KAKEK PENGUKIR KAYU

4 0 0
                                        

⚠️⚠️ Typo bertebaran

Happy reading ✨✨

Pagi di Karang Asri datang tanpa suara.

Tidak ada suara kendaraan yang melintas di depan Villa Amerta. Tidak ada suara orang berbicara dari rumah-rumah sekitar. Bahkan burung yang biasanya terdengar sejak matahari mulai muncul seolah memilih untuk diam.

Namun cahaya pagi tetap masuk melalui celah-celah tirai.

Sinar pucat menimpa lantai kayu kamar Otto dan Patji.

Otto membuka mata lebih dulu.

Ia tidak langsung bangun.

Beberapa detik ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit.

Kemudian ia mendengar sesuatu.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara kecil.

Seperti benda keras yang dipukulkan pada kayu.

Tok.

Tok.

Tok.

Otto mengangkat kepala.

Patji masih tertidur di tempat tidur sebelah.

"Patji."

Tidak ada jawaban.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Otto turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

Koridor kosong.

Ia berjalan menuju tangga.

Suara tersebut masih terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

Otto menoleh ke ruang utama.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia kemudian menyadari suara itu berasal dari luar.

Otto membuka pintu depan.

Udara pagi langsung menyentuh wajahnya.

Halaman Villa Amerta kosong.

Tidak ada orang.

Tidak ada aktivitas.

Hanya sebuah ranting pohon yang bergerak perlahan karena angin.

Tok.

Otto menatap pohon tersebut.

Sebuah cabang kecil mengetuk dinding kayu villa.

Tok.

Ia tersenyum kecil.

"Kirain apa."

Otto kembali masuk.

Beberapa menit kemudian Patji bangun.

"Jam berapa?"

"Setengah tujuh."

"Sudah pagi?"

"Sudah."

Patji duduk sambil mengusap wajah.

"Semalam kamu tidur?"

"Kenapa?"

"Kelihatannya kurang tidur."

Desa Tanpa BayanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang