Chapter I ─ Just a Little Light

4 1 0
                                        

"Sudah Papa bilang dari dulu, kamu tidak boleh menemuinya."

Kalimat itu terus terngiang di telinga seorang laki-laki bernama Cael. Ia merupakan anak tunggal yang kedua orang tuanya bercerai sejak usianya menginjak tiga tahun.

Cael diasuh oleh ayahnya karena ibunya enggan mengurusnya. Namun, tak ada yang tahu mengapa ibunya memilih untuk menyerahkan hak asuh itu kepada ayahnya.

Cael tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia merindukan sang ibu. Ia percaya bahwa ibunya tidak sejahat yang selama ini dikatakan oleh ayah maupun keluarga ayahnya.

Bagaimanapun juga, wanita itu tetaplah ibunya.

"Kamu kenapa, Ka?"

Seketika lamunan Cael buyar saat mendengar suara Nara yang kini duduk di sampingnya sambil mengayunkan tubuhnya.

"Aku bosan. Kamu nggak ada rencana ke mana gitu?"

Gadis itu mempercepat gerakan ayunannya hingga tubuhnya melambung semakin tinggi. Sementara Cael hanya diam, memperhatikan tingkah gadis di sampingnya.

"Kamu maunya ke mana?"

"Lha, gimana sih, Ka? Kan aku nanya ke kamu, kamu malah nanya lagi ke aku. Kalau aku tahu mau pergi ke mana, sih, udah aku ajak dari tadi."

Cael beranjak dari ayunan. Ia melangkahkan kakinya sembari menghela napas berat.

Kening Nara mengerut. Ia segera menghentikan ayunannya, lalu berdiri di hadapan Cael.

"Kamu capek, kah? Ayo, kita pulang aja. Tapi ke apartemenku, ya."

Cael hanya mengangguk. Ia kemudian menggandeng tangan Nara dan berjalan bersamanya menuju apartemen gadis itu.

───── ─ ─ ─ ¤

Setibanya di apartemen, Cael langsung membaringkan tubuhnya di sofa panjang.

"Kamu nggak demam, kan?"

Nara segera memeriksa suhu tubuh Cael dengan punggung tangannya.

"Nggak kok. Cuma ngerasa capek aja."

Nara mengambil selimut, kemudian menyelimuti tubuh Cael. Ia khawatir jika Cael tertidur nanti, suhu tubuhnya kembali tidak stabil seperti beberapa waktu lalu.

"Kalau ngantuk, tidur aja. Aku temenin di sini."

Nara kemudian ikut berbaring, tetapi di sofa yang berbeda.

Apartemen itu merupakan pemberian ayah Nara sejak ia mulai masuk kuliah.

"Ka, besok aku-"

Kalimatnya menggantung ketika terdengar suara dengkuran dari sofa di seberang.

Nara refleks menoleh dan mendapati Cael sudah tertidur.

Cuaca yang panas di siang hari memang terasa lebih cocok untuk tidur daripada berkeliaran di luar.

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Cael tengah berjalan sendirian ketika keluar dari gerbang kampus. Dari kejauhan, ia mendengar suara Nara memanggil namanya.

Gadis itu berlari ke arahnya, tetapi kakinya menginjak genangan air hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Cael langsung merasa ngilu ketika melihat lutut Nara yang tergores.

Nara baru saja hendak bangkit ketika Cael lebih dulu menghampirinya.

"Pasti sakit."

Cael berlutut di hadapan Nara dan memeriksa kakinya.

"Sakit sih nggak, tapi perih."

"Sebentar."

Untungnya, terdapat keran air tidak jauh dari tempat mereka. Cael segera mengambil air menggunakan botol minumnya, lalu membasuh luka di lutut Nara sedikit demi sedikit.

"Ka, nanti antar ke toko alat tulis, ya. Stok pulpenku mau habis."

"Sekarang?"

Cael mendongak, lalu Nara menganggukkan kepalanya.

"Ayo. Tapi nanti kalau nggak kuat jalan, bilang. Jangan maksain."

"Alah, kegores dikit doang. Cuma perih, nggak sampai ngilu kok."

───── ─ ─ ─ ¤

Begitu tiba di toko alat tulis, Nara langsung menuju rak khusus pulpen dan pensil. Ia sibuk mencari pulpen favoritnya, pulpen bertinta cair dengan wadah berwarna ceri.

Sementara itu, Cael pergi ke rak di seberangnya. Ia mencari sebuah buku catatan kecil berwarna biru langit.

Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Nara.

Saat Nara hendak menemui Cael, kakinya kembali tersandung sesuatu hingga membuatnya terjatuh.

Cael yang mendengar suara itu langsung bergegas menuju rak tempat Nara berada.

Dan benar saja.

Nara-lah yang terjatuh.

"Kamu kayaknya pas masih kecil kurang motoriknya, jadinya kesandung mulu."

Nara langsung mencebik mendengar kalimat yang dilontarkan Cael.

"Kamu kok ngeselin sih, Ka?"

Cael menggaruk tengkuknya. Maksudnya hanya bercanda, tetapi rupanya ucapannya tadi justru membuat Nara sedikit kesal.

"Maaf, ya, Na."

Cael menjulurkan tangannya untuk membantu Nara berdiri. Meskipun masih cemberut, Nara tetap meraih tangan Cael.

"Kakinya sakit banget nggak? Kalau nggak bisa jalan, aku gendong aja ke kasir."

"Sakitnya bentaran doang. Aman lah."

───── ─ ─ ─ ¤

"Habis dari mana kamu? Menemui wanita itu lagi?"

Ayah Cael sedang duduk santai di ruang tengah, menyandarkan punggungnya pada sofa.

Cael yang baru saja masuk langsung menghentikan langkahnya sejenak.

"Aku habis ngerjain tugas, Pa, sama temen. Besok harus dikumpulin."

"Oh."

Hanya itu yang diucapkan ayahnya.

Cael kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.

Sebenarnya, ia memang baru saja menemui ibunya.

Namun, ia juga tidak berbohong mengenai tugas yang dikerjakannya. Sepulang dari toko alat tulis tadi, ia dan Nara mengerjakan tugas di sebuah kafe.

Dan setelah itu, Cael pergi menemui ibunya di tempat yang biasa mereka gunakan untuk bertemu.

Sebuah tempat rahasia yang tidak diketahui oleh ayahnya.

Tempat yang hanya diketahui oleh Cael dan ibunya.

───── ─ ─ ─ ¤

Cael menutup pintu kamarnya perlahan.

Setelah memastikan tak ada suara langkah dari lantai bawah, ia berjalan menuju meja belajarnya.

Tangannya membuka laci paling bawah yang selama ini jarang ia sentuh.

Sebuah benda kecil tersimpan di sana.

Foto lama.

Foto dirinya bersama seorang wanita yang wajahnya masih ia ingat dengan jelas.

Jarinya mengusap permukaan foto itu perlahan.

"Aku cuma ingin tahu kenapa, Ma."

Cael menatap foto tersebut cukup lama.

"Kenapa Papa sampai melarangku menemui Mama?"

Dan untuk kesekian kalinya, pertanyaan yang sama kembali memenuhi kepalanya.

Apa sebenarnya yang terjadi di antara kedua orang tuanya?

Just a Little Light Histórias para pegar e não largar. Descubra agora