⚠️⚠️ Typo bertebaran
Happy reading ✨✨
Hujan baru saja berhenti ketika mobil van berwarna hitam itu meninggalkan jalan utama dan mulai memasuki jalur pegunungan.
Aspal yang sejak tadi cukup lebar perlahan menyempit. Pepohonan tumbuh semakin rapat di kedua sisi jalan, membentuk semacam lorong hijau yang membuat cahaya matahari sore hanya mampu menembus dalam potongan-potongan kecil.
Di dalam mobil, suasananya justru jauh dari menyeramkan.
Musik mengalun dari speaker. Sesekali terdengar suara tawa. Bungkus makanan ringan berserakan di antara tas-tas perjalanan. Kamera milik Teetee beberapa kali berpindah tangan karena hampir semua orang ingin mengambil foto.
"Kalau nanti ternyata villanya jelek, aku yang pertama protes," kata Thee dari kursi belakang.
North yang duduk di sebelahnya langsung tertawa.
"Kenapa protes? Yang cari villa siapa?"
Thee menunjuk Otto yang duduk di kursi depan.
"Dia."
Otto yang sedang membuka jurnal kecil di pangkuannya bahkan tidak menoleh.
"Dan kalian semua menyetujui."
"Karena foto di internet bagus," jawab Thee.
"Foto di internet memang selalu bagus."
"Berarti kalau jelek, salah internet."
"Logikamu luar biasa," kata Patji datar.
Thee menoleh.
"Aku tahu."
Gelak tawa kembali memenuhi mobil.
Delapan orang itu memang sudah merencanakan perjalanan tersebut selama beberapa minggu.
Otto, Patji, Por, Wave, Teetee, North, Thee, dan Hugh.
Mereka berasal dari lingkaran pertemanan yang berbeda-beda, tetapi entah bagaimana selalu berakhir melakukan perjalanan bersama. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang pertama kali mengusulkan Karang Asri.
Yang mereka tahu, beberapa minggu sebelumnya Otto mengirim sebuah tautan ke grup percakapan mereka.
DESA KARANG ASRI - DESTINASI TERSEMBUNYI DI BALIK PEGUNUNGAN
Di bawah judul itu terdapat beberapa foto.
Hamparan sawah.
Rumah-rumah kayu.
Pegunungan berkabut.
Sebuah waduk besar yang permukaannya tampak hitam kebiruan ketika terkena bayangan bukit.
Dan sebuah villa tua yang berdiri agak jauh dari permukiman.
Namanya Villa Amerta.
Menurut informasi yang mereka baca, Karang Asri merupakan desa yang cukup tua dan terletak jauh dari jalur wisata utama. Desa tersebut dikenal sebagai tempat yang tenang, memiliki udara sejuk, pemandangan alami, dan tradisi masyarakat yang masih dipertahankan.
Justru keterasingan itulah yang membuat mereka tertarik.
Mereka ingin menjauh dari kota selama beberapa hari.
Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada tugas.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada rutinitas.
Hanya delapan orang, pegunungan, dan sebuah desa yang hampir tidak pernah mereka dengar sebelumnya.
YOU ARE READING
Desa Tanpa Bayangan
HorrorTentang por, wave, patji, otto, teetee, north, thee, dan hugh yang hanya ingin menikmati liburan bersama di sebuah desa yang indah dan asri tapi malah mendapat banyak sekali gangguan-gangguan dari berbagai sosok dari desa tersebut dan hal tersebut m...
