Masa kecilku tidak dibesarkan oleh wewangian kembang atau celoteh riang di bawah rindangnya pohon mangga, bermain bersama banyak teman, sepak bola sampai menjelang Maghrib. Arenlegi, tanah di mana ari-ariku dipendam, tanah di mana aku di lahirkan, menyambutku dengan penuh kecurigaan.
Aku dibesarkan dengan banyak hinaan dan celaan, dengan cemooh yang bertubi-tubi menyayat masa kecilku. Oleh teman-teman di sekolah dasar, aku dibilang, "Anak pelacur! Makan uang jual tubuh! Bundamu penggoda, wanita nakal. Centil", dan lain-lain sebagainya.
Sudah tak dapat kuungkapkan lagi, sedemikian lara dan sakit hatiku bilamana mereka bilang demikian. Aku tidaklah akan marah bila aku yang dibilang, tetapi tidak dengan bundaku. Sebab bagiku, sekecil apa pun anak laki-laki, ibu adalah harga diri. Tapi, itu hanyalah sekadar, sebab aku belumlah dapat menghajar mereka. Aku hanya seorang diri. Ya, seorang diri.
Diam-diam, aku sering menangis di balik dinding sekolah, menatap seragamku yang lusuh. Mereka tak pernah mengerti, betapa tersayat-sayat hatiku oleh celaan beracun yang meluncur begitu mudah dari mulut-mulut mungil yang menirukan kebusukan orang tua mereka itu. Tapi di dalam dada kecilku yang gemetar, aku mengikat janji pada langit: aku akan tumbuh besar dan membuktikan pada mereka semua bahwa anak yang mereka hina ini dibesarkan oleh wanita yang sangat mulia, wanita yang tulus, yang sangat cinta kepada anaknya, meski diremehkan dan diasingkan oleh hampir seluruh jiwa di desa ini.
Dua tahun sejak kepergian Ayah, Bunda sudahlah menjadi pulih perasaanya, setidak-tidaknya atas pengamatanku. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, Bunda sangat kentara kesedihannya. Ayah, menurut penuturan Bunda, sedang merantau ke luar pulau, tapi baru kuketahui belakangan ini dan akan kuceritakan nanti.
Alih-alih mendapat dukungan dan ucapan besar hati kepada kami, tetangga kami tidaklah sama sekali punya empati, malah mengolok-olok bunda. Kata mereka, sebagaimana yang kudengar dengan kupingku, "Pantas saja suaminya tak betah. Pantas saja selingkuh. Dia kayak gitu, mengundang hasrat laki-laki, sering keluar rumah."
Maka setelah Ayah pergi, Bunda adalah janda muda yang diam-diam ternyata disukai banyak orang kampung kami. Mereka membisu, diam, tak berkata, saat Bunda dibicarakan tidak semestinya, tapi diam-diam sering mengirimkan pesan kepada Bunda. Laki-laki kepalang mati kata di hadapan sekawanannya perihal cinta.
Masyarakat Arenlegi itu buta. Mereka buta melihat ketulusan kebaikan Bunda, dan tuli dari mendengar nyaringnya suara kebenaran yang Bunda gaungkan ke luar sana. Mereka bilang tangan Bundaku kotor, sering menggoda lelaki, suka centil dan cenil hanya karena Bunda tak pernah ikut bergunjing di pos ronda atau arisan RT. Mereka tidaklah tahu, tangan yang mereka hina sebagai noda itu adalah tangan yang selalu mengusap kepalaku dengan lembut setiap malam, tangan yang menuntunku mengeja doa sebelum mata terpejam.
"Berdoalah, Nak, sebelum tidur," bisik Bunda pada suatu malam, saat angin desa meniup temaram lampu di kamar kami. Tangannya yang hangat mengusap keningku yang masih memar akibat guratan cemooh hari itu. "Manusia tidaklah punya kuasa saat tidur. Mau setinggi apa pun pangkatnya, sekuat apa ototnya, tak dapat ia menyadari tidurnya. Hingga andai mereka menyadari betapa rapuh manusia saat tidur, mereka akan bersyukur pada karunia-Nya. Berdoalah, dan mintalah kepada Tuhan. Biar kita diberi ketabahan dan rahmat-Nya."
Mereka tidak pernah tahu bahwa di kota seberang, Bunda adalah seorang psikolog klinis yang merawat jiwa-jiwa terhempas, seorang penulis buku yang lembar-lembarnya memeluk orang-orang terasing dari keputusasaan. Di luar desa, Bunda dihormati karena gagasan-gagasannya, karena kebaikannya, karena kepakarannya. Tetapi di Arenlegi, tempat kami menjejakkan kaki sehari-hari, Bunda hanyalah perempuan yang dicurigai sebagai seorang pelacur. Jahat, terlampau jahat mereka menyematkan kecurigaan itu pada Bunda. Mereka tidaklah tahu, dan tak butuh alasan selain membenci, mencurigai, membicarakan yang tidak-tidak tentang Bunda. Entah apa mau mereka.
Dan aku Rodi. Aku adalah saksi dari penderitaan seorang pahlawan yang tak pernah diberi mahkota oleh dunianya sendiri. Adalah seorang perempuan yang kupanggil ia "bunda".
Untuk Bunda dan mereka yang sedang memperjuangkan makna, tajamkan pikirmu sebelum matamu, dan bacalah perlahan-lahan ceritaku ini.
Demikian bakal jadinya ceritanya:
ESTÁS LEYENDO
BUNDA BUKAN PELACUR!
Ficción General"Bunda, teman-temanku bilang, Bunda pelacur. Pelacur itu apa?" Mata anak itu mengerjap-ngerjap ingin tahu. "Gimana kata teman-teman di kelas, Nak?" Mata perempuan berusia 30 tahun itu berkabut, tetapi ia tahan biar tak turun hujan mengaliri pipinya...
