BAB 1. RUMAH YANG ASING

1 0 0
                                        

Gerimis tipis membasuh kaca jendela sedan hitam melaju membawa Nayla membelah jalanan ibu kota yang basah.

Di kursi belakang, gadis berusia sembilan belas tahun itu hanya terpaku menatap kosong pada pantulan wajahnya sendiri yang pucat.

Gaun hitam yang ia kenakan terasa begitu berat. Seberat duka yang masih mengendap di dadanya semenjak tanah kuburan kedua orang tuanya basah seminggu lalu.

Kecelakaan rem blong di jalur pegunungan itu telah merenggut segalanya dalam satu kedipan mata, menyisakan Nayla sebatang kara di dunia ini.

Hingga akhirnya, tangan Paman Haryo merengkuhnya dari keterpurukan dan membawanya ke kediamannya.

Mobil berhenti perlahan di depan sebuah gerbang besi menjulang tinggi.

Di baliknya, berdiri megah sebuah rumah berarsitektur kolonial modern yang didominasi warna putih gading.

Bagi orang awam, tempat ini adalah sebuah istana mewah. Namun bagi indra keenam Nayla, setiap sudut pilar beton yang kokoh itu tampak seperti jeruji tak kasat mata. Jeruji yang siap mengurung sisa hidupnya.

Langkah kaki Nayla terasa goyah, saat ia memijak lantai marmer teras sedingin es.

Paman Haryo menyambutnya dengan senyum kebapakan yang hangat, merangkul pundak ringkih keponakannya itu.

"Masuklah, Nayla. Mulai hari ini, ini adalah rumahmu. Jangan merasa sungkan atau asing," ucap Paman Haryo lembut.

Nayla hanya mampu mengangguk lemah, memaksakan sebuah senyuman rapuh. "Terima kasih banyak, Paman."

Namun kenyamanan fisik dari pendingin ruangan seketika menguap, begitu mereka melangkah melewati pintu jati besar menuju ruang tengah.

Sebab di sana, sepasang mata tajam sudah menunggu kedatangannya.

Di atas sofa kulit mewah, duduk anak sulung Paman Haryo, Baskara. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu sama sekali tidak beranjak dari duduknya untuk menyambut sepupunya yang baru berduka.

Baskara hanya menyilangkan kaki, memegang gelas kaca berisi cairan amber, dan menatap Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan dingin, sinis, dan penuh antipati yang kentara.

Nayla yang merasa terintimidasi seketika menundukkan kepala dalam-dalam. Jantungnya berdegup liar. Aura di sekitar Baskara terasa begitu menekan, membuatnya ingin segera berlari pulang ke rumah lamanya.

Tepat saat ketegangan sunyi itu mulai mencekik leher Nayla, sebuah langkah kaki yang ringan terdengar mendekat dari arah tangga.

Seorang pemuda jangkung dengan kaos rajut kasual berjalan dengan senyuman paling menawan yang pernah Nayla lihat.

Itu Arka, anak bungsu Paman Haryo yang berusia dua puluh satu tahun. Di tangannya, terdapat sebuah cangkir keramik yang mengepulkan uap tipis beraroma madu dan kamomil.

Arka berjalan melewati Baskara begitu saja tanpa menoleh, lalu mengambil posisi tepat di depan Nayla, memotong jalur pandang intimidatif milik kakaknya.

"Kau pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh yang emosional ini, Nayla," suara Arka terdengar begitu lembut dan menenangkan, bagai oase di tengah gurun.

Arka mengulurkan cangkir hangat itu ke depan dada Nayla. "Ini teh herbal hangat dengan campuran kamomil dan sedikit madu. Aku membuatnya khusus untuk menyambut kedatanganmu. Minumlah, ini bisa membantu menenangkan pikiranmu yang kalut."

Nayla mendongak, menatap sepasang mata Arka yang memancarkan ketulusan seorang malaikat pelindung.

Seketika, rasa aman yang sempat hilang pasca-kematian orang tuanya merayap kembali ke dada Nayla.

Nayla menerima cangkir tersebut. Kehangatan keramiknya menjalar ke telapak tangannya yang sedari tadi sedingin mayat. "Terima kasih banyak, Arka. Kamu repot-repot sekali."

"Sama sekali tidak repot untuk sepupuku yang cantik," balas Arka lembut.

Jemari jangkung Arka sempat menyentuh sekilas ujung jemari Nayla saat memindahkan cangkir. Sebuah usapan penenang yang sangat halus, tak tertangkap oleh mata Paman Haryo maupun pelayan di sana.

Dari sudut ruangan, terdengar suara tawa renyah yang sarkastik.

Baskara meletakkan gelasnya ke atas meja kaca dengan dentingan yang keras dan kasar. Ia bangkit berdiri, berjalan angkuh menghampiri tempat Nayla berdiri.

Paman Haryo yang melihat gelagat tidak beres dari anak sulungnya segera berdehem keras. "Baskara, jaga sikapmu. Ayah harus ke ruang kerja sebentar untuk menerima telepon penting dari kolega. Arka, antarkan sepupumu ke kamar tamu di lantai dua setelah ini."

"Baik, Ayah," jawab Arka santun.

Begitu Paman Haryo melangkah pergi menjauh, Baskara memanfaatkan kesempatan itu. Ia merangsek maju, memotong jarak hingga tubuh tegapnya hampir menempel pada Nayla.

Nayla menahan napas, tubuhnya mendadak kaku karena teror mental yang mendadak kembali membayangnya.

Baskara menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Nayla, lalu ia berbisik dengan nada rendah yang penuh dengan ancaman yang menjijikkan.

"Selamat datang di neraka barumu, Sepupu."

Nayla tersentak. Bulu kuduknya meremajang hebat mendengar bisikan berdarah dingin itu.

Namun, sebelum Nayla sempat mencerna seluruh rasa takutnya, sebuah sensasi aneh mendadak menyerang tubuhnya secara brutal.

Tepat setelah seteguk teh herbal buatan Arka mengalir melewati tenggorokannya, kepala Nayla mendadak berputar dengan hebat.

Pandangan matanya yang semula jernih, perlahan mengabur dan bergoyang.

Rasa kantuk yang luar biasa berat, sesuatu yang tidak wajar dan teramat pekat, mendadak merayap dari tengkuk dan mengunci seluruh saraf di otaknya.

Nayla mencengkeram cangkir tehnya dengan sisa tenaga yang gemetar hebat. Ia menatap Arka yang kini berdiri di depannya dengan senyuman hangat yang aneh. Arka mendadak terlihat begitu jauh dan kabur.

Padahal, ia baru saja tiba di rumah ini lima menit yang lalu.

---

Mengapa teh herbal dari Arka langsung membuat kesadaran Nayla runtuh? Dan apa yang akan dilakukan Baskara saat menyadari sepupunya mulai kehilangan kesadaran di ruang tengah?

DI BALIK ATAP RUMAH PAMANStories to obsess over. Discover now