"Bruk" buku itu dijatuhkannya dengan sengaja, kemudian Ia melebarkan kelopak matanya dan mengarahkan kedua bola mata tajamnya padaku. Dengan sinis ia menyuruhku untuk memungut buku itu. Tak bisa ku sembunyikan keringatku meluncur dengan spontan bak anak ingusan yang sedang bermain perosotan TK padahal posisiku berada di ruangan ber-AC.
Ratu, sang pemilik perusahan ternama yang sangat diagungkan dengan paras malaikat 5% dan sifat setan 95%. Dalam urusan bully mem-bully ia tidak sendiri, di belakangnya ada kacung dan dayang-dayang yang setia menemani. Orang yang dibully itu namanya Sam, ia anak bidikmisi yang berkuliah secara gratis, miskin, tak menarik, menyedihkan dan pantas untuk dibully. Kabar buruknya, Sam itu adalah aku. Memang sulit menjalani hidup di tanah orang, dengan kemiskinan, dan keculunan maksimal, sungguh sasaran empuk bagi para setan yang menganggap diri mereka bangsawan.
Bully sudah menjadi sarapan dan makan siangku setiap hari, walau terlalu kenyang aku tak bisa memuntahkannya begitu saja. Aku terpaksa menelannya bulat-bulat, tidak ada sedikit pun kekuatan untuk menolak. Sedikit saja berontak, bidikmisiku bisa terancam, semuanya akan menjadi lebih buruk. Harga diriku sudah lama melayang entah ke mana. Teman? seprtinya di universitas ini tidak ada yang namanya pertemanan, semua hubungan berbentuk kepura-puraan. Kalau pun ada pertemanan, kemungkinan 0% yang mau menjadi temanku. Sedih memang tapi yasudah lah, yang kubutuhkan hanyalah bertahan, bertahan, dan bertahan. Bagiku menyendiri 1 jam itu 1000 kali lebih menyenangkan dibandingkan duduk dikelas walau hanya 1 menit.
Ada satu tempat yang bisa membuatku lebih kuat, tempatku menyendiri, menangisi diri sendiri. Bukit Kokosan, bukit hijau dengan pemandangan super indah, udara sejuk, suasana sunyi senyap, dan jika hujan pasti tempat ini berselimut kabut. Di bukit ini ada menara kecil terbuat dari beton dengan arsitektur Belanda dan beberapa anak tangga, dari puncak menara ini aku bisa melihat pegunungan, pedesaan, dan rumah masa depanku (pemakaman umum).
Tempat ini selalu sepi, tidak banyak orang yang berani menginjakkan kaki mereka di bukit ini. Bukit Kokosan memang terkenal angker, tapi persetan dengan semua itu, aku bukan tipe orang yang penakut. Lagi pula, tempat ini membuatku nyaman, lebih sepi lebih baik.
Sore ini, seperti biasa setelah aku mendapat sarapan, makan siang, dan mata kuliah, Bukit Kokosan menjadi tujuanku sebelum pulang ke asrama. Jaraknya lumayan jauh dari kampusku, namun aku tak pernah memperdulikan hal itu. Lagi pula, pemandangan yang asri masih terhampar di sepanjang perjalanan. Di bukit itu, biasanya aku tertegun melamun merasakan angin gunung, meratapi nasib, menggunjing, dan mengutuk orang-orang yang menginjakku, semacam mengibur diri.
Sore itu berbeda, ketika aku sedang merenung, di tengah kesepian itu "tap tap tap" suara langkah kaki tiba-tiba memecah tempurung yang mengurung diriku. Aku menoleh dan ternyata sesosok lelaki, sepertinya ia lebih tua dariku dengan tubuh tinggi kurus. Kulitnya berwarna coklat matang dengan muka yang lusuh dan baju yang ia pakai terlihat aneh untuk seukuran anak muda zaman sekarang. Ia tampak seperti orang yang mengendrai mesin waktu dari tahun 40an dan tiba tepat di belakangku di abad ke-21. Sedetik kemuadian ia mengulurkan tangannya padaku, ia mengatakan sepotong nama "Hidayat" sambil tersenyum. Aku terpaku, selama ini belum pernah ada orang yang ingin berkenalan denganku. Dengan sedikit berhati-hati aku menyambut tangannya dan memperkenalkan namaku "Sam".
Bersambung...
YOU ARE READING
Hidayat
Mystery / ThrillerKemerdekaan Indonesia yang kita rasakan saat ini tidak didapat begitu saja, di balik berkibarnya merah putih tersimpan cerita pilu, semua ini tak lepas dari perjuangan para pahlawan.
