Pantai yang tak pernah sepi oleh kehadiran kita.
WARNING ⚠
- DON'T COPY OR INSPIRASI!
- Cerita ini murni hasil kerja otak saya, kalau anda copy atau inspirasi.
- Maaf apabila ada kalimat yang menyinggung perasaan
- Maaf apabila ada kesamaan kalim...
BILA aku bilang kalau hijaunya pepohonan di hutan lebat sangat menyegarkan untuk di pandang dan penyumbang oksigen untuk manusia bernapas, maka Eliezer akan menjawab bahwa birunya lautan adalah isi dari sebagian dari bumi ini.
Hembusan angin kala siang itu menerpa wajah dan membawa keteduhan serta kedamaiannya tersendiri. Aku dan Eliezer atau Aizer (nama panggilan yang kuberikan saat kami bertemu) duduk dibawah rimbunnya pohon kelapa yang berada di dekat pantai, sungguh ketenangan yang akan sangat ku rindukan.
"Kalau aku mati, aku nanti bakal jadi laut, kali ya, Shera?" Dia tiba-tiba bertanya, tatapannya masih tertuju pada pasang surut yang bergerak.
"Aizer hobi banget ngaco, kepikiran apaan, sih?" Aku menjawabnya, menoleh kepadanya.
"Nggak, tiba-tiba kepikiran aja kayak gitu... Tapi jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana untukmu." Dia mengecup keningku dengan kelembutan yang luar biasa dari seseorang yang dikenal memiliki tatapan tajam dan ucapan sarkas.
Kemudian angin kembali bertiup lembut menerbangkan beberapa helai rambut hitamku.
Begitu pulang dari sana saat matahari mulai turun dan menyelesaikan tugasnya, Aizer menatapku lebih lama dari sebelumnya, seolah sedang mengingat setiap inci wajahku untuk membuat sebuah puisi cinta yang manis.
Hubungan kami sudah berjalan selama tujuh bulan, baru tujuh bulan dan kadang kami masih terlalu labil untuk memahami satu sama lain. Namun Aizer selalu mencoba mengerti diriku, dia jarang membuatku kesal karena terlalu lama menunggunya atau karena dia tidak memberikan kabar selama setengah kabar, kalau dia datang terlambat untuk menjemputku pasti akan ada kata maaf berulang kali dari mulutnya dengan suara hangat.
Tapi...
Kurasa itu adalah kali terakhir aku menerima tatapan mata hijau emerald nya yang dipenuhi kehangatan, besoknya Ibu langsung memintaku untuk mengemasi semua pakaian untuk pindah ke kota selama beberapa bulan karena dia mendapatkan pekerjaan disana.
Mau tak mau, aku harus menurut walau sebenarnya hati terasa sangat berat untuk meninggalkan tempat dimana ada seseorang yang sangat berarti untuk hatimu di tempat itu. Namun salahnya, aku tak menghubungi Aizer untuk mengucapkan selamat tinggal atau meminta maaf karena kejadian itu sangat tiba-tiba.