Bab 1

1.1K 15 0
                                        

Ini adalah kunjungan pertama Chiko ke kampung halaman pacarnya.

Chiko bertemu dengan Deni melalui sebuah dating app. Sejak kecil, Chiko tumbuh dengan tubuh yang berbeda dari kebanyakan laki-laki. Tubuhnya tidak sepenuhnya laki-laki, tetapi juga tidak sepenuhnya perempuan, sementara wajahnya memiliki fitur yang cenderung feminin.

Perbedaan itu membuat Chiko terbiasa menjaga jarak dari orang lain. Ia selalu takut ditolak, takut dianggap aneh, atau dipandang berbeda ketika seseorang mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya. Hingga akhirnya Deni datang - pria yang sederhana, jujur, dan tulus tanpa bertanya-tanya lebih dulu. Deni mendekatinya dengan perhatian yang murni, seakan tidak melihat apa yang membuat Chiko berbeda.

Itulah sebabnya Chiko langsung membuka hatinya. Bukan karena ingin segera berpasangan atau merasa terburu-buru, melainkan karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang mendekatinya tanpa rasa heran, tanpa rasa jijik, tanpa syarat. Chiko merasa dilihat dan diterima apa adanya.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa perjalanan ini akan mempertemukannya dengan sosok yang begitu luar biasa.

Begitu tiba di desa, pandangan Chiko langsung tertuju pada seorang pria yang berdiri tak jauh darinya. Tingginya hampir mencapai seratus sembilan puluh sentimeter. Usianya tampak sekitar empat puluh tahun, dengan wajah tampan dan maskulin serta perawakan yang tegap dan kokoh.

Kulitnya kecokelatan dan tampak lebih gelap akibat bertahun-tahun bekerja di bawah terik matahari. Dari balik pakaian sederhananya, terlihat jelas tubuh yang berisi dan berotot, terbentuk dari pekerjaan berat yang telah menjadi bagian dari kesehariannya.

"Chiko, ini ayahku. Panggil saja Ayah Joni," ucap Deni sambil tersenyum.

Chiko mendongak menatap pria kekar di hadapannya. Tubuh Pak Joni menjulang tinggi, tegap dan kokoh seperti tiang kayu yang telah lama berdiri menghadapi panas dan hujan. Tanpa sadar, Chiko kemudian melirik Deni yang tingginya hanya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter.

Perbedaan tinggi keduanya cukup mencolok.

Jantung Chiko berdegup lebih cepat. Ada sesuatu dari sosok Pak Joni yang membuatnya merasa kecil sekaligus gugup. Tatapannya tegas, pembawaannya berwibawa, dan seluruh dirinya memancarkan aura yang sulit diabaikan. Entah mengapa, ketegasan itu justru membuat Chiko semakin salah tingkah.

Mata Pak Joni tampak cekung, tetapi tatapannya tajam dan sulit ditebak. Ketika pandangan mereka bertemu, sorot mata pria itu seolah berubah menjadi lebih gelap dan dalam. Chiko refleks menelan ludah.

Tatapan itu terasa begitu intens, seakan-akan Pak Joni sedang mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki.

Apakah Ayah Deni tahu? Apakah beliau sudah menyadari siapa diriku sebenarnya?

Kecemasan tiba-tiba menyergap Chiko. Jemarinya menegang tanpa sadar, sementara ia berusaha mempertahankan wajah setenang mungkin.

Namun, Pak Joni belum mengatakan apa-apa.

Chiko hanya berdiri di tempatnya. Tubuhnya ramping dengan garis tubuh yang lembut, wajahnya cantik, kulitnya cerah, dan pembawaannya anggun. Bagi siapa pun yang melihatnya sekilas, Chiko hanyalah sosok yang tampak menawan dan lembut.

Tak seorang pun akan mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Rahasia tentang dirinya yang bahkan belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun-termasuk Deni.

Deni sepertinya menyadari kegelisahan yang berusaha disembunyikan Chiko. Perlahan, ia meraih tangan Chiko dan menggenggamnya dengan lembut.

"Jangan cemas, Sayang. Ayah cuma ingin mengenalmu. Aku yakin, nanti Ayah akan menyukaimu," bisiknya menenangkan.

Chiko menunduk. Wajahnya seketika memerah. Ia memang belum pernah benar-benar berterus terang kepada siapa pun tentang dirinya. Selama ini, rahasia itu selalu ia simpan rapat-rapat karena takut penerimaan orang lain akan berubah setelah mereka mengetahuinya, dan diperhatikan sedemikian rupa oleh calon ayah mertuanya membuatnya semakin gugup.

Setelah menatapnya cukup lama, Pak Joni akhirnya memalingkan wajah. "Baiklah, Deni... bawalah pasanganmu pulang," ucapnya dengan suara berat dan serak.

Chiko menunduk. Hubungannya dengan Deni memang masih terbilang baru. Mereka belum lama berpacaran dan belum benar-benar mengenal satu sama lain secara mendalam. Namun, ada ketulusan dan kesabaran dalam diri Deni yang perlahan membuat Chiko berani membuka sedikit ruang di hatinya.

Itulah sebabnya ia bersedia mengikuti Deni sampai ke desa ini. Ia hanya berharap bisa diterima apa adanya. Berharap rahasia yang selama ini disimpannya tidak menjadi alasan bagi keluarga Deni untuk menolaknya-atau bahkan mengusirnya.

Mereka kemudian berjalan mengikuti Pak Joni menuju rumah.

Desa itu sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Rumah-rumah berdiri dengan halaman yang lapang, dikelilingi pepohonan dan kebun yang hijau. Namun, rumah Deni terlihat cukup kokoh dan terawat. Bangunannya beratap genteng, dengan ruang tamu di bagian depan, sebuah ruang tengah yang cukup luas, serta dua kamar tidur.

Dari arah belakang rumah, asap tipis mengepul dari dapur. Meski sederhana, segala sesuatu tampak tertata rapi. Peralatan dapur tersusun pada tempatnya, lantainya bersih, dan halaman di depan rumah pun nyaris tak menyisakan sampah. Melihat suasana itu, entah mengapa hati Chiko sedikit lebih tenang. Setidaknya, untuk sementara, tempat ini tidak terasa semenakutkan yang ia bayangkan.

Pak Joni bukan orang yang banyak bicara. Beberapa warga menyapa saat mereka lewat, dan ia menjawab seperlunya sebelum mengantar mereka masuk.

Sesampainya di halaman rumah, Chiko kembali merasa canggung. Ia menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Deni "Sayang... di mana tempat buang airnya?"

Suaranya terdengar pelan. Ia sebenarnya malu harus menanyakannya, tetapi ia juga tidak tahu harus pergi ke mana. Belum sempat Deni menjawab, suara Pak Joni terdengar dari dekat mereka "Mau ke belakang?"

Chiko spontan menoleh. Wajahnya seketika memerah. Ia mengangguk kecil "Iya... maaf."

Pak Joni justru menatapnya dengan tenang "Untuk apa malu? Itu hal biasa."

Chiko menunduk semakin dalam. Ayah Deni ternyata benar-benar blak-blakan.

Deni segera menggenggam tangannya, lalu tersenyum menenangkan. "Jangan tersinggung. Ayah memang begitu. Maksudnya baik."

Chiko mengangguk pelan dan berusaha tersenyum. "Aku tahu."

Pak Joni kemudian menunjuk ke arah belakang rumah. "Toiletnya di sebelah sana. Masuk saja."

"Terima kasih..." jawab Chiko lirih. Chiko berjalan ke sana. Tempat itu cukup bersih, baunya tidak seburuk yang dibayangkannya. Namun tiba-tiba ia melihat sepasang mata mengintip dari celah dinding! Ia menjerit kaget seketika.

Pak Joni adalah orang pertama yang berlari mendekat dan masuk tanpa mengetuk. Chiko buru-buru menutup pakaiannya, namun bagian bawah tubuhnya sempat terlihat - lekuk pinggang ramping dan bokongnya yang seputih susu. Ia menunduk malu luar biasa.

"K... kenapa Ayah masuk tanpa menggetuk?!" suaranya bergetar.

"Kamu berteriak begitu keras, aku takut ada yang mencelakai kamu," jawab Pak Joni tenang, matanya menatapnya, seakan tidak melihat apa-apa meski jelas sempat melihatnya.

"Aku cuma kaget..." Chiko menoleh ke arah celah itu, namun mata tadi sudah hilang. Ia menduga itu warga yang iseng.

Rasa malu dan takut bercampur. Ia bahkan belum berani bercerita soal dirinya kepada Deni. Namun sekarang tubuhnya dilihat oleh Pak Joni sendiri.

Suasana menjadi kian canggung. Pak Joni menatapnya tajam, "Ada yang mengintip, bukan?"

"Ehm... aku tidak yakin..."

"Pasti anak nakal dari sebelah," gumamnya. "Lain kali kalau mau ke belakang, panggil saja aku. Aku akan menjagamu di luar."

Chiko terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tawaran itu tulus namun membuatnya semakin gugup. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menunduk.

"Terima kasih... tapi aku bisa sendiri."

(TBC...)


Le Désir de ChikoStories to obsess over. Discover now