Rumah selalu terasa terlalu sempit bagi Bayu jika ada Hendry di dalamnya. Setiap sudut ruangan seolah menyimpan sisa aroma parfum maskulin sang abang yang selalu berhasil membuat dadanya bergemuruh. Obsesi itu bukan lagi sekadar kekaguman seorang adik. Sejak menginjak usia sembilan belas tahun, Bayu tahu dia menginginkan Hendry lebih dari apa pun—dia menginginkan abang kandungnya sendiri sebagai seorang pria.
Malam ini, jam dinding di ruang tengah baru saja berdentang dua kali. Orang tua mereka sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, menyisakan kesunyian yang pekat di dalam rumah. Kesunyian yang bagi Bayu adalah sebuah kesempatan.
Dengan langkah tanpa alas kaki, Bayu berjalan menyusuri koridor lantai dua. Dia hanya mengenakan celana pendek kain tipis dan kaus putih yang agak longgar. Di depan pintu kamar Hendry, dia berhenti. Tanpa mengetuk, Bayu memutar kenop pintu yang untungnya tidak dikunci.
Di dalam kamar yang remang-remang, Hendry sedang berbaring telentang. Kaus hitamnya sedikit terangkat, memperlihatkan perutnya yang rata dan atletis. Suara derit pintu membuat Hendry langsung membuka mata. Dia terkejut melihat sosok adiknya berdiri di ambang pintu.
"Bayu? Ada apa? Belum tidur?" tanya Hendry, suaranya berat dan serak khas bangun tidur. Dia langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang, mencoba mengumpulkan kesadarannya sebagai abang yang rasional.
Bayu tidak menjawab. Dia menutup pintu di belakangnya, menguncinya dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar begitu nyata di telinga Hendry. Bayu berjalan mendekat, tatapan matanya lurus, tajam, dan penuh dengan binar gairah yang tidak lagi disembunyikan.
"Bayu..." Hendry memperingatkan; nadanya berubah tegas saat menyadari gelagat tidak biasa dari adiknya. "Kembali ke kamar kamu. Ini sudah malam."
Bukannya mundur, Bayu justru merangkak naik ke atas ranjang Hendry. Gerakannya luwes seperti kucing, memangkas jarak hingga dia berlutut tepat di hadapan abangnya. Aroma tubuh Bayu yang segar bercampur dengan kehangatan malam langsung menyerang indra penciuman Hendry.
"Di kamar Bayu dingin, Bang," bisik Bayu. Suaranya rendah, sengaja diembuskan di dekat ceruk leher Hendry. Jemari lentik Bayu perlahan terangkat, mendarat di dada Hendry, merasakan detak jantung sang abang yang mulai berpacu cepat. "Bayu mau tidur di sini. Sama Abang."
"Bayu, stop. Kita sudah bahas ini, jangan mulai lagi," ucap Hendry tertahan. Tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan Bayu, mencoba menjauhkannya. Sisi rasional Hendry berteriak bahwa ini salah. Mereka adalah saudara kandung. Ada norma yang mengikat mereka.
Namun, saat Bayu sengaja memajukan tubuhnya hingga dada mereka saling bergesekan dan sepasang mata bulat milik adiknya itu menatapnya penuh permohonan sekaligus godaan yang menantang, Hendry merasakan benteng pertahanannya mulai retak. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Bayu perlahan melonggar, berubah menjadi pegangan yang menahan tubuh sang adik agar tidak menjauh.
Napas Hendry tertahan di tenggorokan. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Bayu mengeras, mencoba sekuat tenaga mempertahankan sisa-sisa akal sehatnya. Di bawah temaram lampu kamar, wajah Bayu berada begitu dekat, memancarkan kepatuhan sekaligus dominasi yang aneh.
"Bayu, keluar. Sekarang," geram Hendry. Suaranya bergetar, bukan karena marah, melainkan karena berjuang melawan gejolak yang mulai membakar bagian bawah perutnya.
Bukannya mematuhi perintah itu, Bayu justru memberikan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan. Dia tahu persis efek yang dia berikan pada abangnya. Perlahan, Bayu melepaskan tangannya dari dada Hendry, lalu bergerak mundur perlahan hingga duduk bersimpuh di atas kasur, tepat di depan Hendry.
Tanpa memutuskan kontak mata, suasana di dalam kamar itu menjadi semakin berat dengan ketegangan yang tak terucapkan. Hendry membuang muka, mencoba mencari udara segar di tengah atmosfer yang menyesakkan. Konflik batin terpancar jelas dari rahangnya yang mengeras, berusaha mempertahankan batasan yang selama ini dia jaga.
"Bayu, tolong... jangan seperti ini," suara Hendry melemah, bukan karena menyerah, melainkan karena kelelahan emosional.
Bayu tidak segera menjawab, namun kehadiran dan tatapannya yang intens cukup untuk membuat Hendry merasa terpojok. Ruangan itu kini dipenuhi oleh keheningan yang sarat akan pertanyaan tentang hubungan mereka ke depannya. Garis batas yang selama ini terlihat jelas kini tampak kabur, menciptakan dilema moral yang mendalam bagi mereka berdua.
Logika dan perasaan saling berbenturan di dalampikiran Hendry, membuatnya sadar bahwa malam ini akan mengubah segalanya diantara mereka. Ketegangan ini bukan sekadar tentang kehadiran fisik, melainkantentang rahasia dan perasaan yang selama ini terkubur rapat.
Detik ketika Bayu memilih untuk bertindak lebih jauh, seluruh sisa kata di dalam kamar itu mendadak menguap. Di bawah temaram lampu yang redup, Bayu mengabaikan peringatan verbal dari abangnya. Dengan gerakan yang berani dan penuh tekad, kedua tangan Bayu bergerak turun, meraih pinggiran celana yang dikenakan oleh Hendry.
Hendry tersentak. Napasnya memburu saat merasakan jemari adiknya dengan cekatan mulai melonggarkan ikatan celananya. "Bayu... jangan..." rintih Hendry, namun suaranya kini terdengar begitu lemah, kehilangan semua ketegasan dan otoritas yang biasanya dia miliki sebagai seorang abang.
Ketika kain celana itu perlahan bergeser turun, kontak fisik yang selama ini mereka hindari kini terjadi tanpa ada lagi sekat yang membatasi. Gesekan langsung kulit mereka yang panas seketika mengirimkan sengatan gairah yang begitu dahsyat ke seluruh tubuh Hendry. Logika, norma, dan ketakutan akan status saudara kandung yang selama ini dia pertahankan mati-matian mendadak runtuh tak bersisa.
Hendry tidak bisa lagi membohongi tubuh dan hatinya sendiri. Gairah yang telah lama dipendamnya sebagai respons atas godaan Bayu kini meledak sepenuhnya.
Hendry memejamkan mata, merasakan beratnya situasi yang kini menjerat mereka berdua. Keheningan di kamar itu terasa menyesakkan, mencerminkan kerumitan emosi yang tidak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata. Malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya, di mana batasan antara persaudaraan dan konflik pribadi menjadi kabur, meninggalkan mereka dalam ketidakpastian yang mendalam tentang masa depan hubungan mereka.
Bersambung .....
YOU ARE READING
Adikku
RomanceBayu selalu menganggap keluarganya sempurna-hingga sebuah rahasia mulai menggerogoti kehidupannya dari dalam. Di balik dinding rumah yang tampak tenang, tersimpan obsesi, kecemburuan, dan kebohongan yang perlahan menghancurkan hubungan orang-orang t...
