HUNTING GROUNDS

2.2K 82 0
                                        


Aku tidak begitu mengerti bagaimana memulainya, aku tidak terbiasa menulis jurnal. Omong-omong, dokter bilang menulis dapat membantuku, jadi aku coba saja. Aku sudah berada di rumah sakit selama beberapa hari dan aku belum bisa melakukan apapun selain menulis. Mereka bilang aku hampir mati, dan trauma akibat kejadian itu memicu kenangan dan penglihatan yang kualami. Setelah melihatnya, sepertinya aku tidak akan bisa melupakan mereka; aku mengingat semuanya dengan jelas, setiap suara, setiap percakapan, setiap perasaan ketakutan, dan aku seperti masih terperangkap dalam mimpi buruk itu. Kejadian itu terus menerus berulang di pikiranku tanpa henti. So, aku akan menulis semua yang terjadi, mumpung kejadian itu masih terngiang jelas di pikiranku. Aku akan mulai dari awal...

Semuanya terjadi sekitar beberapa hari lalu ketika aku diajak untuk berkemping dengan temanku, Matt dan Alex. Tidak ada maksud apapun, kami hanya ingin menghabiskan satu atau dua hari di alam liar, dan aku hanya ingin rehat sejenak dari kesibukanku. Matt menyarankan untuk menggunakan kabin berburu di tengah hutan milik keluarganya, mengingat kabin itu relatif dekat dan mudah dijangkau. Aku dan Alex setuju, idenya cukup bagus, dan keesokan harinya kami semua pergi menggunakan pickup Matt. Kami tidak membuang-buang waktu dan setelah memeriksa semuanya, kami mengambil barang-barang kami dari pickup Matt dan pergi masuk ke dalam hutan, mengikuti jalan kecil diantara rumput tinggi yang menyebar sampai pinggir hutan.

Kami berjalan menyusuri hutan dengan dipimpin oleh Matt. Ia mengambil sebatang tongkat untuk berjalan, dan bersenandung lagu-lagu dari iklan. Kami menuju ke utara sekitar satu jam, Alex menceritakan beberapa lelucon. Kami tertawa mendengarnya, tetapi tidak terlalu banyak percakapan diantara kami. Mungkin karena saat itu masih pagi dan kami lebih banyak berkonsentrasi agar kaki kami tidak terantuk akar pohon dan menikmati pemandangan indah di sekitar kami. Setelah beberapa jam, kami berhenti untuk beristirahat dan sesekali makan camilan tetapi kemudian kami melanjutkan perjalanan kami ke alam liar. Tak berapa lama kemudian, kami menemukan hal yang berbeda dari ranting dan dedaunan di hutan ini.

Jalan yang kami lalui begitu asing, ditumbuhi oleh rumput tinggi dan semak-semak. Jalan itu hampir tidak terlihat, dan kami bisa saja melewatkannya jika kami tidak beristirahat di pohon dekat situ. Kami tidak punya rencana yang matang (seperti dimana kami akan mendirikan tenda), dan mengingat kami tidak sedang terburu-buru, kami akhirnya mengikuti jalan itu. Jalan itu lurus sebelum membelok tajam ke kanan, menunjukkan pohon-pohon lebat dan semacam gudang tua. Kami mencari-cari papan reklame, tetapi tidak ada, atau mungkin tadinya ada tetapi sudah ditelan hutan rimba. Aku bertanya pada Matt apakah ia tahu tentang gedung tersebut, ia bilang tidak tahu. Ia sama terkejutnya seperti aku dan Alex. Aku tidak bisa menyalahkannya, karena kabin berburu Matt jarang sekali digunakan dan ide untuk pergi kesana dan menemukan gedung tua yang dekat dengan kabinnya tidak mengejutkan kami.

Aku melihat jam tanganku, sudah jam 6 sore dan hari mulai gelap. Matt pasti menyadarinya juga dan menyarankan untuk membuat tenda di gedung tua itu. Aku setuju, tidur di atas lantai datar gudang tua itu akan lebih nyaman daripada tidur di atas tanah hutan yang tidak rata. Dan sejujurnya, aku terlalu capek untuk mendirikan tenda. Alex pun enggan mendirikannya, tapi ia terpaksa melakukannya setelah Matt bilang ia harus tidur di luar jika ia tidak mau mendirikan tenda. Kami masuk ke bangunan itu lewat sepasang pintu reot. Pintu itu sedikit terbuka, seperti tidak pernah tersentuh sejak lama dan kami pun harus berusaha untuk membukanya karena engselnya sudah begitu berkarat.

Gedung itu kosong, jendelanya rusak, catnya mengelupas, terdapat beberapa boks kosong dan penuh dengan sarang laba-laba dimana-ma mana-mana. Kami membuat camp di tengah-tengah ruangan dan memindahkan boks kosong di sekitarnya. Kami ngobrol dan bercanda selama beberapa waktu, memakan makanan yang kami bawa. Kemudian kami mendengar suara gemerincing yang menggema di seluruh gedung. Kami menengok ke arah sumber suara.

"Kalian semua mendengarnya?" Tanya Alex.

Aku menggelengkan kepalaku, masih mendengarkan, dan Matt hendak mengatakan sesuatu ketika suara gemerincing itu terdengar lagi, lebih samar, tetapi masih terdengar. Kami memeriksanya, dan kami menemukan lorong kecil yang bercabang di ruangan utama menuju ke pintu besi tebal dengan jendela kecil di tengahnya. Kami bertiga berjalan menuju pintu tersebut setelah aku dan Matt mengambil senter dari tas. Sambil menunggu, kami mengintip dari jendela kecil yang berada di pintu, memandangi tangga yang mengarah kepada kegelapan total.

"Basement mungkin?" tebak Matt sambil memandangi pintu.

Hening sesaat, kemudian Alex menimpali, "Oke, apapun itu, makhluk itu sudah pergi, tidak ada yang-"

Suara gemerincing memotong omongannya dan menarik perhatian kami ke jendela. lagi-lagi, tidak ada pergerakan yang terlihat di kegelapan.

Keheningan yang tak nyaman menyergap kami...

"Ayo kita periksa," kata Matt, yang sudah menekan handel pintu. Engselnya berdecit keras saat pintu tua itu dibuka.

"Apa kau gila!?" seru Alex.

"Rileks," kataku, "Mungkin saja hanya binatang, seekor rakun mungkin."

"Kenapa? Apa kau takut?" Matt menggodanya. Ia tertawa ketika Alex melambaikan tangannya dan berjalan kembali menuju ruang utama.

"Terserah, aku ingin tidur, sampai jumpa besok pagi, idiot!"

Matt mulai masuk melewati pintu, "Kau ikut atau tidak?" katanya sambil mulai turun tangga. Aku tidak punya pilihan lain, aku menaruh satu blok bata di lantai sebagai ganjalan pintu dan kemudian mengikutinya turun. Ketika kami sampai di bawah, udaranya terasa...berat, bau apak jamur tercium di sekeliling kami, bahkan aku bisa merasakannya di belakang tenggorokanku.

Setelah mataku perlahan menyesuaikan dengan kegelapan, aku bisa mengetahui berbagai macam pipa dan ventilasi yang tertempel di tembok dan langit-langit. Aku mengarahkan senter ke sekeliling kami dan menemukan bahwa kami berada dalam ruangan persegi yang lebarnya sekitar 15 kaki. Tiga atau empat terowongan bercabang di tembok dalam berbagai macam arah dan aku mengarahkan senter ke terowongan yang paling dekat, tetapi aku tidak melihat apapun. Terowongan itu memanjang, bagaikan tak berujung.

"Menurutmu suara itu berasal dari mana?" Tanya Matt, sambil memandangi kegelapan di terowongan di depan.

"Aku tak tahu, apakah masih mau kau cari?" kataku datar.

"Apa kau takut gelap juga?"

"Tidak, hanya saja-"

"Ayolah, kita lihat ada apa di bawah sana," ajaknya sebelum ia menunduk lewat celah dan hilang di kegelapan, satu-satunya yang terlihat adalah cahaya senternya yang bergoyang-goyang. Bodohnya, aku mengikuti Matt, sambil memusatkan perhatianku pada cahaya yang naik-turun di terowongan yang gelap.

"Matt kita kembali saja, ini sudah mulai gila!" aku memanggilnya.

Kata-katanya menggaung, "Hey man, sepertinya aku mendengar sesuatu disini ..."

Aku melihat cahaya senternya berbelok ke kiri, tapi kali ini aku tidak melihat cahaya senternya lagi. Aku berlari kecil, berharap mendengar langkah kakinya atau sesuatu yang menunjukkan keberadaanya. Tetapi tidak ada apapun.

"Matt?" panggilku. "Matt kau masih disana?" suaraku memantul tak berguna di tembok terowongan. Aku meyakinkan diriku bahwa ini mungkin hanyalah guyonan bodohnya, ia selalu mengganggu aku dan Alex, tetapi ada sesuatu yang salah. Rasa takut itu semakin membesar saat aku berkeliling dan hanya kegelapan yang kutemukan, tidak ada cahaya, dan tidak ada lompatan Matt untuk mengagetkanku, hanya ada terowongan.

Tiba-tiba, terowongan itu dipenuhi dengan jeritan mengerikan yang sepertinya datang dari semua tempat di sekitarku, membuatku terdiam di tempat. Tetapi secepat itu dimulai, jeritan itu berhenti, seperti di hentikan oleh kekuatan yang tak terlihat. Aku memanggil Matt lagi dengan ragu, tetapi tidak ada jawaban, hanya terdengar tetesan air dari langit-langit. Pada saat itu, di dalam keheningan, aku mendengarnya.

Suara langkah kaki.

-to be continued-

Our CreepyPasta StoryWhere stories live. Discover now