Sebuah turbulensi ringan kurasakan dari tas coklat yang tersampir dibahu, sukses mengembalikan seluruh eksistensiku kedunia nyata. Well..sedari tadi aku terlalu menyelami sebuah novel berjudul The Lord of the Rings.. adalah salah satu karya sastra yang paling banyak dibaca dan sangat berpengaruh sepanjang masa. Diterbitkan pada tahun 1954 ,The Lord of the Rings menceritakan petulangan penyihir Gandalf dan seorang hobbit muda bernama Frodo Baggins dalam sebuah perjalanan yang sangat berbahaya untuk menghancurkan sebuah cincin
misterius. Cerita yang penuh petualangan, dan aku suka itu.
Tak ingin membuat sang penelepon menunggu terlalu lama, segera kurogoh benda tipis penuh arti itu dari dalam tas.
"Yeobuseyeo..Eomma?."
"Aku?aku masih ditoko buku..Wae?."
"Ah tidak! Tidak. Tak perlu menjemputku! Meski aku tak yakin bisa datang segera, tapi aku usahakan datang secepat yang aku bisa. Kirimkan saja alamat restorannya. Aku segera kesana."
Terpaksa aku harus menghentikan kegiatan membacaku ini. Segera kurapikan kembali buku-buku yang telah kubaca. Dan hal yang pertama kali menyapaku diluar toko buku adalah hujan. Cukup deras memang tapi apa boleh buat, aku harus tetap pergi tak ingin membuat Ayah ibuku menunggu terlalu lama.
Berbekal sebuah payung transparan, aku berjalan cepat menerjang derasnya guyuran air hujan menuju halte bus yang letaknya memang tak seberapa jauh. Dingin, tak ada mantel hangat yang melekat ditubuhku saat ini. Dan demi Eomma dan Appa aku rela mengesampingkan hawa dingin yang kian menusuk ini.
Kondisi jalanan yang lenggang nan sepi pengunjung ini sangat memudahkanku.Jika biasanya, aku harus rela berdesak-desakan dari halte hingga didalam bus sekalipun..kini aku bisa duduk nyaman dengan leluasa didalam bus. Hujan membuat segalanya begitu mudah dan sulit dalam waktu yang bersamaan.
Langit tak kunjung berhenti menangis bahkan hingga aku tiba disebuah restoran itali yang Eomma maksudkan. Aneh memang, tak biasanya Eomma dan Appa mengajakku makan diluar tiba-tiba apalagi disebuah restoran bergenre itali seperti ini. Jujur saja, aku tak begitu suka dengan makanan itali.
Segenap hati kulangkahkan kakiku memasuki restoran itu. Kedatanganku disambut baik oleh semua pelayan yang ada disana. Mereka membungkukkan badan sopan seolah kedatanganku adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi mereka. Hal itu tak pelak membuatku mati gaya. Aku hanya mampu ikut membungkuk lantas tersenyum sebagai balasan. Salah satu dari mereka datang menghampiriku.
"Selamat datang Nona Hyena. Mari saya antar." Tutur pelayan itu sopan seraya berjalan mendahuluiku. Mungkin Eomma dan Appa sudah membooking restoran ini sehingga mereka begitu ramah padaku dan memperlakukanku bak seorang putri. Setidaknya hanya itu yang ada dipikiranku saat ini.
Setelah menuruni beberapa anak tangga sang pelayan kembali membungkukkan badannya sembari tersenyum lantas berlalu begitu saja. Dan setelah itu,aku yang dibuat tercengang hanya mampu mematung.
"Kau datang Na-ya? Kemarilah kami sudah menunggumu sejak tadi."
Eomma berseru lembut menyuruhku mendekat padanya. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja yang cukup besar. Tak hanya Eomma dan Appa, disana ada satu lagi pasangan suami istri yang juga tengah tersenyum lembut padaku. Ditambah satu lagi pria asing bersetelan jas hitam Calvin klein yang menatap tajam padaku. Ughh kurasa tatapannya bisa saja membolongi kedua bola mataku jika aku terus balas menatapnya.
"Dia-kah putrimu Jae Hyun-ahh? Sungguh manis sekali."Kini ucapan seorang pria paruh baya yang memanggil Appa membuatku semakin mati kutu.
Dan dengan ini. Aku, Jung Hyena berpenampilan sangat konyol dihadapan mereka yang bahkan berpakaian resmi. Dengan dress biru pudar diatas lutut yang kebesaran ditubuh kurusku, rambut ikal yang sengaja aku kepang dua dan kini telah berantakan, boots hitam dengan kaus kaki abu-abu didalamnya, juga jangan lupakan tas selempang berwarna coklat dan payung transparan basah yang masih dipegang tangan kananku. Aku. Jung Hyena tersenyum bodoh layaknya bocah ingusan usia lima tahun yang telah lama tak bertemu orang tuanya.
Kesimpulannya...
Saat ini Aku sangat memalukan!
YOU ARE READING
My Mr.Oh
FanfictionBerharap semua ini hanya bualan atau lelucon semata. Naas, takdir tak sebaik itu untuk mengabulkannya. Terlebih mengingat dua orang terkasih yang sangat menginginkan pernikahan ini terjadi. Mematahkan setiap penyangkalan yang coba dilakukan, menuntu...
