PART 8 - A New Greyson

37 0 0
                                        

"Anak anda mengidap penyakit leukemia" kata-kata dokter itu terus menghantuiku. Leukemia, bukankah itu penyakit yang mematikan? Apa gunanya aku hidup jika akhirnya pasti mati? Aku memutuskan untuk menghentikan semua aktifitasku. Sahabatku sempat bertanya-tanya, mengapa aku yang awalnya terlihat ceria pada semester pertama berubah drastis menjadi murung.

"Come on, we're friend. I know there's something wrong with you, bro!" Ujarnya sambil menepuk punggungku. Memang selama ini aku tidak pernah cerita dengan siapapun, termasuk kedua orang tuaku, jadi apa salahnya jika aku cerita dengannya? Toh, dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Aku menatap gumpalan darah yang berada di balik kulit telapak tanganku, aku memang terlihat seperti orang yang segar bugar.

"God, you're gonna marry someone?" Ucapnya. Mendengar ucapannya itu, aku yang awalnya sedih menjadi tertawa.

"Come on Niall! I'm serious!" Ucapku sambil terkekeh.

"Well, go on!" Ujarnya.

"Do you know leukemia?" Tanyaku.

"Jangan bilang elo terkena penyakit itu bro. Bercanda boleh, tapi itu gak lucu sama sekali!" Potong Niall dengan muka garangnya.

"Sorry Niall, kalo bisa gue juga maunya bilang kalo gue cuma terkena sariawan, sayangnya gue gak bisa karena sekarang gue itu mengidap penyakit Leukemia" jelasku dengan sedih. Niall terdiam mendengar ucapanku itu,

"Just because there's a huge wall in front of you, doesn't mean you should stop to reach your destination" dia mencoba menasehatiku.

"Absolutely I'll reach the destination, I'll reach the death soon" jawabku sambil tertawa kecil. Niall hanya dapat menatapku dengan raut muka yang sedih. Semenjak hari itu, Niall jadi sangat sering menasehatiku. Tapi, aku marah-marah karena sudah tidak tahan dengan semua nasehat Niall. Dia selalu menasehati tentang semua hal yang menjelaskan betapa berharganya sebuah kehidupan dengan muka bodohnya itu. Untuk apa aku terus-terusan menerima nasehat tentang kehidupan jika jelas-jelas umurku sudah tidak lama lagi? Dan semenjak saat itulah, Niall berhenti menasehatiku. Kami kembali menjalani hidup seperti biasa. Walaupun begitu, tentu saja Niall menganggap aku tidak seperti dulu. Aku adalah aku, ingin berubah atau tidak, inilah diriku.

**********

"Finally I found her bro!" Ujar Niall girang saat dia main ke rumahku.

"Who?" Tanyaku.

"The girl that I love. We used to go to the same school before, and now he's going to Cheyenne high school" oceh Niall. Aku berpikir sebentar sambil menggigit kuku tanganku.

"Oh, You've told me about the girl. You wanna shoot her in the farewell party, and you're not brave enough, right?" Ujarku sambil menaik turunkan alis mataku.

"Come on Grey, don't remember me about that!" Niall memperlihatkan wajah cemberutnya.

"Well, why don't you ask her to hang out with you then?" Ujarku.

"What? No!" Jawab Niall.

"So brave" ejekku sambil tertawa sinis.

"Listen, I promise that you'll see me have a beautiful house, and have two children in the future" Niall kembali memainkan gitarnya.

"And their mom is the girl" tambahnya lagi. Aku rasa dia lupa bahwa sudah satu tahun lamanya semenjak aku mengidap penyak sialan ini, waktu jatah hidupku sudah tidak lama lagi, mustahil bagiku untuk melihatnya di masa depan. Keesokan harinya, seperti biasa aku mendapatkan hadiah yang ditaruh diatas mejaku. Walaupun tidak selalu ada, hadiah atau surat selalu aku dapatkan setidaknya satu kali dalam seminggu.

Guitar or Piano?Where stories live. Discover now