Pravita Maharani

0 0 0
                                        

"Are you okey Pravita?"

Pertanyaan itu cukup membuatku terdiam cukup lama, bukan hanya karena namaku yang Kak Dana ucapkan dengan lengkap tapi aku tau kemana arah obrolan ini. Ini juga pasti ulah Tiwi yang menceritakan kisah galauku kepada Kak Dana.

"Okey kok" jawabku sambil mengangguk pasti walaupun aku tau Kak Dana tidak melihat hal baik yang kini tergambar jelas dari raut wajahku.

Aku masih menunduk, memilin jemariku untuk sedikit menghilangkan kegundahan. Entahlah obrolan ini terasa masih begitu berat untukku.

"Jadi dia balik Jakarta atau ga?" tanyanya lagi yang mau tidak mau membuatku mempersiapkan diri jika obrolan ini tidak akan segera berakhir sampai aku menyelesaikan semua ceritaku.

Aku mengangat kepalaku, menatap Kak Dana perlahan "Enggak, pacarnya kan kerja di Bali, jadi omongan dia yang akan balik Jakarta alesan buat buang aku aja" ucapku dengan nada semakin lirih, menceritakan ini berarti membuka kembali lembaran memuakkan yang ingin aku kubur dalam dalam.

"Terus darimana kamu tau kalo dia udah punya pacar?"

"Aku stalking akun Instagram temennya, dia bikin story yang isinya foto dia dengan pacarnya, karena tag namanya jelas jadi aku bisa tau Instagram pacarnya, jadinya yaudah aku cari tau dan ternyata mereka udah pacaran setaun lalu"

Wajah Kak Dana terlihat datar, tidak merespon apa apa cukup lama. Aku tau pasti dia kesal dan marah karena adiknya diperlakukan dengan jahat dan Kak Dana berusaha menahan diri agar tidak ikut emosi.

Entah aku juga tidak tau apa salahku yang membuatku berada di posisi ku saat ini. Melarikan diri dari Bali padahal aku sudah begitu nyaman disana, dengan suasana yang menyenangkan, teman teman yang asik, pekerjaan yang memuaskan dan segala hal baik lainnya, tapi kini semua tergantikan karena hal buruk yang namanya jatuh cinta.

"Jakarta mana sih dia?" tanya Kak Dana lagi setelah terdiam beberapa saat, berusaha menahan emosi agar ceritaku berlanjut.

Aku mengedikkan bahu tanda tidak tau, kita memang tidak menceritakan hal sejauh itu, pembicaraan mengenai keluarga masih terlalu privacy menurutku. Kedekatan selama empat bulan hanya diisi dengan hal candaan dan yang aku tau saat dia pulang kampung lebaran, dia mengatakan sibuk bolak balik Bogor, lalu kemudian komunikasi yang semakin memburuk setelah dua bulan dia mendekatiku. Laki laki dengan rasa penasarannya memang akan selesai setelah semua terjawab dan berjalan lebih mudah.

"Setidaknya kalian berjauhan, semoga saja semesta tidak mempermainkan kalian dengan sebuah pertemuan yang kebetulan"

"Ya semoga saja, setidaknya sampai aku benar benar sembuh"

"It will take a long time Pravita"

"I know"

Perbincanganpun berakhir, aku tau Kak Dana tidak benar benar ingin menyelesaikan obrolan yang bahkan kurang dari setengahnya, namun dia mungkin sadar jika aku sulit untuk menceritakan keseluruhan cerita yang berarti membuka lembaran menyebalkan itu lagi. Kak Dana kemudian pergi meninggalkanku, memberiku waktu untuk beristirahat.

Aku berbaring sambil menatap langit langit kamarku, lampu sudah sedikit redam karena harusnya aku tidur karena besok aku sudah mulai bekerja di salah satu restauran dipusat kota Jakarta.

Memikirkan bagaimana aku bisa tersesat disini tidak pernah terbayangkan olehku, selama ini aku menikmati tinggal di Bali dengan suasana yang tenang dan damai dan kini tergantikan dengan suasana ramai dan seakan kota ini tidak pernah tidur, mengubah gaya hidupku dan beradaptasi dengan lingkungan baru adalah hal yang harus aku lakukan.

Ternyata jatuh cinta begitu hebat berdampak pada hidupku, padahal aku bukan tipe perempuan yang mudah menyerah, hanya saja mau bagaimanapun aku merasa kuat dan mandiri, aku kalah dengan cerita terakhirku yang sampai saat ini tidak jarang masih membuatku menangis tengah malam.

Bagaimana laki laki itu dengan jahat menyakitiku dengan sadar, bahkan kekasihnya juga menyalahkanku menganggap aku perusak hubungan orang. Mau dipikir bagaimanapun tidak ada laki laki yang pantas aku rampas dari seorang perempuan, itu tindakan yang begitu rendah. Orang tuaku tidak pernah mengajarkan hal buruk seperti itu, tapi tentu tidak semua orang tua bisa berhasil mendidik anaknya.

Seluruh makian sempat aku lontarkan pada laki laki itu, walaupun via whatsapp tapi setidaknya memuaskanku, tidak perlu repot repot menunggu balasannya karena ketika pesan makianku terkirim aku langsung memblokir nomornya. Aku tidak penasaran dengan balasannya, jika balasannya malah semakin menyakitiku tentu aku menyesal tidak memblokirnya lebih awal, jadi aku mengantisipasi hal itu terjadi.

Karirku terasa begitu mudah, bahkan menurutku terlalu mudah. Tapi benar kata orang, karir yang sukses adalah perjalanan sulit menuju asmara yang berhasil, begitupun sebaliknya, tapi aku masih berpikir asmara dan karir adalah dua hal yang bisa diusahakan dan akan berhasil jika kita mengusahakan di jalan yang baik.

Sebelum berangkat menuju ke Jakarta, aku sudah diterima bekerja di salah satu Restauran besar di Pusat Jakarta, Avana Restauran. Interview cukup dilakukan dengan via Zoom, owner merasa cukup puas dengan pengalaman yang aku punya.

Sudah kukatakan jika karirku begitu mudah aku gapai, bekerja di dapur bukan hal sulit terlebih memasak adalah hobiku sejak dulu. Mencari resep, mencoba menu masakan baru dan mencoba hal hal yang mungkin asing bagiku sudah menjadi makanan sehari hari yang begitu aku sukai.

Mendapat karir yang bagus di Ibu kota, di tempat yang bagus dengan jabatan seorang assisten koki sudah membuatku cukup puas.

Aku memilih untuk memejamkan mata, besok hari pertamaku bekerja dan aku tidak mau terlambat. Aku hanya berharap besok akan menjadi hari yang baik untukku kedepannya dan seterusnya.

Cooking and LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang