Bab 1

1 0 0
                                        

Welcome to kehidupan dewasa, di mana kamu selalu melihat kesuksesan orang lain dalam perjalanan hidupmu.

Saat masih masa lajang Nera berekspektasi pada dunia akan mendapatkan hidup yang dia inginkan setelah menikah nanti. Rumah tangga yang harmonis dan hidup tenang bersama anak dan suami. Tapi ternyata pikiran dia salah, menikah justru masuk ke pintu gerbang permasalahan yang lebih banyak dan lebih kompleks lagi. Neraa tidak tahu apakah kehidupan rumah tangga orang lain juga mendapat ujian seperti dirinya atau tidak, yang jelas dalam kacamata pengamatannya dia hanya melihat kehidupan rumah tangga orang lain yang terlihat begitu bahagia dan sangat beruntung.

"Kita lihat kehidupan orang lain yang bahagia tanpa celah itu belum tentu aslinya begitu juga." Davian berbicara dengan nada menasehati, karena dia tahu istrinya itu sering kali merasa terpuruk karena melihat "pencapain" orang lain baik secara langsung maupun lewat media sosial.

"Tapi kenapa aku lihat kayaknya hidup mereka itu kayak sempurna banget," ucapnya sambil menunduk.

Davian tidak merespond lagi ucapan Neera, karena dia tahu melanjutkan perbincangan itu hanya akan memperkeruh suasana, pria itu lebih baik berjalan ke dapur untuk memasak mie instan spesial campur telur.

"Nanti kalau mood dia udah baik aku ajak dia deep talk lagi," batinnya.

Sang istri yang ditinggalkan pun tampak terlihat tak acuh. Entahlah, sejak kejadian itu seperti ada hal berbeda dari dalam diri Neraa. Ingat tentang masa kelam itu masih terus berputar di otaknya. Tepatnya 6 bulan lalu saat perempuan itu mengandung anak kedua pasca keguguran 5 minggu, Tuhan memberi kesempatan dirinya hamil lagi. Namun sayangnya, saat dia merasakan perutnya kram yang luar biasa pada malam hari tanpa ditemani suami, Neraa masih belum menyadari jika itu adalah tanda kontraksi. Akhirnya dia bertanya pada ibunya tentang yang dia rasakan sambil menunjukan cairan yang keluar dari alat vitalnya, ibunya pun memberitahu jika itu adalah tanda melahirkan. tak menunggu waktu lama Neraa segera menghubungi sang suami yang sedang berada di rumah mertuanya.

Selang beberapa menit Davian datang dan melihat langsung wajah istrinya itu yang sudah berantakan dan menahan rasa sakit. Dia langsung memapah Neraa ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, Neraa menolak karena dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit. Pilihan terakhirnya Neraa memutuskan untuk pergi ke klinik saja yang notabenenya jarak rumahnya jauh lebih dekat.

Saat sedang ditangani, awalnya bidan memberi saran untuk dirujuk tapi keadaan tidak memungkinkan karena kaki janin sudah terlihat dan harus segera ditindak. Persalinan Neraa penuh perjuangan sekali karena pada malam itu, dia ditangani oleh 6 bidan sekaligus. ruangan persalinannya pun dipenuhi dengan orang-orang yang mendampingi dirinya. Suami, ibu mertua, dan kakak kandung Neraa ada di tempat itu. Ketika bayi berhasil dilahirkan Neraa tidak mendengar ada tangisan dari buah hatinya. batin Neraa sudah tak karuan dan rasanya campur aduk. Dia paham dengan situasi saat itu, tapi Violet-kakak kandungnya malah justru menyuruh Neraa untuk beristirahat saja, Padahal sudah jelas malam itu dia tidak bisa tidur.

Hingga pada pagi harinya Violet menghampiri Neraa yang masih terbaring di ranjang dan berbicara dengan pelan dan mengatakan kalau anaknya sudah tidak bisa diselamatkan. Neraa hanya diam terpaku mendengarkan penjelasan itu sambil menatap langit-langit kamar. Bahkan air mata pun tidak bisa membasahi pipinya.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Sep 19 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Dream After MarriageHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora