Karena kelasku adalah keajaiban dunia yang belum tercatat Sejarah, tetapi, akan selalu tersemat dalam history otakku.
.
.
.
Aku tersenyum dan melambai ke arah Bang Azka yang pagi ini mengantarku. Biasanya aku selalu di antar Papa kalau sedang tidak sibuk. Tapi, berhubung Mama dan Papa harus pergi shubuh-shubuh tadi, aku terpaksa berangkat sekolah dengan Bang Azka.
"Pagi, cantik."
"Pagi, Aviva."
"Pagi, adek cantik gue!"
"Makin cantik aja lu pagi-pagi dek."
Dan, masih banyak kata-kata menyebalkan yang keluar dari mulut teman-teman seangkatanku atau seniorku. Mereka akan selalu mengucapkan kata-kata itu ketika melihat aku muncul di gerbang. Seolah aku ini adalah seorang putri yang kecantikannya baru terlihat.
"Morning, Va," sapa Kak Elana-sekretaris umum OSIS-saat aku sedang tersenyum meladeni keusilan anak laki-laki yang merupakan seniorku. Jika saja di sekolah ini tidak ada aturan, aku bersedia melempar mereka dengan jumroh, atau memasukkan mereka ke dalam lubang semut.
"Morning too, Kak," aku tersenyum ramah ketika melihat Kak Elana mendekat ke arahku, ini tidak terlalu buruk. Aku memang sudah hamper tiap hari akan berpapasan dengan Kak Elana. Mungkin jam alarm kami disetel dengan waktu yang sama.
"Kemarin si Saddam ada sms, lo?" tanya cewek cantik di sampingku. Elana Fatimah. Si sekretaris itu emang cantik. Nggak salah kalau dari tadi semua siswa laki-laki menyebutkan namanya kemudian bersiul. Eh, tidak hanya nama Elana, mereka juga menyebut namaku.
"Nggak ada, Kak. Seingat gue kemarin notification handphone Cuma penuh sama fans gaje-gaje gue, deh," kataku mengingat-ngingat semua pemberitahuan yang kemarin malam masuk ke dalam handphoneku.
"Dasar kunyuk!" Elana menggepalkan tangannya di depan dada. Terlihat kesal dengan kelakuan sang ketua OSIS. "Kita ada rapat istirahat kedua, langsung ke ruangan OSIS, ya. Ouh! Nyesel gue beliin Saddam pulsa, katanya mau nge-sms-in semua anak OSIS, nggak tahunya anggota sepenting lo nggak dapat kabar, emang pulsa seratus ribu kemarin malam dia pake buat apa, sih?"
"Masih pagi, Kak. Jangan ngomel," Aku berusaha menahan tawaku ketika melihat wajah emosi Elana. "Lagian, baik amat sama Kak Saddam, pake acara di isiin pulsa segala! Seratus ribu pula lagi!" kataku tampa sengaja memperpanas suasana.
"Niatnya gue nyuruh dia buat nge-sms-in anak-anak OSIS, soalnya hape gue lagi koma di rumah sakit," jawab Kak Elana ngawur. Wah, kesempatan bikin suasana makin ngawur, nih.
"Sakit apaan hape lo, Kak?" tanyaku sambil meredam tawa yang sudah diujung bibir. Jika ada yang menepuk bahu atau punggungku, yakinlah, aku pasti sudah mati tertawa.
"Kemarin abis operasi connector charger, katanya pas kecelakaan connector charger-nya patah, kepaksa di operasi, deh," katanya lebih ngawur dari pada biasanya. Eh, itu sebenarnya nggak ngawur-ngawur amat, deh.
"Yaudah, deh. Gue ke kelas duluan, ya Kak. GWS buat hape lo," jataku sambil tersenyum dan berlari menjauhi Elana, atau berlari menuju kelasku.
"Jangan lupa istirahat kedua kita rapat!" teriaknya lalu kuhadiahi anggukan dan jariku sengaja membentuk huruf O.
Aku kembali berjalan biasa ketika banyak pasang mata melihatku. Ini risih sebenarnya, siapa yang tidak risih coba?
Seluruh pasak mata di sekeliling lo ngeliatin lo seolah lo adalah daging segar dan mereka adalah harimau yang seabad nggak makan.
"Pagi, My Classmate," aku menoleh ke samping dan melihat Raffa sedang menjual deretan giginya yang rapih.
"Dunia belom mau kiamat, kan? Tumben amat lo jam segini dateng?" aku melirik jam tangan, memastikan jam berapa ini sebenarnya. Jadi, aku bisa tahu, yang datang cepat itu Raffa atau aku yang datangnya telat amat.
YOU ARE READING
Confused Girl
Teen Fiction[Belum Revisi] The Alayers Series (1) : Aviva Angelia Canavaro. Bukankah 'menikung' sahabat sendiri adalah sebuah kesalahan? Bahwa, sekalipun kita bahagia, kita tak pernah benar-benar bahagia. Karena dasarnya, bahagia yang kita dapat, hasil dari cur...
