Bukan Kencan (Repost)

19 0 0
                                        

Akhir minggu ini, masih di iringi dengan jatuhnya air hujan. Empat hari berturut - turut, aku datang ke sekolah dengan menggunakan mobil. Dengan setelan seragam yang sama, serta jaket jumper dan beanie.

Ku kendarai mobil hitam milik Papa di jalan raya yang beberapa bulan lagi genap tiga tahun ku lewati. Tidak terlalu banyak kendaraan pagi ini. Maklum, jarum jam baru menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Kepala ku menengok ke sebelah kiri. Melihat seorang Ibu dan anaknya sedang berteduh di halte sambil membawa payung dan tangannya yang lain merengkuh hangat pundak anak laki - lakinya. Bibir ku menyunggingkan senyum. Miris.

"Andai itu aku," lirihku yang kembali menjalankan mobilku. Terlepas dari detik lampu merah, aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tujuan ku, hanya ingin cepat sampai di sekolah. Pergi ke perpustakaan dan tidur.

----

Nafasku sedikit terengah karena berlari melawan hujan dari tempat parkir menuju ke lobi. Poni depan ku sedikit basah akibat hujan. Beanie dan jaket yang ku kenakan juga sama. Tapi ada sesuatu yang menyita perhatian ku. Ada mobil mewah yang terparkir dengan sembarang tepat di depan lobi sekolah.

"Bukan punya guru deh kayanya." Lirihku sendiri.

Ku bawa langkah ku menuju ruang dalam sekolah. Semakin melangkah ke dalam, aku mendengar pertengkaran kecil. Antara Kakak dan Adik.

"Kok Kakak nggak ajak Amara sih ?" bentak gadis itu. Amara ?

"Ini urusan kantor dek." Elak laki - laki yang ku yakini adalah Kakaknya.

"Hmmm. Cepat pulang. Jangan lama - lama di Jerman Kak. Amara sendirian." Lirih gadis itu. Senyuman manis tersungging di bibir laki - laki yang di panggil 'Kakak'.

"Okay. I'm promise. Sekarang, adek Kakak harus sekolah yang pintar. Belajarnya lebih giat. Jangan lupa jaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Pakai ini, biar lebih hangat. Di luar hujan." Kata laki - laki tersebut sambil menyodorkan jaket rajut, beanie, dan sarung tangan. "Kakak pergi," pamitnya sambil mencium kening Adiknya dengan sayang.

----

Setelah kepergian Kakaknya, aku mengikuti langkah gadis yang selama ini berhasil menyita perhatian ku. Amara Cassionella Jacob. Dan laki - laki itu, pasti Arka.

Ia melempar sembarang jaket rajut, beanie, dan sarung tangannya. Kemudian ia berlari melewati lorong, menaiki puluhan anak tangga, arah menuju atap sekolah.

Dengan cepat aku mengambil barang yang di lemparkannya, lalu berlari menyusulnya.

Tiba di atap, aku cukup lega. Karena hujan mulai reda dan hanya menyisakan rintikan ringan serta udara yang dingin.

Aku mendekat ke tempatnya berdiri. Tubuhnya bergetar. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Dia menangis ? Kenapa ?

"Pakai nih. Disini anginnya kencang. Dingin." Ucapku dengan jantung yang bergetar hebat. Ku sampirkan jaket rajut berwarna merah maroon di punggungnya. Sebenarnya, ia sudah memakai jas almamater sekolah. Aku juga memakainya sekarang. Tapi udara sangat dingin yang membuat ku menambahkan jaket jumper di bagian luar.

Ia membalikkan tubuhnya tepat saat angin bertiup kencang. Rambut panjang lurusnya terbang dan menutupi sebagian wajahnya. Mempesona. Dengan cepat, ia merapikan rambutnya yang berantakan. Kepalanya menunduk, pundaknya masih bergetar. Aku merasa sedikit aneh dengan Amara pagi ini. Mungkin tidak aneh karena aku tidak tahu perasaannya yang sebenarnya.

"Pakai beanienya juga. Nanti pusing. Kan masih gerimis."  Kataku sambil memakaikan beanie berwarna coklat muda di kepalanya. Lalu merapikan sedikit rambut hitamnya. Cantik. Dia sangat cantik jika di lihat dari dekat. Dia cantik, meskipun saat menangis.

"Hei," panggilku. Dia tidak menjawab. Tangannya terangkat, membekap mulutnya sendiri. Aku tahu, dia takut lepas kontrol saat menangis. "Lihat aku! Please!" Ucapku. Dia mendongak. Matanya merah penuh air mata, pipinya lembab, dan hidungnya memerah.

"Kenapa ?" tanyaku. Kedua telapak tangan ku membekap kedua pipinya. Ia diam menatapku. Tapi air mata itu terus jatuh. Memangnya Kak Arka pergi kemana ?

Kepalanya menggeleng. "Onard kan ?" tanyanya. Aku mengangguk. Ia melepas dekapan tangan ku di sisi pipinya. Tangannya terangkat menghapus sisa - sisa air mata di pipi serta matanya.

"Ngapain disini ?" tanyanya sambil tersenyum.

Seperti tersengat aliran listrik, aku diam. Memandang senyuman yang di berikan olehnya.

"Ngikutin lo," jawabku gugup. Ia terkekeh. Lalu mengangguk.

"Gue sendirian bulan ini." Ucapnya tertawa.

Aku mengangkat sebelah alis ku. "Maksud lo ?" bingung ? Tentu saja.

"Hmmm gapapa kok, Nard!" Jawabnya menggeleng sambil tersenyum.

"Ke kafe yuk!" Ajakku. Dia menggeleng.

"Disini aja. Disini lebih nyaman," ujarnya membuat ku diam. Nada suaranya kembali berubah. Terdengar sedih.

"Disini dingin, Ar. Lo nggak ingat ucapan Kakak lo ? Kan lo harus tetap sehat. Gak boleh sakit." Bujukku. Dia tertawa kecil. Lalu mengangguk sambil tersenyum.

"Gue tahu." Singkatnya.

"Yaudah, ayo!" Ajakku sedikit 'memaksa'. Ahhhh... Ini bukan Onard.

"Lo yang traktir ?" tanyanya. Aku tersenyum, lalu mengangguk. Ia pun tersenyum senang. Lalu menyambar lenganku. Dan kami pergi menuju kafe yang berada di dekat sekolah.

Ini pertama kalinya setelah dua tahun aku memendam rasa. Pertama kali bisa memperhatikan dia, pertama kali bisa melihatnya lebih dekat, dan pertama kali berbagi canda dengannya.

Aku senang karena gadis pujaan ku tersenyum hari ini. Hujan dan senyumnya, menurutku itu adalah hal terindah.

Sorry guys gue post lagi. Siapa tau error

Love Rain&BowWhere stories live. Discover now