HAPPY READING!!
Suasana koridor Rumah Sakit terasa begitu mencekam sore itu. Bau khas antiseptik yang menusuk hidung seolah menjelma menjadi udara yang mendinginkan darah. Di dalam salah satu ruang pemeriksaan, waktu seolah berhenti berputar
Detik jam dinding terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap menjatuhkan vonis paling kejam bagi masa depan seorang gadis.Sherly, seorang anak gadis yang sejak lahir harus membawa takdir malang berupa kelainan pada rahimnya, hanya bisa tertunduk lesu
Di sampingnya, Dhiwa sang ibu, dan Arman sang ayah, menggenggam jemari putri mereka dengan tubuh yang gemetar. Tangan yang biasanya hangat itu kini sedingin es
Di hadapan mereka, Bidan Dina menatap lembar hasil pemindaian dengan raut wajah yang amat berat. Kerutan di dahinya mempertegas bahwa apa yang tertulis di atas kertas itu bukanlah sebuah kabar baik
"Kondisi rahim Sherly semakin melemah karena kelainan bawaan ini," ucap Bidan Dina
Suaranya yang parau terdengar seperti hantaman gada besi bagi semua orang di ruangan itu
Bidan Dina menghela napas pendek, menatap lurus pada manik mata Sherly yang mulai berkaca-kaca.
"Satu-satunya kesempatan jika Sherly ingin memiliki keturunan adalah... dia harus cepat menikah dan segera hamil. Jaringan rahimnya mengalami degenerasi yang sangat cepat. Jika tidak dipicu oleh hormon kehamilan dalam waktu dekat, rahimnya harus diangkat demi keselamatan jiwanya
"Dunia rasanya runtuh seketika. Vonis itu begitu kejam, menebas habis seluruh mimpi masa muda yang baru saja ingin dirajut
Bagaimana mungkin seorang gadis belia yang bahkan belum menyelesaikan pendidikannya dituntut untuk segera melepaskan masa mudanya dan melangkah ke pelaminan secepat ini?
Tuntutan untuk cepat menikah bukan lagi sebuah kabar bahagia, melainkan sebuah paksaan takdir yang menghimpit dada
Mendengar kenyataan pahit itu, pertahanan Sherly hancur, Isak tangis yang sejak tadi ditahannya kini pecah menjadi raungan memilukan. Rasa malu, takut, dan marah bercampur aduk membakar dadanya
Tanpa memedulikan panggilan panik orang tuanya, Sherly bangkit berdiri. Ia berlari badai keluar dari ruangan, menyeka air mata yang menderu deras di pipinya
"Sherly! Tunggu, Nak!" teriak Arman panik. Wajah sang ayah pias seketika. la dan Dhiwa bergegas bangkit, hendak mengejar putri tunggal mereka yang kehilangan arah
Namun, di ambang pintu, langkah mereka tertahan oleh
Darrel pacar Sherly
yang sejak awal setia menunggu di luar ruangan dengan kecemasan yang membuncah, langsung menghadang kedua orang tua Sherly. Pemuda itu sempat melihat kekasihnya berlari sambil menangis, dan ia tahu badai besar baru saja menghantam mereka
"Om, Tante, biar Darrel yang kejar Sherly. Tolong percayakan ini pada Darrel," ucap Darrel. Tatapan matanya tegas, menyiratkan kedewasaan yang melampaui usianya, namun sekaligus penuh permohonan
"Om dan Tante silakan lanjut mengobrol dengan Bidan Dina. Cari tahu apa yang terbaik untuk Sherly"
Tanpa menunggu jawaban, Darrel berbalik dan berlari kencang membelah koridor, mengejar bayangan gadis yang teramat dicintainya. Di belakangnya, Arman dan Dhiwa hanya bisa terpaku, menyadari bahwa hidup putri mereka-dan hidup mereka semua-tidak akan pernah sama lagi setelah sore ini.
VOUS LISEZ
MENJEMPUT RESTU DI ATAS LUKA
RomanceDarrel Sherly's story we start from the beginning of the journey, abadikan setiap moment dalam karyamu, ketahuilah manusia bahwa bakatmu yang akan menenangkan pikiranmu, dibandingkan orang lain yang hanya sekedar ingin tahu bertopeng peduli.. janga...
