A Little Bit Of Sunlight

403 74 9
                                        

Oneshot
Vote dulu sebelum baca, thank you!! 🍓🌴

.









Jiwoo sudah lama lulus kuliah, usianya dua puluh tiga tahun ketika ia bertemu dengannya.

Dia. Segalanya tentang dia yang hampir merenggut napas Jiwoo sejak pandangan pertama.

Dia, dengan rambut cokelat yang tergerai, mata bulatnya, dan senyum adiktif yang entah bagaimana terus menyelinap ke pikiran Jiwoo di waktu-waktu paling aneh-saat duduk di meja kerja, saat berbaring di tempat tidur. Sesuatu yang manis dan menggemaskan, tapi selalu bergerak, selalu mencari musim semi bahkan di tengah musim dingin yang paling dingin.

Musim dingin itu adalah yang terdingin kedua sepanjang hidup Jiwoo, dan Jiwoo membenci dingin.

Dingin membuat jari-jarinya nyeri dan tubuhnya menggigil, membuat ujung telinganya terasa terbakar. Ia bisa samar-samar melihat embusan napasnya sendiri, dan matahari selalu terbenam terlalu cepat.

Padahal, sebagai seseorang yang betah menghabiskan waktu di rumah, Jiwoo justru menikmati sinar matahari yang menerobos celah tirai kamarnya tepat di tengah hari.

Jiwoo mengingat musim dingin itu karena saat itu ia bahkan belum benar-benar masuk ke dalam lingkaran orang-orang terdekatnya. Ia hanya mengambang di sekitarnya, menangkap sedikit demi sedikit kepingan tentang siapa sebenarnya perempuan itu.

Jiwoo mengingatnya dengan sangat jelas, seolah-olah semua itu baru terjadi kemarin pagi.

Ia sedang duduk di sebuah kafe yang ramai, dengan sinar matahari pagi yang masih terlalu dini menembus jendela-jendelanya. Cahayanya terasa anehnya terang, nyaris putih. Jiwoo rasa itu memang wajar untuk pukul enam pagi di musim dingin.

Pesanannya sudah datang-americano, selalu dingin, bahkan dalam suhu sedingin ini. Laptopnya sudah terbuka, bersiap mengikuti rapat daring yang sebenarnya tidak terlalu ia pedulikan, tapi tetap harus diikuti.

Dan Jiwoo mengingatnya.

Barista di kasir, rambut diikat menjadi ekor kuda, mata hangat dan senyum ramah saat menyambut pelanggan berikutnya. Beberapa helai rambut jatuh di sisi wajahnya. Ia mengenakan kacamata berbingkai kawat tipis berwarna perak, yang menggantung rendah di batang hidungnya.

Seragam kafe itu terdiri dari kemeja putih berkancing yang dimasukkan ke dalam celana panjang hitam. Celemek cokelat terikat erat di pinggangnya. Dari tempat Jiwoo duduk, ia terlalu jauh untuk bisa melihat name tag-nya, apalagi membaca tulisan di sana.

Itu hanya sesaat

Pertemuan sederhana yang berlalu begitu saja.

Seperti komet yang melesat melintasi langit bumi; kilatan singkat dari satu momen yang hanya terjadi sekali.

Mulut Jiwoo mendadak terasa kering ketika melihat sang barista mengerutkan hidungnya, berusaha mendorong kacamatanya kembali ke atas sambil menerima pesanan pelanggan. Ia bekerja dengan tekun, memasukkan pesanan ke sistem, lalu menuliskannya di gelas.

Ekspresi konsentrasi itu muncul lagi. Hidungnya kembali mengerut.

Jiwoo mengembuskan tawa kecil, nyaris tanpa suara, tawa yang hanya dimaksudkan untuk didengarnya sendiri.

Laptopnya akhirnya tersambung.

"Jiwoo-ssi?"

Suara atasannya menggema melalui earbud, dan Jiwoo buru-buru mengalihkan pandangan dari sosok barista berambut cokelat itu.

Dari sudut matanya, ia masih bisa melihat perempuan itu melanjutkan pekerjaannya, sampai akhirnya menghilang melalui pintu belakang kafe.

Jiwoo tidak melihatnya lagi selama sisa waktunya di sana.

A little bit of Sunlight | WoomenStories to obsess over. Discover now