Adalah Karin Uzumaki.
Seorang wanita mandiri. Rock star yang punya karier dan panggung khusus untuknya.
Selera musiknya... Badas!
Penampilannya.... Spektakuler!
Tinggi!
Langsing!
Rambut merah menyala!
Tatapan mata tajam dan penuh perhitungan.
Di balik kaca matanya.
Wait!
Masa rock star berkaca mata?
Ya.. itu...
Itu karena Karin rajin belajar.
Rock star yang rajin belajar?
"Bagaimana aku tidak rajin belajar kalau aku harus jadi dokter sesuai cita cita para tetua sialan itu!" Kata Karin sambil bersungut-sungut.
Suigetsu ketawa ngakak. Karin hanya mendesah, bersandar di kursi sambil menghisap rokok yang terjepit di tangannya.
Musik menggema dan seorang yunior sedang perform di atas panggung.
"Tapi... kau tetap jadi dokter juga kan? Bahkan spesialis lagi?" Kata Suigetsu.
"Ya.. mau bagaimana lagi? Kuliah kedokteran mahal. Sudah terlanjur nyemplung. Basah aja sekalian."
Pacar Suigetsu mendekati mereka. Langsung duduk di pangkuan Suigetsu. Dia rupanya sedari tadi memperhatikan percakapan mereka. "Tapi... Karin hebat.. menggeratiskan pasien yang tak mampu di kliniknya." Kata wanita itu.
"Apakah aku harus paksa mereka bayar jika memang mereka nggak manpu? Kenapa? Mau nyumbang?"
Suigetsu mendecih."mbiayain hidupku sendiri aja masih kembang kempis."
"Dikemanain keuntungan dari single mu yang viral? Jangan serakah jadi orang."
Setelah ngomong itu, Karin menandaskan rokoknya di asbak lalu berdiri untuk menuju panggung. Rupanya itu giliran dia perform.
Fans langsung mengelu-elukannya.
"Dia .... apakah mau jadi dewi?" Pacar Suigetsu jadi bertanya-tanya sendiri.
Sugetsu mengelus paha pacarnya dan menciumi leher wanita itu."Jangan perdulikan dia. Malam ini... sudah tidak mens kan?"
Wanita itu malu-malu.
"Putrimu... sudah kau ungsikan."
Wanita itu mengangguk. "Sekarang.. lihat penampilan sang dewi ya.."
Suigetsu mendesah saat pacarnya berdiri untuk jejingkrakan lagi di bawah panggung tempat Karin nyanyi.
Jadi...
Karin Uzumaki.
Rock Star.
Dokter spesialis
Menggratiskan biaya pengobatan bagi pasien yang tidak mampu.
Di klinik.
Karin memeriksa pasiennya. Dia mendesah tak habis pikir.
"Pemeriksaan condong menuju ke kehamilan." Karin menatap pasien itu.
Yang menunduk dan mengusap perutnya.
"Nyonya.. bayi anda baru usia 8 bulan dan anda hamil lagi?"
Dengan agak kikuk, pasien berkata,"Kan.. anak suami saya, dok. Saya hamil juga ada yang tanggung jawab."
"Bukan gitu!" Karin tak habis pikir.
Itu pasien yang dapat gratis biaya berobat by the way. Tapi.. hamil melulu.. dan itu kehamilan yang ke sepuluh.
Tapi.. kalau karin mengungkit hal itu. Nanti dibilang tidak ikhlas lagi.
Karin menghela nafas. Sabar... sabar...
"Pemeriksaan selanjutnya... Bawa suami anda."
"Iya dok!"
"Pasien selanjutnya!"
Perawat membantu pasien itu keluar dari poly. Lalu bertanya pada Karin. "Dok, pasien yang tadi.. apakah tetap digratiskan?"
"Mau gimana lagi? Emangnya dia punya uang."
"Tapi.. kalau begini terus, klinik ini bangkrut, dok."
"Jangan kuatir. Aku masih ada uang dari royalti laguku yang terakhir."
Perawat pun lega.
Pasien selanjutnya sudah duduk di depan Karin.
Klinik megah itu semakin ramai pasien. Bahkan mulai dikembangkan ada rawat inapnya juga.
Oke...
Benar-benar mandiri.
Tetua Uzumaki pasti bangga.
"Si merah itu memang membanggakan. Tapi... apa tidak kepikiran nikah di umur yang sudah tiga puluh tahun?"
Mito Uzumaki, tetua di keluarga itu ngedumel.
Semua orang yang ada di situ pura-pura tak dengar. Nagato melipat kertas. Belajar origami dengan mengingat ingat yang telah diajarkan istrinya, Konan. Kushina menscrol hapenya yang menampakkan ecomerce lalu check out tas keluaran terbaru. Naruto menatap layar Handphone yang menampakan video istrinya, Hinata yang seksi menggodanya saat bulan madu.
Merasa tak dihiraukan, Mito mengebrak meja.
"Kalian dengar tidak?"
Semua kicep.
"Maaf... apa yang nenek bilang tadi?" Tanya Kushina.
"Makanya kalau orang tua ngomong itu dengerin?"
Semua mode siap terima perintah.
"Apakah ada berita kapan Karin nikah?"
Nagato mendecih,"Uarakab gitu siapa yang nikahin?"
Mito langsung mendelik. Nagato kicep.
"Naruto! Bagaimana sepupumu itu?" Tanya Mito.
"Kakak belum pernah bilang apa pun."
"Istrimu ada bilang sesuatu tentang Karin? Mereka kan berteman"
Naruto menggeleng.
Mito ngedumel lagi. "Dia cantik. Pintar. Kaya. Sayang gen seperti ini disia-siakan."
Nagato hampir tersedak karena geli.
Mito mendelik lagi padanya.
"Maaf." Ucap Nagato lirik.
Lalu Mito menatap Naruto. "NAruto! Carikan Karin Jodoh!"
"Apa? Nek.. kenapa harus aku?"
"Kau adalah leader Uzumaki untuk saat ini! Tentu saja kau harus tanggung jawab pada seluruh anggota Uzumaki. Termasuk kakak sepupumu itu."
"Nek.. nenek tahu sendiri bagaimana Kakak kalau dia tahu aku ikut campur urusan pribadinya."
"Pokoknya aku nggak mau tahu! Kau harus carikan Karin Jodoh! Harus!"
Naruto meratapi nasibnya. Nagato dalam hati bilang,"Rasain!"
"Ibu!" Naruto merajuk ke Kushina.
Kushina mengelus lengan Naruto."Sudah.. sudah ah... carikan saja dulu." Kata Kushina. ..
Seperti mudah aja nyarinya.
Naruto jadi pusing tujuh keliling.
Tugasnya berat. Bukan hanya memimpin perusahaan keluarga. Tapi juga...
"Kumpulkan keluarga pewaris di seluruh kota. Cari yang masih single dan tahan banting. Dan ingat... harus jago bersilat lidah juga."
"Baik, Tuan Uzumaki."
Sang asisten garuk-garuk kepala. Bersilat lidah? Maksudnya?
Tbc.
YOU ARE READING
Love on The Screen
FanfictionKarin x Sasuke Mereka hanya diam. Netizen saja yang otaknya traveling
