Prolog.

71 4 0
                                        

Ketika hal-hal buruk terjadi pada hidupku, aku berfikir bahwa hal-hal tersebut adalah suatu awalan baru. Suatu permulaan dari—hopefully—sebuah jalan cerita kehidupan yang lebih baik. Aku berusaha untuk melihat pelangi dibalik badai, a silver lining. Titik cerah dari masalahku. Bahkan ketika titik cerah itupun tidak ada, aku akan tetap mencarinya like it's a child that I lost.

Aku selalu beranggapan bahwa setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Anything is questionable. But apparently, not every question has an answer. Misalkan;

Aku menyerah mencari jawaban dari kepergianmu.

Kau bahkan tidak mengabariku selama berhari-hari. Menit-menit berlalu begitu lambat tanpamu. Disaat aku merindukanmu, kau tak pernah datang. Dan disaat aku akan berkata 'aku mencintaimu', pesan darimu berkata lain.

Mia
I believe, we're done.

Aku tak mengerti mengapa kau tega meninggalkanku. And you did it via text. Apakah kau memikirkan perasaanku pada saat itu? Mungkin tidak. Mungkin pula aku terlalu berharap padamu; kau bisa jadi lebih baik. Itulah prinsip yang selalu aku pegang. Kau pasti akan berubah.

Tapi kenyataannya kau tetap seorang yang brengsek.

You are a jerk and you know it.

Aku juga lelah. Selama ini kukejar bayanganmu, berharap kau akan mengubah pikiranmu dan kita akan bahagia kembali. But I've had enough. Cukuplah perjuangan payah yang tidak berbuah hasil ini berhenti disini. Dan mungkin aku seharusnya tidak pernah mencintaimu.

Selamat tinggal.
Mungkin selamanya.

-Mia.

After YouWhere stories live. Discover now