Seminggu setelah masuk semester dua di kelas sebelas, pada malam minggu mereka kembali berkumpul. Tiga teman akrab, ditambah sepupu salah satu dari mereka, sering kali mengadakan acara girls time atau sekedar berkunjung untuk mengobrol bersama, menceritakan keseharian selama bersekolah, rumor di sekolah, atau bahkan berita-berita terbaru yang kerap kali lewat di beranda media sosial. Namun, setiap perkumpulan gadis-gadis maupun laki-laki, pasti akan selalu bertemu pembicaraan buntu, dimana mereka terjebak dalam keheningan berat akibat kehabisan topik, sehingga membuat mereka mencari cara menyibukkan diri dengan bermain ponsel, bermain gitar, tidur, atau lainnya. Tetapi tidak semuanya benar-benar sibuk sendiri-sendiri, seperti salah dua dari keempat gadis yang duduk di karpet bulu di ruang tamu salah satu rumah mereka, rumah Stella.
Ian dan Stella. Kedua gadis yang berinteraksi layaknya sepasang kekasih, namun hubungan keduanya hanya sebatas 'sa-ha-bat, sahabat'. Pegangan tangan, sudah biasa, berpelukan, itu juga wajar, saling memperhatikan, sangat lazim... diperkumlan para gadis hal-hal seperti itu adalah normal. Tapi, apa yang membedakan mereka dengan para gadis yang lain? Interaksi. Hubungan keduanya terasa lebih intim daripada sekedar sahabat. Bagaimana cara menjelaskannya? Mungkin seperti cara pandang? Atau mungkin ciuman pipi yang terlihat wajar? Atau aksi timbal balik yang melewati batas teman? Entahlah, itu... sulit dijelaskan. Bila dikatakan wajar itu tidak lazim, bila dikatakan tidak lazim itu sebenarnya wajar.
Ian mendekat pada Stella yang tengah bermain ponsel sembari bersandar pada ranjang, untuk duduk disampingnya, menyenderkan kepala pada bahu ramping disebelah, mencari kenyamanan di sana. Ia menggosok-gosokkan pipi, hidung sesekali bibirnya mengecup lembut bahu yang sedikit terbuka dari pakaian yang digunakan Stella. Pemilik bahu itu sendiri tidak menolak, ia justru tersenyum selama gadis dengan jarak umur paling muda diantara mereka mencari kenyamanan di bahunya.
Tangannya yang bebas bermain-main di telinga Ian yang kini berada diceruk lehernya. Tangan lainnya sibuk dengan ponsel, ibu jarinya sibuk menggulir layar, sesekali berpindah ke roomchat pacar untuk membalas pesan. Baru dua menit diam menemukan kenyamanan, Ian mengganti posisinya untuk tiduran dengan paha Stella dijadikan sebagai bantalan.
Lagi, si gadis gemini itu tersenyum. Tangannya yang semula bermain di telinga Ian tetap tak berhenti bermain, hanya saja kini tangan itu mengelus lembut surai panjang sahabatnya. Sesekali, ia mengarahkan kamera ponselnya ke arah Ian karena merasa gemas.
Semua interaksi tersebut tak luput dari mata Jiyu, sepupu Yuha. Sebagai seorang teman yang 'kenal sih, tapi gak sering main bareng. Cuma beberapa kali' pemandangan yang bagi Yuha biasa itu, jelas sangat ambigu di mata Jiyu. Tangannya memang mengenggam ponsel, tapi kedua matanya fokus memperhatikan mereka. Keningnya mengerut, bibirnya tersenyum sesekali menyeringai geli. Ada banyak raut wajah yang cukup mudah ditebak.
Jika Jiyu menoleh kebelakang sebagai lulusan SD yang sama dengan mereka, Stella dan Ian memang sudah memiliki riwayat sebagai teman dekat sejak dulu. Tidak heran bila melihat tingkah mereka yang saling menyayangi. Tapi, adegan malam ini kok... agak gimana gitu...
Jiyu mengembuskan napas kecil, mengakhiri pikirannya yang semrawut memikirkan hubungan kedua teman akrabnya Yuha. Ia menggeleng pelan, "Pacaran saja, deh, kalian berdua."
Celetukkan tiba-tiba itu mengalihkan perhatian ketiga teman karib di sana. Yuha menggeser ponselnya, melirik sekilas Ian yang berbaring di paha Stella, sementara gadis gemini itu terkekeh kecil, kemudia menghentikan aktivitasnya mengganggu tidur si maknae.
"Mereka udah pernah pacaran tahu." Sahut Yuha tak acuh, ia melanjutkan kegiatan menggulir layar, melihat short video orang-orang di media sosial.
Jiyu menoleh cepat, menatap sepupunya. "Hah? Sumpah?!"
Yuha mengangguk tanpa melihat, "Iya..." pupilnya melirik ke sudut atas, tampak berpikir sejenak, lalu menatap Stella. "Sebelum sama Martin atau udah pacaran?"
YOU ARE READING
Your Words, My Heart
Fanfiction"Kita ini cuma sahabat, kan?" Pegangan tangan? Biasa. Berpelukan? Wajar. Pacaran trial seminggu sampai ciuman di sofa? Nah, itu yang bikin Ian pusing sendiri. "Masa gue harus HTS-an terus sama Stella?! Gue juga mau kali punya hak buat cemburu!"...
