Suatu malam Jiwon tidak bisa tidur dengan nyenyak. Benar matanya tertutup akan tetapi Ia belum sepenuhnya masuk ke dalam alam bawah sadar tidurnya. Dadanya terasa sesak dan perasaannya tiba-tiba di rundung kecemasan. Ia pun memegangi dadanya yang terasa sesak tersebut. Berharap rasa itu akan segera reda seiring berjalannya waktu akan tetapi sampai 30 menit berikutnya Ia tetap merasakan hal yang sama. Terlihat jelas bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Fikirannya bercampur aduk entah kenapa. Ia kemudian membuka kelopak matanya.
Gelap. Sunyi. Hanya ada suara deru nafas teman sekamarnya yakni Hanbin dan Jinhwan yang sudah tertidur pulas.
Tangan Jiwon meraba-raba mencari handphone miliknya yang Ia letakkan di samping bantal tempat tidurnya. Setelah menemukan benda berbentuk persegi itu lalu Ia menyingkap selimut hangatnya dan beranjak pergi dari tempat tidurnya. Beruntung saat itu ruangan tempat tidurnya masih terkena temaran cahaya yang berasal dari lampu jalanan di luar sehingga Ia bisa berjalan keluar kamarnya tanpa menyalakan lampu yang akan berujung mengganggu teman satu kamarnya yakni Hanbin dan Jinhwan yang sudah tertidur pulas.
Jiwon menyalakan lampu di bagian dapur dan ruang makan. Ia langsung menghampiri kulkas dan meneguk beberapa gelas air putih. Lalu Ia duduk sendirian di ruangan makan. Ia mengambil handphone dari saku celananya, menekan Dial No 1 yakni nomor telfon ibunya. Entah kenapa saat itu yang terlintas di fikirannya adalah Ibunya, mungkin masukan dari ibunya dapat meringkankan bebannya saat ini.
Tuttt... Tuuttt.. Tuttt.. Nomor yang anda tuju tidak menjawab panggilan anda. Silahkan tekan 1 untuk pesan suara.
Sudah puluhan kali Jiwon mencoba menelfon ibunya. Ia menarik nafas panjang. Matanya terpejam selama beberapa detik. Lalu Ia menekan Dial No 2 yakni nomor telfon kakaknya Jisung. Wajahnya kini terlihat khawatir dan cemas menunggu jawaban dari kakaknya di ujung telfonnya.
Tuttt... Tuuttt.. Tuttt.. Nomor yang anda tuju tidak menjawab panggilan anda. Silahkan tekan 1 untuk pesan suara.
Melihat telfonnya tidak di jawab oleh kakaknya Jisung beserta Ibunya. Jiwon menundukkan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Cukup lama Ia dalam posisi seperti itu, fikirannya sekarang sudah melayang kemana-mana. Tak seperti biasanya, Ibu dan Kakaknya tidak menjawab telfonnya secara bersamaan seperti ini. Meskipun mereka sibuk pasti salah satu dari mereka selalu menjawab telfon darinya walau hanya untuk berbincang singkat menanyakan kabar satu sama lain.
Tanpa disadari air mata Jiwon sudah mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa rindu kepada keluarganya yang kini tinggal jauh darinya membuat Ia kadang ingin menyerah dengan semua keadaan yang sekarang ini Ia alami, tapi tak semudah itu bagi seorang Kim Jiwon untuk memutuskan berhenti begitu saja. Banyak hal yang harus dipertimbangkan olehnya secara sungguh-sungguh. Ia selalu teringat bagaimana keadaan keluarganya sekarang yang sedang mengalami krisis ekonomi. Ia juga tidak mungkin bergantung kepada kakaknya, karena kakaknya hanya bekerja di sebuah perusahaan kontruksi yang baru saja masuk beberapa bulan yang lalu.
Bayang-bayang kedua orang tuanya yang bekerja sangat keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat Jiwon masih tinggal di Amerika dulu membuatnya bertekad kuat untuk menggapai impiannya sebagai seorang penyanyi. Beruntung setelah lulus Sekolah Menengah Pertama Ia lolos audisi meyanyi di New York yang di adakan oleh salah satu perusahaan entertaiment yang menaungi artis-artis ternama di Korea Selatan. Ia tidak menyangka sama sekali dapat lolos dan segera akan mengikuti masa training di kampung halaman kedua orang tuanya dulu itu. Seminggu setelah dinyatakan lolos Ia harus langsung terbang dari Virginia, USA menuju ke Seoul, Korea Selatan untuk menjalani masa training. Secara tidak langsung Ia juga harus menerima kenyataan pahit yakni harus berpisah jauh dari kedua orang tuanya yang semenjak dari Ia terlahir selalu bersama-sama. Apalagi saat itu Jiwon sebatang kara hidup di Korea Selatan tanpa mengetahui siapa kerabat dan saudaranya.
15 menit kemudian, Jinhwan terbangun karena mendengar suara isak tangis yang samar-samar masuk dalam lubang telinganya. Saat Ia keluar dari kamarnya, matanya samar-samar menangkap cahaya terang dari ruang makan dan isak tangis yang Ia dengar juga semakin jelas berasal dari sana. Lalu Ia berjalan dengan hati-hati menuju sumber suara tersebut dan betapa terkejutnya Jinhwan saat melihat roomate-nya Jiwon sedang menangis menunduk dengan tangannya menggenggam erat sebuah handphone.
Badan Jinhwan tiba-tiba membeku seperti es saat melihat teman seperjuangannya sedang menangis sendirian seperti itu. Matanya berkaca-kaca dan sedetik kemudian seperti ada magnet yang menariknya untuk segera menghampiri Jiwon. Ia memeluk punggung Jiwon dan tanpa sadar ikut menangis tanpa sebab.
"Jiwona, kau kenapa? kenapa kau menangis? kumohon berhentilah menangis!" seru Jinhwan lirih dengan diiringi isak tangis
Saat Jiwon sadar akan keberadaan Jinhwan. Ia lalu menghapus air matanya. Jiwon yang kesehariannya ceria dihadapan teman-temannya, kini dengan keadaanya yang sekarang tidak ingin membuat teman-temannya merasa khawatir termasuk seorang Jinhwan yang sudah dianggap oleh Jiwon seperti kakaknya sendiri. Tangan Jinhwan yang sebelumnya memeluk punggung Jiwon kini melepaskan pelukannya dan membuat Jiwon menoleh kebelakang memastikan suara seseorang tersebut adalah benar Jinhwan.
"Ooh.. Jinhwan Hyung. Ah aku tidak sedang menangis. Apa aku terlihat seperti orang yang sedang menangis?"
Jinhwan lalu duduk di kursi kosong yang berada tepat sebelah Jiwon. Jinhwan menghapus sisa air matanya, Ia memandang Jiwon dengan tatapan "kau masih saja bisa tersenyum saat dirimu terlihat sangat menyedihkan seperti ini, Jiwona"
"kedua matamu takkan bisa berbohong Jiwona, semua terlihat sangat jelas. Ceritakan apa yang membuatmu menangis seperti itu? Apa gara-gara kejadian tadi di ruang training membuatmu sedih seperi itu? atau kau sedang merindukan ibumu?"
