Alvira Pov
Aku tengah berdiri di balkon kamar. Menatap langit malam yang gelap. Ku pandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap-kelip seum-- Nah loh, kenapa jadi nyanyi begini?!
Aku gak ngerti, kenapa tadi Davin bertanya begitu ya. Ipa 12-3? Rara? Ya jelas aku satu-satunya murid yang dipanggil Rara disana. Dan dia bilang apa? Bandel? Holy shit!
Omong-omong aku tidak sendiri, di kamarku ada Kevin yang sedang tiduran di ranjangku, ia tidak mau keluar. Kevin terus memaksaku bercerita kenapa bisa aku pulang bersama Davin sehabis dari Cafe tadi. Beruntungnya Ayah dan Bunda belum pulang jadi aku tidak dimarahi.
"Ra, kamu tuh dari tadi bikin penasaran tau gak?" kata Kevin. Aku menatapnya lagi, seperti ku duga tingkat kekepoannya sudah mencapai level tinggi.
"Kepo banget sih!" ujarku cuek. Kevin mengambil selimut yang ada di atas lemariku, kemudian kembali tiduran berguling, ia menenggelamkan badannya di balik selimut. Lah lah dia ngapain coba?
Aku bisa mendengar suaranya dari sini walau pelan, "Kalau gak mau kasih tau, gue tidur sini, lo bawah, apa ngga lo tidur kamar gue sana,"
Apa-apaan? Gak ada deh. Tau sendiri aku malas dikamarnya. Kamarnya itu kotor, berantakan, dan mau tak mau aku harus membersihkan lebih dahulu.
"Jangan pake AC kalau mau tidur kamar gue, nanti remote nya gue ambil," lanjutnya.
Astaga! Apaan banget sih, karena gak diceritain terus dia jadi ngambek dan maunya tidur kamar gue. Gak deh.
"Ih apaan sih, kak. Gitu doang ngambek,"
Kevin membuka selimutnya lalu duduk bersila, "Nah yaudah dong, cepetan ceritain" paksanya.
"Huh, tadi gue ketemu trusdia ngajak pulang. Udah." jelasku singkat. Dia menatapku tak percaya.
"Gitu doang? Yaelah gak mungkin banget deh," ucap Kevin.
"Iya kayak gitu doang. Udah sono keluar," aku mengangkatnya berdiri lalu mendorong Kevin keluar kamarku.
"Eh eh, jangan-jangan lo suka ye sama dia" teriak Kevin ketika aku sudah menutup kamarku.
Hah? Suka? Dih ngaco banget. Ya engga lah, baru juga kenal.
"Gue.Gak.Suka.Woyy!" balasku penuh penekanan.
••
Pagi ini, seperti aktivitas biasa, Kevin mengantarku ke sekolah setelah aku memaksanya. Sebelum berangkat, kami sarapan dulu. Bunda sudah menyiapkan nasi goreng di meja.
"Yah, masa ya semalem ada yang di anteri--" ucapan Kevin terpotong, karena aku sudah membekap mulutnya dengan kedua tanganku.
"Berisik lo. Diem gak?!" aku membisiknya pelan takut-takut di dengar Ayah dan Bunda.
"Apa, Bang?" tanya Bunda. Aku menggeleng cepat, "Engga Bun, gak ada,"
"Semalem kenapa, dek?" tanya Ayah penasaran juga. Lagi-lagi aku menggeleng.
"Sudah ayok kak buruan, ntar gue telat lagi," teriakku kencang mengalihkan topik pembicaraan Ayah. Aku segera menarik Kevin yang tengah meminum air putih.
"Uhuk-uhuk!"
"Ra, jangan begitu dong! Pelan-pelan bang minum lagi tuh," kata Bunda. Ish Kevin mah sok batuk banget deh, bilang aja caper wkwk.
Selesai Kevin balik dari meja makan lagi, kami masuk ke dalam mobil. "Bun, Yah, Rara jalan dulu ya,"
Mobil Kevin melaju dengan kecepatan sedang. Huh lama banget rasanya pengen aku aja yang bawa terus ngebut sampai sekolah.
BINABASA MO ANG
The Change
Teen FictionAku sebal sama kamu. Kamu yang selalu ngatur hidup aku. Aku sebal sama kamu, sama sifat kamu yang terlalu perhatian, buat aku risih sendiri. Tapi, sesebal-sebalnya aku sama kamu. Aku menyukaimu. Dan aku baru sadar, aku menyukaimu karena semua sikap...
