rain and TearsHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin