HUNTING GROUNDS

1.3K 74 1
                                        


Aku mengarahkan senterku ke arah terowongan, berpikir bahwa mungkin saja Matt yang sedang berlari kearahku. Tetapi ketika suaranya semakin keras, suara itu terdengar seperti sesuatu yang berlari dengan kaki dan tangan. Apapun itu, mereka sedang bergerak menuju ke arahku, dan semakin dekat. Tanpa menunggu lama lagi, aku menjatuhkan senterku dan berlari ke belokan lain, menyembunyikan diriku di kegelapan. Waktu berlalu dan ketika suara itu menjadi semakin keras, aku bisa mendengar makhluk apapun itu sedang terengah-engah dan mendesah karena rasa sakit alih-alih rasa capek.

Senter yang terjatuh itu menyinari sosok yang berada di ujung terowongan. Aku berusaha untuk tetap diam saat memandangi makhluk mengerikan itu hanya beberapa meter dariku. Ia bergerak dengan kedua kaki dan tangannya, punggungnya terpelintir dan bengkok untuk menyesuaikan dengan kakinya yang panjang. Kulitnya pucat, lebam dan mati, hanya tulang berbalut kulit. Ia membungkuk untuk memeriksa senter dan sekarang aku bisa melihat wajahnya. Ia memiliki beberapa helai rambut yang berada di kepalanya dan berayun mengikuti napasnya yang berat. Matanya cekung ke dalam dan tak berkedip. Di pupil matanya bersinar seperti anjing pada malam hari. Ia memalingkan kepalanya dan sinar dari senterku menunjukkan wajahnya dengan lebih jelas. Kau harus tahu, makhluk itu, tadinya adalah manusia.

Jantungku berdetak kencang sampai aku bisa mendengarnya di telingaku, aku berdoa supaya mereka tidak bisa mendengar detak jantungku, berdoa supaya senter itu tidak menyorot ke arahku. Tanpa peringatan, makhluk tersebut menggertakan kepalanya ke arahku. Makhluk itu mendengarkan untuk sementara, kemudian ia menjerit dengan suara aneh yang menusuk telingaku dan menggema di seluruh terowongan. Tenggorokan dan dadanya bergerak naik-turun menghasilkan suara yang mengerikan. Aku lemas ketika mendengar jeritan lain di ujung terowongan, yang diikuti jeritan lain... jeritan lagi... dan jeritan lagi...

Lebih dari satu.

Gema itu datang dari mana-mana, aku tidak bisa mengetahui darimana asalnya. Makhluk itu membuat jeritan lain sebelum masuk ke terowongan, membuatku menjadi lebih takut. Aku terdiam di pojokan sangat lama, terlalu kaku untuk bergerak, hanya bisa mendengar, semakin lama suara geraman mereka semakin dekat. Sepertinya mereka sedang mencariku... memburuku...

Aku harus keluar dari sini, aku harus melarikan diri. Pikiranku tentang apa yang akan dilakukan makhluk ini membuatku merinding. Jadi aku melakukan satu hal yang hanya bisa kulakukan. Aku mengambil senter, dan lari. Menemukan jalan kembali akan sia-sia, aku benar-benar kesasar, yang bisa aku lakukan hanyalah berlari dan berdoa supaya aku bisa menemukan jalan keluar. Aku memandang lurus kedepan saat aku berlari diam-diam di dalam terowongan, aku terus-terusan merasa ketakutan, barangkali aku mendengar suara desah napas berat dan langkah kaki di belakangku. Aku hampir berbelok di salah satu tikungan ketika kakiku tersandung sesuatu dan aku jatuh dengan kepala terlebih dulu ke genangan di lantai. Dalam cahaya remang-remang, aku bisa melihat sisa-sisa tubuh. Pikiranku memerintahkan agar tidak melihatnya, tetapi rasa ingin tahu begitu kuat dan aku menyoroti sesuatu di bawah kakiku.

Aku berharap aku tidak melakukannya.

Di bawah kakiku, berbaringlah tubuh...Matt. Tubuhnya terobek, terbelah dua. Organ dalamnya berserakan di sekitarnya dan darahnya melapisi dinding dan lantai. Aku bergetar hebat, tidak berani berteriak. Ketakutan begitu menguasaiku. Aku mengalihkan pandangan, bangun dan berlari secepatnya di dalam terowongan setenang yang aku bisa. Aku mematikan senternya supaya tidak menarik perhatian makhluk itu. Aku tidak mau berakhir seperti Matt.

Aku terus berlari sampai kakiku pegal-pegal, namun pada akhirnya, aku harus berhenti. Badanku pegal-pegal dan kecapekan, tubuhku dipenuhi keringat dan aku begitu ketakutan. Aku menghela napas yang tertunda saat aku berlari. Baju dan celanaku berlumuran darah Matt dan napasku berat, mencoba untuk mendapatkan setitik kekuatan yang aku punya, aku bergetar saat akan berdiri.

Suara gemeretak terdengar dari kananku...

Bulu kudukku berdiri. Aku mencoba menyalakan senter, tetapi tidak mau menyala.

Suara gemeretak itu terdengar kembali, semakin dekat...

Aku panik dan memukul-mukul ujung dari senter itu berulang-ulang sampai akhirnya senter tersebut menyala kembali dan menyinari sesosok figure yang menjadi mimpi burukku. Pupilnya berkonstriksi, matanya terbuka lebar, ia meringis, menunjukkan sederetan gigi yang masih bernoda darah dan daging yang membusuk. Aku mundur ketika makhluk itu semakin mendekat kepadaku, bahunya berbunyi selagi ia bergerak bagaikan sendinya berpindah. Aku ingin berlari, pergi dari sana secapatnya, tetapi sampai makhluk itu menengok ke belakang dan berteriak kepada gerombolannya, aku baru tersadar. Aku langsung berlari secepat kilat, terpacu adrenalin. Kepalanya berbalik ke arahku ketika makhluk itu menyadari gerakanku. Ia menggertak dan berlari dengan kedua tangan dan kakinya dengan kecepatan yang menakjubkan.

Aku berlari secepat yang aku bisa, berbelok ke kanan dan ke kiri di terowongan yang tidak ku kenal tetapi yang aku yakin, tindakanku ini membuat makhluk itu menjadi marah sekali. Aku tidak bisa berlari lebih cepat daripada mereka, aku harus sembunyi atau menemukan sesuatu untuk melindungi diriku sendiri, bahkan walaupun bertarung, adalah hal yang sia-sia. Mataku beralih ke dinding dimana pipa-pipa berkarat semakin memanjang dan terhubung ke tanah. Dengan putus asa aku mematahkan pipa yang paling dekat denganku dan menariknya dengan seluruh kekuatanku, berharap pipa tersebut akan mudah terlepas dari dinding. Jantungku berhenti berdetak saat mengetahui bahwa pipa tersebut hanya bergeser sedikit dan tanganku begitu pegal karena menariknya begitu keras, suara jeritan dan teriakan makhluk itu sekarang menjadi semakin dekat dan semakin dekat.

Akhirnya, pipa tersebut terlepas ketika makhluk tersebut mencapai belokan. Makhluk itu menyerbuku, tangan mereka diulurkan dan mencakar-cakar udara. Aku bertahan dan mengayunkan pipa tersebut dengan seluruh kekuatanku yang tersisa, pipa tersebut kurasakan menghantam rahang makhluk itu. Suara gemeretuk menggema di terowongan tersebut, dan makhluk tersebut menjerit kesakitan dan kebingungan. Dalam kekalapannya, makhluk itu memukulku dan aku terbanting ke dinding terowongan. Benturan itu keras sekali, sampai aku berkunang-kunang. Makhluk itu mengerang lagi, kepalanya bengkok ke arah kiri karena kupukul dengan pipa, dan kemudian ia roboh. Mataku menangkap pergerakan di belakangnya, ia membawa kawanannya, mereka berderap semakin banyak di belokan, badan pucat mereka saling bertubrukan, mereka saling berteriak. Aku berbalik dan berlari secepat yang aku bisa. Teriakan kesakitan mereka sekarang lebih karena mereka hanya ingin makanan. Tidak lama lagi mereka akan mengejarku, mata liarnya tertuju kepadaku.

Pandanganku kabur dan aliran darah berkumpul dikepalaku ketika aku menunduk melewati gapura lain di terowongan itu. Aku sudah melampaui batas kekuatanku dan aku berlari hanya karena takut. Aku bisa mendengar teriakan dan isakan makhluk itu di belakangku saat mereka berlari mengejarku, lengan dan tulang saling bergesekan satu dengan yang lain saat semuanya mencoba untuk mendapatkan gigitan pertama.

Aku berbelok dan jantungku berhenti berdetak. Secercah cahaya menyinari ujung terowongan, sebuah pipa pembuangan, cukup besar untuk dilewati seorang anak. Aku hanya punya sedikit waktu, mungkin hanya beberapa detik, antara aku dan sekumpulan tubuh membusuk yang meny antara aku dan sekumpulan tubuh membusuk yang menyerbu terowongan. Tidak ada waktu untuk memutuskan, aku membuka pipa itu dan langsung masuk ke dalamnya, aku merangkak secepat yang ku bisa. Aku sudah tidak peduli berapa banyak retakan beton yang menggores dan mengoyak tangan kakiku, aku sudah begitu dekat dengan jalan keluar, tetapi aku tahu mereka ada di belakangku, mencakar-cakar dengan kejam untuk mengambil kakiku, dibutakan oleh insting kelaparannya.

Ketika aku hampir mencapai ujung celah, jari-jari makhluk itu mencengkram pergelangan kakiku, serangan pedih langsung merambat di kakiku, aku berteriak kesakitan. Aku merasakan ada yang patah di pergelangan kakiku ketika makhluk itu menggeram dan membenamkan kukunya lebih dalam ke kulitku. Aku berteriak dalam kesakitan, meronta-ronta saat aku ditarik kembali ke dalam. Dengan usaha terakhir, aku menendang sekeras yang kubisa agar aku bisa melepaskan kakiku. Aku merasa kakiku mengenai sesuatu yang keras. Makhluk itu mejerit, menjerit marah alih-alih kesakitan, yang hanya mengeratkan genggamannya di pergelangan kakiku. Aku menendang lagi dengan putus asa untuk melepaskan kakiku, sampai akhirnya ia melepaskannya. Aku melihat kebelakang untuk melihat tangan dan sosok yang berdarah, berkelahi dengan sesamanya untuk meraihku aku merangkak keluar, hanya beberapa inci lagi. Dan akupun terjatuh...

Disinilah ingatanku mulai memudar...

Tbc-

Our CreepyPasta StoryWhere stories live. Discover now