Pravita Maharani

9 2 0
                                        

"Vita, tidak semua hal berjalan sesuai rencana"

Pravita atau yang akrab di sapa Vita hanya diam setelah kedua orang tuanya menghardiknya.

Aku kini duduk berhadapan dengan kedua orang tuaku. Mengatakan hal yang mungkin membuat mereka terkejut dengan keputusanku untuk kembali merantau ke kota yang lebih jauh, Ibu kota Jakarta.

"Ibu, Ayah, Vita hanya mencari suasana baru"

"Bukan karena kamu ditinggalkan, kan?" ucapan Ayah tentu mengusikku, aku menyesal menceritakan kegundahanku beberapa minggu ini pada Pratiwi, adik ku.

"Ayah-" belum selesai aku menjelaskan Ibu sudah memotongnya "Kamu tidak mau diam dirumah saja, mencari pekerjaan disini?"

Tawaran ibu sudah bisa aku prediksi, kedua orang tuaku memang menginginkan aku untuk bekerja di kota kelahiranku, hanya saja aku merasa tidak cocok berada di kota ini. Pilihanku pergi ke Ibu Kota bukan tanpa alasan, disana ada Pradana, kakak laki laki ku yang sudah menikah, jadi memikirkan akan tinggal dirumahnya sementara adalah rencanaku selanjutnya.

"Vita hanya ingin mencari karir yang jelas Ibu, bukan berarti karir disini tidak jelas hanya saja Vita merasa kurang cocok"

"Apa yang kurang cocok Vita, kalau kamu mencari gaji belasan juta tentu tidak akan cocok, kampung kita desa kecil" jelas Ayah yang membuatku perlu berpikir keras untuk menjelaskan pada mereka agar alasanku dapat diterima.

Aku diam sesaat, perdebatan ini tidak akan ada akhirnya jika orang tuaku masih dengan pendirian mereka yang dimana aku harus bekerja dan menetap disini. Beberapa menit kemudian ponsel Ayah yang berada diatas meja berdering, aku sempat melihat nama siapa yang tertera dilayar ponsel Ayah, Pradana, itu kakak ku.

"Halo Dana" salam Ayah ketika mengangkat telpon dari anak tertuanya.

Lama Ayah terdiam, mendengarkan apa yang anak laki lakinya itu katakan tanpa memotong sedikitpun, sesekali mengangguk, detik berikutnya menghembusan nafas gusar, lalu kemudian "Hm oke" hanya itu yang Ayah katakan lalu mengucap salam dan panggilanpun terhenti.

Ayah menatapku lekat lalu berkata "Ayah izinkan, dengan satu syarat, kakakmu akan terus mengawasi dan jika kakakmu mengatakan untuk pulang maka kamu harus pulang Pravita" ucap Ayah final yang diikuti tatapan terkejut ibu.

AKu melihat Ibu yang ingin menyanggah, hanya saja ia urungkan karena tau jika Ayah sudah membuat keputusan.

Aku senang tentu saja, sudah pasti ini perbuatan kakakku yang entah apa yang dia katakan sampai Ayah mengijinkan semudah itu, bahkan Ibu menghentikan perdebatan karena apapun keputusan Ayah adalah yang terbaik menurut Ibu.

"Iya Ayah, Vita nurut sama abang kok dan ga aneh aneh juga"

***

Hari keberangkatan pun tiba, aku menghirup udara Jakarta dengan penuh semangat. Duduk di kursi penumpang dimana abang menyetir dengan istrinya disamping kursi kemudi. Sudah hampir 30 menit abang memberikan ceramah yang entah akan berakhir sampai kapan, yang aku tau aku kini sudah tidak di Pulau Dewata itu lagi.

Jalanan Ibu Kota tidak jauh dari kata macet, penuh, ramai, dan tentu dengan asp polusi kendaraan dimana mana. Sesekali aku melirik beberapa orang yang menaiki motor, dengan jaket lusuh, helm kebesaran dan beberapa lainnya menggendong anak. Ibu Kota dengan segala hiruk pikuk dan peri kehidupan terasa menyeramkan, bahkan untukku yang baru saja menginjakkan kaki disini.

Aku memilin jari jemari, saling menggemnggam seakan menguatkan diri, jika memang tidak ditakdirkan berada disini lalu dimana lagi aku akan melarikan diri.

Melarikan diri ya?

Jika ditanya apakah aku melarikan diri? mungkin jawabannya adalah iya, aku sudah lelah terus menerus patah hati selama hidup sepuluh tahun di Bali, perjalanan asmaraku tidak pernah berjalan lancar dan itu mungkin salah satu penyebab aku memilih untuk pindah. Selama berada di Bali, beberapa kali aku memang menjalani kehidupan asmara, bukan hobi bergonta ganti pasangan, hanya saja semua tidak berjalan dengan baik.

Alasan lainnya dan mungkin pemicu aku berada disini adalah karena seorang laki laki yang mendekatiku beberapa bulan lalu, kami dekat seakan sedang membangun kecocokan, memberikan harapan untuk bisa menjalin hubungan dengannya tapi ternyata dia sudah memiliki kekasih, sungguh jahat manusia abad ini.

Jangan ditanya aku segila apa, marah, malu, kesal, sedih, patah hati, dan ribuan makian aku lontarkan setelah mengetahui laki laki itu pergi meninggalkanku begitu saja dengan alasan akan kembali ke kampung halamannya di Jakarta dan merasa tidak cocok denganku. Tidak cocok katanya padahal jelas jelas kami intens berkomunikasi saling memberi kabar, bertemu tiap akhir pekan, makan bersama bahkan menonton di bioskop yang dia pilih sendiri. Kedekatan selama hampir 4 bulan itu banyak memberi kenangan lalu tiba tiba dia memilih untuk berhenti dari pekerjaannya lalu kembali ke Jakarta padahal nyatanya dia masih berada di Bali dan kemungkinan kekasihnya akan pindah bekerja di Bali.

Kepindahanku ke Jakarta bukan untuk menyusulnya-karena alasan meninggalkanku karena ingin kembali ke Jakarta- tetapi karena kakak ku berada disini jadi aku memilih untuk merantau ke Jakarta, aku tidak mau sendiri lagi seperti saat di Bali.

Aku yang merasa marah, merasa tidak sudi berada di pulau yang sama dengan kedua orang jahat itu. Aku bahkan mengadu pada kekasihnya jika laki laki itu berselingkuh denganku tanpa aku tau jika dia sudah berpasangan, hasilnya? perempuan itu malah menyalahkanku. Pelakor katanya, memikirkannya saja membuatku kesal setengah mati, biarkanlah mereka hancur karena sifat jahat mereka, itu yang aku pikirkan.

"Kamu dengerin abang ga?" pertanyaan kakakku menyadarkanku dari lamunan, ternyata ceramahnya belum juga selesai.

"Iya abang, Vita paham" hanya itu yang aku katakan, padahal aku tidak mendengar sepenuhnya apa yang kakakku katakan, pada intinya tentu saja mengenai aku yang tidak boleh macam macam, kerja dengan baik, hidup dengan benar, jangan lupa ibadah, sering sering telpon orang tua, dan wejangan lainnya.

Laju mobil mulai pelan, deretan rumah rumah dengan ukuran cukup besar berderet di sepanjang jalan, menandakan jika sebentar lagi akan sampai. Ini kali ketigaku di Jakarta, pertama saat Kak Dana menikah dengan istrinya, kedua saat keluarga kami di kampung ingin menjenguk Kak Dana karena orang tuaku merindukan anak pertamanya itu lalu yang ketiga saat ini, dimana aku memutuskan untuk menetap cukup lama di Jakarta.

"Kita udah sampai" ucap Kak Dana setelah perjalanan cukup panjang ditambah macet membuat perjalanan semakin lama.

Aku membuka pintu mobil, merentangkan tangan untuk meregangkan badan, kakakku mengambil barang barang yang aku bawa, tidak banyak karena aku berfikir sisanya bisa aku beli disini.

"Ayo masuk" ajak kakak iparku, kak Diana.

Aku mengangguk dan berjalan dibelakangnya, Kak Dana sangat beruntung bisa menikahi Kak Diana, dia wanita yang cantik pintar dan bisa segalanya, sikapnya begitu sopan dan tidak banyak bicara, berbeda dengan Kak Dana yang cerewet.

Rumah Kak Dana cukup luas, dengan nuansa putih dan coklat muda membuat rumah ini terasa hangat dan juga cukup elegan. Pandanganku menyisiri rumah ini, tidak banyak yang berubah selain beberapa tambahan dekorasi, barang dan perintilan lucu lainnya yang aku tebak pasti ulah Kak Diana.

"Ini kamar kamu ya Vita" Kak Diana membuka lebar pintu kamar yang isinya hanya kasur, lemari, dan meja rias, kamar yang cukup luas, bersih dan terlihat nyaman "Ga banyak yang mbak isi, kata abang kamu biarin kamu aja yang dekorasi isi dalamnya, jadi isinya baru ini aja"

"Makasih ya mbak, ini aja udah cukup kok" Kak Diana mengangguk dan tersenyum, aku masuk dan mulai menata baju bajuku di lemari.

Tiga puluh menit kemudian semuanya selesai, kamarku sudah terlihat semakin nyaman dengan berbagai pernak pernik yang sengaja aku bawa. Suara ketukan pintu membuatku menoleh "Masuk" ucapku sedikit berteriak.

Pintu terbuka, perlahan aku melihat Kak Dana muncul dengan segelas susu coklat kesukaanku, aku tersenyum kecil dan menerima segelas susu coklat. Kak Dana duduk dipinggiran kasur dan aku duduk di kursi depan meja rias, pandangan Kak Dana menyusuri seluruh kamar ini yang sudah menjadi kamarku.

"Udah kelar beberes?" tanyanya yang aku jawab dengan anggukan, menyesap susu coklat dan meletakkan diatas meja rias.

Lama kita berdua terdiam dengan Kak Dana yang masih melihat sekeliling kamar ini yang sekarang sudah terisi dengan barang barangku. Aku melihat Kak Dana yang kemudian tatapan kami bertemu, aku terdiam.

"Are you okey Pravita?"

Cooking and LoveStories to obsess over. Discover now