kata orang, cinta itu datang tanpa direncanakan.
tapi bagaimana kalau sejak kecil, bahkan sebelum mengerti apa arti cinta, seseorang sudah lebih dulu ditentukan untuk menjadi milikmu?
namanya Vana.
dan sejak kecil, Vana sudah mengenal satu nama yang selalu disebut-sebut oleh kedua orang tuanya.
Kenzo.
dua keluarga yang sudah lama dekat membuat sebuah kesepakatan sederhana-menjodohkan anak mereka.
awalnya, Vana hanya menganggap Kenzo sebagai anak laki-laki menyebalkan yang selalu mengambil mainannya, mengganggunya saat sedang bermain, dan dengan seenaknya memanggilnya dengan berbagai macam julukan.
begitu juga Kenzo.
bagi Kenzo, Vana hanyalah gadis kecil yang gampang menangis dan selalu mengadu kepada orang tua mereka setiap kali Kenzo berbuat usil.
mereka tumbuh bersama.
ulang tahun bersama.
liburan bersama.
bertengkar karena hal-hal kecil, lalu kembali bermain seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
sampai tanpa mereka sadari, waktu membawa keduanya tumbuh menjadi dua orang yang berbeda.
dan perjodohan yang dulu hanya terdengar seperti candaan orang tua...
perlahan berubah menjadi sesuatu yang nyata.
sekarang, Vana dan Kenzo bukan lagi sekadar dua anak kecil yang dipaksa untuk saling mengenal.
mereka pacaran.
sudah bertahun-tahun.
Kenzo dua tahun lebih tua dari Vana. Namun karena perbedaan usia mereka, di sekolah keduanya hanya terpaut satu tingkat.
Kenzo sudah lebih dulu mengenal dunia remaja, sementara Vana masih sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Tapi satu hal tidak pernah berubah.
ke mana pun Vana pergi, Kenzo selalu ada di dekatnya.
begitu pula sebaliknya.
"Van."
suara itu membuat Vana menoleh.
Kenzo berdiri beberapa langkah di belakangnya, dengan tas yang disampirkan asal di salah satu bahunya.
"apa?"
"pulang bareng."
Vana mengerutkan kening.
"aku kan nggak bilang mau pulang sama kamu."
Kenzo tersenyum kecil.
"nggak perlu bilang."
"kenapa?"
"karena dari dulu juga kamu pulangnya sama aku."
Vana terdiam.
kalimat sederhana.
tapi entah kenapa, setiap kali Kenzo mengatakannya, ada sesuatu yang selalu terasa berbeda.
mungkin karena mereka memang sudah terlalu lama bersama.
atau mungkin...
karena tanpa Vana sadari, laki-laki yang dulu hanya dianggap sebagai hasil dari perjodohan kedua orang tua mereka itu sudah menjadi bagian paling familiar dalam hidupnya.
dan untuk sekarang, Vana pikir...
mungkin kisah mereka akan terus berjalan seperti ini.
bersama.
seperti sejak kecil.
tanpa pernah tahu bahwa setiap kisah yang terlihat sederhana...
selalu menyimpan sesuatu yang belum mereka ketahui.
