Suara knalpot motor terdengar keras dari gerbang sekolah.
BRMMM—BRMMM!
Beberapa siswa yang sedang berjalan langsung menoleh, motor-motor besar memasuki halaman sekolah satu per satu. Jaket hitam, helm full face, dan suara mesin yang membuat suasana pagi yang tadinya tenang berubah menjadi ramai.
"Anak-anak itu datang lagi."
"Siapa?"
"Ya siapa lagi? Gengnya Raka."
Cera yang sedang berjalan sambil menggigit roti hanya mengangkat alis.
"Raka?"
Temannya, Naya, langsung menarik lengannya.
"Jangan keras-keras!"
"Kenapa?"
"Lo nggak tahu Raka?"
Cera menggeleng santai.
"Emang dia kepala sekolah?"
Naya hampir tersedak.
"Cera!"
Cera malah tertawa.
"Ya ampun, Nay. Gue cuma nanya."
Belum sempat Naya menjawab, suara motor berhenti tepat tidak jauh dari mereka seorang cowok turun dari motor hitamnya, jaket hitam, celana jeans gelap, cepatu hitam, helm masih menutupi wajahnya cowok itu membuka helm perlahan, rambut hitamnya sedikit berantakan, sementara tatapannya langsung menyapu halaman sekolah.
cewe-cewe yang melihat langsung histeris
ganteng banget,
gila tipe gua banget...
begitlah kira-kira pembicaraan cewe-cewe pagi ini di gerbang sekolah ketika melihat cowo di balik helm hitam tersebut. Dia adalah ketua geng motor yang sangat di takuti di seluruh Bandung.
Raka.
Cowok yang namanya sudah cukup membuat sebagian siswa memilih minggir.
Naya langsung berbisik.
"Itu orangnya."
Cera melirik.
"Oh."
"OH DOANG?"
"Iya. Terus gue harus tepuk tangan?"
"Cera, sumpah, mulut lo—"
"Kenapa?"
Raka yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti.
Tatapannya mengarah tepat kepada Cera, Cera yang merasa diperhatikan langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa lihat-lihat?"
Naya langsung memejamkan mata.
Ya Tuhan, dia cari masalah.
Raka tidak menjawab.
Dia hanya menatap Cera beberapa detik sebelum akhirnya berjalan mendekat, semakin dekat, semakin membuat Naya ingin menghilang.
Sementara Cera?
Dia masih santai memakan rotinya.
Raka berhenti tepat di depan Cera.
"Lo."
Cera menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?"
"Iya."
"Ada apa?"
Raka menatap roti di tangan Cera.
"Belum sarapan?"
Cera mengernyit.
"Terus?"
"Jangan makan sambil jalan."
Cera langsung tertawa kecil.
"Hah?"
Raka mengulurkan tangannya.
"Kasih."
Cera malah memeluk rotinya.
"Ogah."
Tatapan Raka berubah.
"Cera."
Cera terdiam.
"Lo tahu nama gue?"
Raka memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
"Tahu."
"Kenapa?"
"Karena gue tahu."
"Jawaban macam apa itu?"
Raka tidak menjawab.
Dia hanya menatap Cera sebentar, kemudian berjalan pergi Cera melihat punggungnya dengan ekspresi bingung.
"Orang aneh."
Naya langsung menarik Cera.
"Lo gila?"
"Kenapa?"
"Itu Raka!"
"Terus?"
"Dia nggak pernah ngobrol sama cewek sembarangan."
Cera mengangkat bahu.
"Mungkin dia lagi gabut."
Naya menghela napas panjang.
"Semoga lo tahu apa yang baru aja lo mulai."
Jam istirahat.
Cera sedang duduk di kantin bersama Naya ketika seorang cowok dari kelas sebelah datang menghampiri.
"Cera."
Cera menoleh.
"Oh, Dimas."
Dimas tersenyum.
"Lo nanti pulang naik apa?"
"Naik angkot."
"Gue antar."
Cera tertawa.
"Serius?"
"Iya."
Belum sempat Cera menjawab, suara kursi bergeser terdengar dari belakang.
GREEK.
Cera menoleh.
Raka berdiri beberapa meter dari mereka tatapannya tajam.
Dimas yang awalnya santai langsung diam.
Raka berjalan mendekat.
Satu langkah, Dua langkah sampai akhirnya berdiri di samping meja Cera.
"Lo pulang sama siapa?"
Cera mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Gue tanya."
"Ya gue jawab kalau gue mau."
Naya menahan napas.
Dimas melihat Raka, lalu Cera.
"Kalau gitu gue duluan, Cer."
Dimas pergi.
Cera menatap kepergiannya, kemudian kembali menatap Raka.
"Lo ngapain?"
Raka menarik kursi dan duduk di depan Cera.
"Gue nggak suka dia."
Cera mengerutkan dahi.
"Terus hubungannya sama gu
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Rider
RomanceDi sekolah, semua orang tahu siapa "Raka" Ketua geng motor yang selalu datang dengan motor hitamnya, tatapan dingin, wajah yang nyaris tak pernah menunjukkan emosi, dan sifat yang membuat sebagian besar siswa memilih untuk tidak mencari masalah deng...
