Dinar sudah meminta izin pada Dira dan Faisal untuk bersembunyi dirumahnya. Ia juga sudah meminta izin bahwa ia akan memberikan kejutan untuk anaknya.
Tentu saja hal ini diterima dengan baik oleh Dira dan Faisal. Dinar senang, maka dari itu, ia memutuskan untuk membawa kue beserta kado yang sudah disiapkannya di tempat yang ia percaya keamanannya.
Raka yang berada dikamarnya pun tak menyadari bahwa Dinar tengah berada dirumahnya. Raka hanya tertidur dengan tenang di atas ranjangnya.
***
"Happy birthday Raka, happy birthday Raka, happy birthday, happy birthday, happy birthday Raka"
Suara lembut Dinar terdengar begitu tenang ditelinga Raka. Kamar Raka hanya bercahaya sedikit dan itu dari lilin yang berada di atas kue bolu.
"Raka, wake up. Today is your birthday."
Raka mengerjapkan matanya berkali-kali. Dan ia sedikit menyipitkan matanya karena cahaya dari api pada lilin tersebut.
"Dinar?" Suara Raka masih terdengar parau. Raka tersenyum melihat gadis yang hanya terlihat wajahnya karena efek daru cahaya api tersebut.
"Tiup lilinnya, jangan lupa make a wish,"
Raka memejamkan matanya dan mulai berdoa di dalam hatinya. Cukup lama, sampai akhirnya ia membuka matanya dan langsung meniup lilin tersebut. Api pun padam. Semuanya menjadi gelap dan,
Krek
"HAPPY BIRTHDAY!!!" seru tiga orang yang berada di setiap sudut kamar Raka.
Raka menatapnya dengan berbinar. "Mama? Papa? Dan... Agatha?"
Kedua bola mata Dinar terbelalak ketika Raka menyebutkan nama Agatha. Ia langsung memutar tubuhnya dan melihat Agatha yang berada di antara Dira dan Faisal.
Agatha berjalan menghampiri Raka lalu memeluk prianya. "Happy birthday, Baby,"
"Thank you,"
Dinar berjalan ke arah Dira dan berdiri disebelahnya. Dinar menatap sepasang kekasih itu yang masih berpelukan dan membuat hatinya kembali teriris.
"Tante juga kaget, tiba-tiba ada dia pas kamu nyanyi lagu happy birthday buat Raka" bisik Dira seolah mengerti apa yang dipancarkan oleh raut wajah Dinar.
Dinar hanya tersenyum masam. Lalu ia meraih sekotak kado yang telah rapi terbungkus. Ia menyimpannya di atas meja yang terdapat di kamar Raka.
"Om, Tante, Dinar pulang, ya. Papa pasti nunggu" ucap Dinar, "Permisi"
Dinar pun berjalan keluar dari rumah Raka dengan perasaan yang terluka. Ya, ia terluka. Air matanya pun tak mampu terbendung lagi.
Langkah kakinya terkesan lamban. Seolah-olah ia masih harus melakukan seribu langkah lagu untuk sampai rumahnya.
Lututnya lemas, ia pun menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan yang rapi.
Ia tidak ingin terdiam disini. Ia hanya ingin pulang, berbaring di atas ranjang merenungkan semua yang terjadi hari ini dan akan terjadi esok hari.
Tetapi nihil, kakinya seolah tak bisa bergerak. Kaku. seluruh badannya menjadi kaku.
***
"Dinar, bangun sayang. Itu ada Raka nunggu dibawah juga"
YOU ARE READING
Almost Is Never Enough
RomanceKetika kita tak bergerak, biarkan waktu yang menjawabnya.. Kita terlalu dekat hingga aku jatuh cinta. Kita ternyata sama-sama memiliki rasa. Tapi kata itu tak pernah terucap. Aku menginginkanmu, sebesar kamu menginginkanku. Andai dulu ku katakan bah...
