Eiichi Hikaru Ezumi

6 2 2
                                        

Pukul lima lewat empat puluh pagi, alarm di atas nakas sudah berbunyi untuk ketiga kalinya ketika sebuah tangan keluar dari balik selimut dan mematikannya tanpa sedikit pun keraguan.

Kamar kembali sunyi.

Eiichi Hikaru Ezumi membuka mata perlahan. Langit Seoul di balik jendela apartemennya masih berwarna biru gelap, sementara lampu-lampu gedung di kejauhan belum sepenuhnya padam. Dari lantai dua puluh tiga, kota terlihat begitu tenang, hampir tidak menyerupai Seoul yang beberapa jam kemudian akan dipenuhi suara kendaraan, orang-orang yang terburu-buru menuju kantor, dan keramaian yang seolah tidak pernah benar-benar berhenti.

Ia menatap langit-langit selama beberapa detik sebelum akhirnya bangun. Hari ini bukan hari yang istimewa. Setidaknya, bagi Eiichi.

Jadwalnya dimulai pukul tujuh pagi dengan sesi hair and makeup, dilanjutkan dengan pemotretan untuk sebuah majalah, latihan vokal, rekaman konten untuk kanal resmi Aurelia Entertainment, kemudian siaran radio pada malam hari. Besok akan berbeda. Lusa juga. Namun pada akhirnya semuanya terasa hampir sama.

Eiichi berjalan menuju kamar mandi sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berhenti di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri dengan ekspresi datar, lalu menguap kecil.

Wajah yang sama akan dilihat banyak orang hari ini. Wajah yang mereka kenal. Wajah yang sudah mereka cintai selama lima tahun terakhir.

Eiichi tersenyum. Senyum itu muncul begitu mudah sampai-sampai terkadang ia sendiri lupa bahwa dulu ia pernah kesulitan melakukannya.

Pukul enam lewat dua puluh menit, ponselnya kembali bergetar di atas meja makan. Satu pesan masuk.

Johnny hyung

I'm downstairs. Jangan
bilang kamu baru bangun.

Iya, baru bangun.

Eiichi.

Bercanda.
Aku udah siap.


Tidak lama kemudian, terdengar bunyi pendek dari pintu apartemennya. Seseorang sedang memasukkan kode pada digital door lock di luar unit. Eiichi tidak langsung beranjak dari tempatnya. Ia sudah tahu siapa yang datang.

Beberapa detik kemudian, kunci elektronik berbunyi pelan dan pintu terbuka.

Johnny masuk sambil membawa dua gelas kopi di tangannya. Ia menutup pintu di belakangnya, memastikan pintu kembali terkunci otomatis, lalu meletakkan salah satu gelas di atas meja sebelum menatap Eiichi dari ujung kepala sampai kaki.

"Katanya udah siap."

"Emang udah."

Johnny melirik rambut Eiichi yang masih sedikit berantakan, lalu kembali menatap wajahnya.

"Kalau ini menurut kamu udah siap, hyung jadi penasaran. Sebenarnya standar siap kamu tuh kayak gimana?"

Eiichi spontan merapikan rambutnya dengan tangan. "Emangnya rambutku berantakan?"

"Nggak parah. Masih bisa diselamatkan."

"Berarti aman."

"Yang hyung maksud tuh bukan rambut kamu."

Eiichi berhenti merapikan rambutnya dan menatap Johnny dengan bingung. "Terus apanya?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 6 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

After the LightsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang