Kerinduanku

14 0 0
                                        

Semilir angin mengayunkan angan yang hilang ditelan masa, serpihan lilin yang berhamburan, menyayat pedih, merasuk kedalam raga tak berjiwa. Malam gelap terasa kelabu. Rasa itu, entahlah. Semua terasa hampa, bahkan tubuhku pun terasa melayang. Angan-angan itu, imajinasi itu, harapan itu, terasa terkubur dengan sendirinya..
Aku.. sendiri.. disini.. dengan segala kegundahan hati yang melanda, hanya melihat langit berharap sang bintang kan datang menghiasi.

Tok tok tok tok!!
"Inaaaa!!! Keluar kamu!!! Ngapain diem di kamar terus?? Ini nih, makan!!" gertak ibu tiriku
jreengg (suara gelas pecah)

Aku diam, bukan karna takut, tapi lebih karna aku tak peduli. Ibuku.. maksudnya ibu tiriku.. dia hanya akan menghawatirkanku jika aku sakit tak makan dan kurus kering.
Aku kadang tak mengerti kenapa ibuku seperti itu, apa mungkin dia takut sama papa??

Apa?Papa?Papa bahkan tak pernah mengabariku,apalagi berbicara denganku selama 5 bulan ini.. Dia sibuk dengan pekerjaannya di luar kota. Entah apa yang ibu tiriku bicarakan, hingga papaku tak mau lagi mendengar suaraku.
Aku merasa hidup ini karut marut, tak tahu arah. Padahal aku tak butuh perhatian yg berarti, aku hanya ingin didengar.. cukup hanya ingin didengar..
Didengar apa yg aku rasakan, didengar apa yg aku inginkan..

Orang-orang terkadang berpikir bahwa aku bisa bahagia dengan saudara-saudara tiriku.. Apa?saudara? Mereka seperti binatang! Mereka orang tak tahu diri, sombong, dan menyebalkan!
Lalu, apa yang bisa diandalkan di rumah ini untuk bisa mendengarkanku?? Bi Inem??
Dia tiba-tiba berkhianat setelah ada ibu tiriku. Entahlah, kepalaku berasa ingin meledak..
Tangisku pecah ketika melihat foto ibu..

Ibu.. aku tau kau ada di surga..
Dengarkan aku ibu.. peluklah aku, ciumlah aku.. aku sangat merindukanmu..

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 15, 2015 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KerinduankuWhere stories live. Discover now