Satu Alasan untuk Bangun

0 0 0
                                        

Setiap pagi, alarm Dira berbunyi pukul lima tiga puluh.

Dan setiap pagi pula, ia mematikannya tanpa membuka mata.

Dulu, suara alarm itu adalah tanda bahwa hari baru dimulai. Sekarang, suara itu terasa seperti gangguan yang memaksanya mengingat bahwa ia masih harus menjalani hari.

Sudah hampir tiga bulan Dira kehilangan pekerjaannya.

Tabungannya semakin menipis. Lamaran pekerjaan yang ia kirimkan tidak pernah mendapat jawaban. Teman-temannya mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Sementara Dira merasa hidupnya berhenti di tempat.

Kamarnya menjadi semakin berantakan.

Gorden hampir tidak pernah dibuka.

Sarapan sering dilewatkan.

Dan setiap malam, ia tidur dengan pertanyaan yang sama.

"Besok aku harus melakukan apa?"

Suatu pagi, ketika alarm kembali berbunyi, Dira tidak langsung mematikannya.

Ia menatap layar ponselnya.

05.30.

Entah mengapa, kali ini ia merasa terlalu lelah untuk tidur lagi.

Dira bangun.

Ia membuka gorden.

Cahaya matahari masuk perlahan.

Debu-debu kecil terlihat beterbangan di udara.

Pemandangan itu sederhana.

Namun untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Dira menyadari bahwa pagi masih datang untuknya.

Ia membuat secangkir teh.

Kemudian duduk di dekat jendela.

Hari itu ia tidak mencari pekerjaan.

Ia hanya membersihkan kamar.

Satu hal kecil.

Tapi setelah selesai, ia merasa sedikit lebih ringan.

Hari berikutnya, Dira kembali bangun pukul lima tiga puluh.

Bukan karena sudah mendapatkan pekerjaan.

Bukan karena hidupnya tiba-tiba membaik.

Ia bangun karena ingin menyiram tanaman kecil di depan rumah.

Tanaman itu hampir mati.

Daunnya menguning.

Batangnya terlihat lemah.

Tanaman itu pemberian ayahnya sebelum ayahnya meninggal.

Dira mengambil air.

"Kalau kamu masih mau hidup, aku juga harus mencoba," gumamnya.

Ia tidak tahu mengapa berbicara kepada tanaman.

Namun setelah menyiramnya, ia tersenyum kecil.

Sejak hari itu, tanaman tersebut menjadi alasan pertamanya untuk bangun.

Setiap pagi ia menyiramnya.

Setiap sore ia memindahkannya agar mendapat cukup cahaya.

Hari demi hari berlalu.

Tanaman itu belum juga berbunga.

Tetapi Dira tidak berhenti merawatnya.

Suatu siang, tetangganya, seorang anak perempuan bernama Lala, datang membawa sebuah pot kecil.

Satu Alasan untuk BangunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang