4. Oh Justin!

71 5 1
                                        

Aku masih menangis terisak saat memasuki rumah. Aku tidak pernah menyangka seorang Zayn akan bersikap seperti itu padaku. Aku belum siap untuk kehilangannya saat ini.

Dengan gontai aku menyusuri tangga menuju kamarku. Tentu ayah dan ibu sudah berangkat ke Canada siang ini. Aku seperti gadis yang paling kesepian di dunia. Tanpa ibu, ayah dan lebih menyakitkan lagi tanpa Zayn Malik.

Aku masih sangat sedih dan sangat terpukul mengingat perlakuan Zayn belakangan ini yang sangat aneh terhadapku.

Tiba-tiba aku tersentak hebat saat membuka pintu kamarku.

"Kau lagi!" Teriakku kesal dan membelalakan mataku pada pria pirang yang sedang duduk di kursi belajarku.

Air mataku mengering seketika saat kudapati pria brengsek ini ada dikamarku. Kali ini dia sudah keterlaluan!

"Hey manis. Aku tahu kau sedang kesepian" ucapnya yang membuatku jadi naik pitam.

"Sedang apa kau disini?!" Bentakku emosi padanya namun ia malah terkekeh melihatku.

"Aku hanya ingin menemanimu" jawabnya santai.

"Keluar sekarang! Atau akan kuhubungi ayah dan ibuku agar memanggil polisi untuk mengusirmu!" Amcamku dengan menatapnya tajam dan dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Virgo Schneider yang sok tahu, aku datang kesini atas izin ayah dan ibumu sebelum mereka pergi ke bandara tadi." Jelasnya yang sukses membuatku membuka mulut kaget. Darimana ia tahu namaku?!

"Kau sih terlalu lama pergi dengan pria arab itu, jadi tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada orangtuamu kan" keluhnya sambil berdiri dan berjalan menuju tempatku yang masih mematung diambang pintu.

"Ayolah masuk, jangan malu-malu" ajaknya seraya menarik tanganku dan mengiringku sampai duduk di atas ranjang. Sedangkan dia duduk di kursi belajarku yang diubah posisinya menghadapku. Hey tuan ini kamarku! Menagapa kau jadi sok berkuasa?!

"Jadi, kau mau cerita darimana?" Tanyanya dengan menaruh dagu di kedua telapak tangannya yang ia topangkan diatas lutut. Kalau dilihat-lihat pria ini cukup tampan.

"Sejak kapan aku mau cerita padamu?!" bentakku. Bisakah dia bersikap sopan sedikit padaku.

"Kau ini keras kepala ya Virgo" dia mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Darimana kau tahu namaku?" Tanyaku kesal dengan memandang tajam wajahnya.

"Ibumu Kate Schneider merupakan idolaku sejak kecil. Aku selalu membeli majalah-majalah yang terpampang tubuh seksi ibumu itu diam-diam. Tubuh ibumu itu sangat aduhai sekali" ia menggesturkan tubuh ibuku dan menyeka bibirnya mencegah air liurnya berceceran. "Kau tahu, ibumu itu yang pertama kali membuatku menstrubasi Virgo"

"Justin!" Aku pun memukul lengannya dengan kesal. Bisa-bisanya dia berfikiran kotor tentang ibuku. Dia pun tertawa terbahak-bahak dan aku secara tidak sengaja mengikutinya tertawa. Pria ini memang otak mesum tapi lucu juga.

"Kau membayangkanku melakukan itu ya?" Godanya yang membuat wajahku memerah.

"Bisakah kita tidak berbicara yang aneh-aneh?" Tanyaku kesal dan ia tertawa.

"Baiklah Virgo" ucapnya lembut yang masih menahan tawa. "Omong-omong kau masih ingat namaku rupanya?" Tanyanya yang membuatku harus memutar kedua bola mataku.

"Tentu" jawabku malas. "Bagaimana kau tahu rumahku?" Aku mengangkat kedua alisku.

"Betty memberitahuku tadi" katanya santai. "Betty?" Tanyaku menautkan kedua alisku, sejak kapan aku kenal dengan gadis bernama Betty?

"Iya, gadis pirang yang duduk disebelahmu itu loh"

"Bettany?"

"Ya siapalah itu, aku tidak peduli" jawabnya acuh. Dasar laki-laki bodoh. Mengingat nama orang saja sulit. Aku hanya menggelengkan kepala melihat sikap acuhnya.

"Hey kau tidak punya makanan? Aku lapar" gerutunya sambil berdiri dari duduknya.

"Apa peduliku. Beli saja sendiri" kataku acuh sambil membaringkan tubuhku diatas ranjang.

Tiba-tiba saja pria kurang ajar ini melayangkan tubuhnya diatasku yang ditopang oleh kedua tangannya. Aku pun tersentak hebat dengan perlakuannya. Tidak dapat berkutik bahkan bernafas sekalipun. Mata hazelnya menemui mataku. Warna matanya sama seperti mata Zayn. Ah lagi-lagi aku mengingat Zayn! Padahal tadi aku sudah lupa jika dikecewalam olehnya.

"Temani aku makan atau aku akan menciummu" katanya yang membuatku kaget.

"Ayo cepat aku lapar" rengeknya yang langsung menarik tanganku, sehingga tubuhku mau tidak mau harus berpisah dengan ranjang kesayanganku. Pria ini memang semaunya sendiri.

FOREVER [Z.M]Where stories live. Discover now