Ke - Satu

35 4 0
                                        

Selena Gomez - Same Old Love

****

Gadis itu berlari, membelah kerumunan yang mulai membentuk barisan sambil menguatkan pegangan tangannya pada tas ransel yang dia bawa. Tujuannya saat ini hanya menghindari guru yang akan menghukumnya karna terlambat upacara. Sesekali kepala gadis itu menoleh kebelakang memastikan tidak ada guru yang mengejarnya maupun meneriakkinya, rambutnya bergerak seirama kepalanya. Siapapun yang melihat atau dilewati gadis itu selalu berdecak, "Dia lagi, dia lagi. Kenapa gak di d.o aja sih?"

Namun telinganya sekaan tuli, baginya mendapat ijazah di dua tahun terakhir ini sudah cukup. Dan dia akan bebas dari belenggu sekolah, yang membosankan. Dan seakan emngahkimi segala perbuatan yang di lakukan gadis itu.

Dia meletakkan tasnya di sembarang meja lalu menarik resleting tasnya dan mengambil topi dengan almamater terbordir di atas nya. Lagi-lagi gadis itu tertawa saat melihat wajah kesal seorang gadis berambut coklat didepannya, sedang bersidekap dada menghentikan lari gadis itu untuk ke lantai bawah dan mengikuti upacara.

"Bisa gak berangkatnya cepat sedikit?", Adisa memerengut kesal. Mempunyai teman seperti gadis didepannya selalu berujung naik darah. Berulang kali Adisa memperingati gadis itu untuk bangun pagi dan segera berangkat sekolah. Namun, seperti angin yang masuk ke telinga kiri dan keluar telinga kanan, gadis itu tidak menghiraukan ucapannya.

Gadis didepannya senyum tiga jari kemudian menarik tangan Adisa untuk kelantai bawah, "Ini yang terakhir deh. Janji!"

Adisa memutar kedua bolamatanya, "Janji mulu. Pembuktiannya kapan?"

"Ya, besok. Kan gue bilang ini yang terakhir", gadis itu menatap Adisa dengan tatapan memelasnya. Karna merasa ini sia-sia, Adisa hanya mengangguk pasrah megikuti apa mau dari gadis didepannya.

Gadis itu bersorak gembira dengan sebelah tangannya dia angkat keatas dan bersorak, "Hore"

Keduanya menuruni anak tangga dengan cepat saat suara bapak kepala sekolah terdengar nyaring lewat mic. Suara teriakan di ujung koridor membuat dia dan Adisa menoleh cepat ke Pak Sutris yang membawa rotannya, sambil meneriakki murid-murid yang terlambat.

"Margo! Sudah berapa kali bapak bilang kalau pakai topi jangan dibelakangin! Terlambat lagi kamu!!!", Margo mengedikkan bahunya seraya membalik topinya kesamping dan berhenti. Ia berbalik badan dan memerhatikan Pak Sutris yang sedikit lagi sampai ke hadapan mereka.

"Begini pak?", Margo menaikkan tangannya seperti gaya seorang rapper. Pak Sutris sudah akan berteriak lagi, namun terhenti karna Adisa yang memotongnya.

"Jangan teriak-teriak pak, ntar Bu Suci gamau loh!", dan detik itu juga mereka langsung berlari ke lapangan untuk mengikuti upacara alibi mereka menghidari amukan Pak Sutris yang selalu berujung hormat didepan bendera sampai jam pelajaran selesai..

Upacara sudah selesai beberapa menit yang lalu, saat ini semua murid sedang berada didalam kelas mengikuti pelajaran yang berlangusng. Ada yang semangat, bosan, atau tidur, berbagai ekspresi saat pelajaran berlangsung ciri-ciri seorang pelajar. Tak terkecuali Margo yang sibuk mencoret-coret buku tulisnya, pelajaran Pak Tito sungguh membosankan. Siapa yang tidak bosan saat pelajaran sejarah? Mengingat tentang masalalu, bukankah kita harus melihat masa depan tanpa menengok kebelakang? Begitu pemikiran di otak Margo.

Perempuan itu sesekali menoleh ke jam, hari ini adalah hari senin, dan otomatis sekolah tempat margo belajar akan pulang lebih cepat saat hari Senin.

Margi menoleh saat seseorang melemparnya kertas, dia menoleh dan mendapati Adisa yang tersenyum lebar kearahnya. Margo hanya memutar kedua bola mataya bosan, tipe kelas Margo adalah teman sebangku sesuai dengan absen. Dan disamping Margo adalah seorang laki-laki berkacamata, kancing baju teratasnya terkancing, rambut klimis, dan wajahnya lumayan.

Margo WorldOù les histoires vivent. Découvrez maintenant