[ Nomin, Keonhyeon story. ]
Dua hati yang pernah patah akibat keheningan komunikasi, terpisah di persimpangan jalan mereka masing-masing.
Alejandro dan Rajesha mengira masa lalu telah usai, tersimpan rapi sebagai kenangan manis yang berujung luka.
...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pagi hari di kawasan elit Jakarta disambut oleh langit biru yang masih bersih dan hembusan angin tipis. Kesibukan hari Senin akan segera dimulai.
Langkah kaki ringan menuruni anak tangga satu per satu. Pagi ini, Sabiel sudah rapi mengenakan setelan seragam SMA abu putih. Pipinya tampak merona alami, dipadu dengan aroma manis khas yang semerbak tercium mengiringi setiap langkahnya.
"Good morning Papi, Mami!" sapa Sabiel riang begitu menginjakkan kaki di ruang makan.
Tanpa ragu, Sabiel menghampiri Maminya untuk mendaratkan kecupan hangat di pipi, lalu beralih melakukan hal yang sama pada Papinya. Di meja makan, sang Mami tengah sibuk menata hidangan sarapan, sementara sang Papi duduk santai sambil menyesap kopi hitam hangatnya sembari membaca koran digital.
"Pagi, Adek manisnya Mami." balas sang Mami lembut.
"Cantik banget anak Papi pagi ini. Udah siap banget nih ke sekolah baru?" puji sang Papi, menatap anak bungsunya dengan bangga.
Sabiel duduk di kursi yang berada di hadapan Papinya. "Harus cantik dong, Papi! Biar nanti di sekolah baru banyak yang langsung ngajakin Biel kenalan dan rebutan mau temenan!"
Sang Papi terkekeh. "Persis Mami kamu waktu muda dulu, nggak mau rugi kalau soal penampilan."
"Lho, memangnya kenapa kalau mirip Mami? Bagus, dong!" sahut Mami sambil tertawa pelan, lalu melangkah menghampiri Sabiel untuk meletakkan segelas susu hangat dan sepiring roti panggang beroleskan mentega.
"Makasih, Mami sayang." ujar Sabiel, langsung meraih selembar roti panggang dan menggigitnya kecil.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tegap kembali terdengar menuruni tangga. Alejandro muncul dengan setelan jas kantor berwarna gelap membalut tubuhnya, arloji mahal melingkar di pergelangan tangan, serta tatanan rambut hitam yang tersisir rapi. Wangi maskulin khasnya langsung semerbak memenuhi indra penciuman seisi ruangan.
"Pagi Abang!" sambut Sabiel paling heboh, melambaikan tangan yang memegang separuh roti.
"Pagi, sweetheart." balas Alejandro lembut. Ia mengusap sekilas puncak kepala Sabiel sebelum mengecup kening Mami, lalu menduduki kursi kosong di samping adiknya.
Di sela-sela sarapan, perbincangan ringan mulai mengalir antara Papi dan Alejandro. Mereka berdiskusi mengenai perkembangan proyek sistem keamanan teknologi terbaru yang tengah dipimpin Alejandro di pusat kota.
"Nanti ke sekolahnya Adek diantar Pak Anang ya." ujar Mami memecah obrolan bisnis di meja, menatap Sabiel yang sedang meminum susunya.
Mendengar ucapan Maminya, bibir Sabiel langsung mengerucut, matanya membulat menatap Maminya heran. "Kok sama Pak Anang, Mi? Biel kira berangkatnya sekalian sama Abang!"
Mami tersenyum melihat reaksi bungsunya. "Biel... Abang itu berangkatnya masih nanti. Lagipula kantor Abang sama sekolah baru kamu itu beda arah, sayang. Kasihan Abang kalau harus muter macet-macet."