7

114 3 0
                                        

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Anak-anak sudah berlalu lalang menuju kelasnya masing-masing. Aku melihat kearah lapangan basket sudah ada beberapa anak yang sedang menyiapkan properti untuk upacara hari Senin. Kemudian aku melihat ke arah lurus, dan Olive sudah tersenyum kearahku sambil melambaikan tangan.

"Kaila!" Olive berjalan cepat kearahku sambil sesekali merapikan rambutnya.

"Kaila, lo mesti tau!" teriak Olive. Orang-orang yang berada didekat kami melihat Olive dengan risih.
"Olive, Jangan kenceng-kenceng ah berisik. apaan ?"

"Gue senang sesenang senang senang bangetttt! Andrew seminggu lagi mau dateng! aaaaaa!" Mendengar suara Olive super duper ribut, tanpa babibu aku langsung menutup mulut Olive.

"Lo ? ih gue malu disebelah lo. jauh-jauh gih sana!"
"Gak. gue mau deket-deket lo" Olive memelukku gemas karena terlalu senang mendapat kabar bahwa Andrew mau datang ke Indonesia.
"Gue gak sabar deh. gue mau jemput Andrew pakai baju apa ya? Aduh gue gak punya baju! gue mesti beli baju..$€\^{!_¥[+]•'&$(?"

Dari arah yang berlawanan aku melihat Gavyn berjalan bersama.. Maura? Ya itu Maura. Maura adalah salah satu cewek yang terkenal di sekolahku. Dia seorang model majalah remaja yang terkenal dan juga anggota cheerleader. Mereka berjalan berdua sambil mengobrol akrab. Mereka saling kenal? ,pikirku. Tiba-tiba Gavyn melihat kearahku. Zig. Lalu ia memalingkan wajahnya dan menatap Maura kembali yang masih berbicara.

Flashback

"Di sekolah anggap aja kita gak saling kenal." Ucap Gavyn sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Idih siapa juga yang mau kenal lo." Ucapku sebal. Aku meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Tante Ane. Gavyn terdiam dan hanya menatap lurus seperti memikirkan sesuatu.
"Bagus kalo gitu." Gavyn mengeluarkan sepatah kata dan kemudian berjalan meninggalkanku.

Aku menghela nafas berat.

"KAILA FREDELLA!" teriak Olive yang berada tepat disebelahku. aku kaget dan spontan mengusap-usap telingaku. "Gue ngomong sama lo. Lo dari tadi denger gak apa yang gue omongin?" Aku hanya menatap Olive bingung kemudian menggeleng sambil nyengir kuda. "Gak. Emangnya lo ngomong apa?"

"Tuh kan?! lo ngeliatin ap..." Olive melihat kearah Gavyn dan Maura yang sedang mengobrol depan mading sambil tertawa. Sebenarnya hanya Maura yang terlihat begitu antusias tertawa sedangkan Gavyn hanya tersenyum samar. "La, itu kan Maura sama anak baru itu ya? kok mereka bisa kenal gitu. bukannya 5 hari berturut-turut Maura gak masuk ya. Kok bisa kenal? mana deket lagi. Wah bisa jadi berita ini sih."

"Udah yuk, kita kekelas. bentar lagi upacara mau mulai. ngapain sih ngurusin hidup orang yang gak ada hubungannya sama kita" ucapku sambil menarik lengan Olive.

Upacara pagi ini berasa lama banget. Sinar matahari yang menyengat sangat menusuk kulit dan membuat pori-pori ditubuh terbuka dan mengeluarkan keringat. 35 menit berlalu, Upacara selesai dan bagian ternikmat dari yang ternikmat adalah disambut dengan pelajaran matematika yang tidak kalah membuat berkeringat. bukan karena sengatan matahari tetapi karena rumus-rumus yang menguras otak.

Suara bel istirahat adalah salah satu syurga dunia bagi murid. Beberapa teman sekelasku yang menunggu-nunggu hal itu kontan berteriak senang setelah terdengar suara bel. Pak Guru yang mengerti hal itu, mau tidak mau memberhentikan pembantaian.. eh mengajarnya. Aku, Olivia, Tari, Monica dan Dara berjalan menuju kantin.
"Guys, kalian duluan aja ya soalnya gue mau keperpus bentar. Ada buku yang mau gue pinjem. " Ucapku pada mereka. Mereka mengiyakan dan berjalan lurus ke kantin sedangkan aku menuju kearah perpustakaan.

Perpustakaan lumayan sepi hanya beberapa anak-anak yang.. yah notabenenya anak kutu buku. Sebenarnya aku salah satu anak yang suka membaca tetapi aku tetap bersosialisasi kepada yang lain. Aku menuju ke lorong buku tentang sastra. Saat ini aku sedang tertarik dengan sastra. Aku melihat beberapa judul buku yang cukup lumayan menarik untukku. "Bumi Manusia?" Aku membaca judulnya dan mengambil buku itu. Aku melihat sosok cowok yang kebetulan mengambil sebuah buku juga dari rak sebelah sehingga ada lubang yang membuat kita saling melihat satu sama lain.

Gavyn.

****

Kaila.

Kami hanya saling menatap. Aku ingin menyapanya tetapi ada sesuatu yang mengganjal jadi aku hanya mampu melihatnya. Aku tidak ingin seluruh sekolah tahu bahwa ada benang merah antara aku dan Kaila.

"Kaila?"

Terdengar suara seorang cowok memanggilnya. Aku tidak bisa melihat siapa lelaki tersebut. Kaila berbalik melihat siapa yang menyapanya. kemudian ia tersenyum dan berjalan menghampiri lelaki itu. Aku segera pergi dari tempat itu dan menghampiri Wira yang sedang asyik membuka web di komputer.

"Cabut yuk! gue udah dapet bukunya." Ucapku ke Wira.
"Oke, bentar-bentar gue print dulu." Selagi Wira mencetak materinya, aku mengambil kesempatan untuk mendaftarkan diri di perpustakaan agar lebih mudah meminjam buku. Kemudian Kaila muncul bersama Agra. Jadi yang menyapa tadi adalah dia?, pikirku. Aku tidak memperhatikannya lagi dan kemudian mereka berlalu.

Dikantin, William dan yang lain sedang duduk sambil bercanda-canda. Mereka duduk ditempat biasa, dipojokkan dan dekat dengan dagang siomay.
"Ini dia nih yang jadi bahan gosip anak-anak sekolah." ucap Sam. Aku dan Wira yang baru saja duduk heran mendengar ucapan Sam. Sedangkan William, Aldo, Gino, Deny dan Damar hanya cekikikan.
"Ada apa nih?" tanya Wira.
"Ini nih si anak baru buat heboh sekolah." celetuk Gino.
"Gue?" tanyaku heran.
"Udah jangan serius gitu deh muka lo. cuma gosip gini. selow ajalah." Deny yang sedari tadi memakan siomaynya angkat bicara.
"Gosip? Maksudnya apaan?" tanyaku penasaran.
"Jelasin, Gin." ucap Deny melanjutkan makan siomaynya. Gino yang sedang meminum es teh kemudian meletakkan gelasnya. "Tadi gue denger katanya lo ngobrol sama si Maura. emang bener?" tanya Gino. "Kalo emang bener sih gak apa-apa lo cocok gini kok." celetuk Damar.
Maura? Gosip?. Aku kemudian tertawa dan menggeleng-geleng.

"Hei. Gue boleh gabung gak?"
Kita semua menoleh kearah sumber suara. Maura. Maura datang dengan membawa minuman botol dan beberapa snack.
"Oh boleh kok. Duduk disini deket Aa." Damar bergeser memberi jarak agar Maura bisa duduk.
"Yaelah,Dam. Maura mau duduk deket sama Gavynlah masa sama lo? yang ada ntar lo dikira keset kakinya Maura." Yang lain tertawa mendengar ucapan Sam.

"Duduk disini nih biar ntar gue ambil bangku lagi." ucap William yang berada duduk disebelahku. Maura duduk dan menawari yang lain snack yang dibawanya.
"Lo kenal sama Gavyn dimana, Ra?" tanya Wira.
"Dulu gue sama Gavyn satu SD. jadi, gue udah lama banget kenal sama dia." jelas Maura. "Vyn, gosip anak-anak jangan di dengerin yah. Mereka emang suka gitu. Padahal kita cuma ngobrol bentar eh seluruh sekolah langsung gosipin."

Aku tersenyum. "Trus dengan adanya lo disini ngga ngebuat anak-anak tambah menyangka kalo kita ini ada apa-apa?"

Maura dan yang lain kemudian terdiam. Aku dengan cuek melanjutkan meminum es jeruk yang sedari tadi kupesan.

"Udah sih omongan anak-anak jangan dipikirin. Lagian kalian kan emang teman satu SD kan ?"ucap William mencairkan.

Ada rasa khawatir dalam pikiranku. Aku bukannya tidak suka dengan Maura, tetapi Maura pasti tahu apa masalah yang terjadi padaku, alasanku pindah ke Amerika dan mamaku yang selingkuh dengan pria lain. Maura adalah teman SD sekaligus tetangga komplek rumahku dulu. Dia bisa menjadi boomerang yang bisa kapan saja membongkar semua rahasia dan merobohkan pagar pertahananku. Aku tidak ingin kehidupan pribadiku serta keluarga diketahui oleh teman-temanku. Entah mengapa aku tidak nyaman mereka tau apa sebenarnya terjadi. Aku memperhatikan Maura yang sedang bercanda dengan William dan yang lain. Maura melihat kearahku dan tersenyum penuh arti.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 25, 2015 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KAILAWhere stories live. Discover now