1/11 KABUR

1.6K 37 5
                                        

Matahari siang menyengat halaman parkir fakultas teknik. Leo baru saja keluar dari ruang kuliah, tasnya yang hanya berisi satu buku yang isinya campur semua mata kuliah masih tergantung di bahu. Kaos hitamnya menempel sedikit di badan karena keringat membuat bahunya yang lebar, perutnya yang agak ngotak-ngotak, sama lengannya yang berotot dari latihan rutin, nyeplak di kaos.

Kalo di fakultas lain mungkin memang ngga dibolehin pake kaos polos aja. Cuma dia kan di teknik, boro-boro pake kemeja, ngga pake kaos kutang ke kelas aja udah syukur. Mau pake yang rapi juga takutnya sia-sia mesti ujung-ujungnya bakal bau keringat karna di kelasnya cuma pake kipas.

Ngga tau juga dah anggarannya pada kemana. Padahal di beberapa fakultas lain udah ada yang pake AC. Leo bodo amat, dia bukan aktivis kampus yang hobi bengak-bengok kritik kebijakan kampus tapi pas perekrutan panitia ospek juga masih diambil dari lingkup internal partai sendiri.

Prinsip Leo datang, belajar, lulus, habis tu bisa dapet kerja yang layak biar ngga ngemis-ngemis ke pemerintah minta loker.

Beberapa cewek yang lewat sempat melirik, tapi Leo cuek. Tau dia mah kalo ganteng.

Dia baru saja mau nyalakan HP ketika suara lembut memanggil dari belakang.

"Leo~"

Leo langsung kaku. Dia kenal suara itu. Suara yang beberapa minggu ini menghantui dia sampe pengen ngumpet ke hutan Kalimantan. Baginya suara yang ini lebih horor dari suara hantu yang ada di hutan itu.

Leo dengan tatapan malesnya noleh dikit ke belakang. Disana ada Daehwi yang berdiri beberapa meter di belakangnya, rambutnya sedikit bergelombang, kaos oversized yang longgar di badannya, dan senyum yang kata orang lain manis sudah terlalu sering Leo lihat sampe bikin mual. Di tangannya ada dua cup minuman dingin.

"Aku beliin es teh jumbo. Kamu pasti haus abis kelas, kan?"

Daehwi melangkah mendekat, suara manisnya terdengar seperti biasa.

Leo langsung mundur satu langkah.

"Gue udah bilang berkali-kali. Gue straight, Daehwi. Stop."

Daehwi mengerucutkan bibir.

"Aku cuma beliin minum. Nggak apa-apa, kan?"

"Nggak." Leo menggeleng tegas.

"Lo ngejar gue terus. Nunggu di depan kelas, chat pagi-pagi, nunggu di parkiran. Gue udah bilang gue nggak tertarik. Lo bikin gue geli, anjir."

Daehwi terlihat sedikit sakit hati, tapi tetap maju.

"Aku cuma-"

Leo tidak memberi kesempatan.
"Udahan. Jangan dekatin gue lagi."

Dia langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan parkiran. Daehwi masih berdiri di tempat, memandangi punggung Leo yang menjauh.

Leo tidak pergi ke kosnya. Kakinya otomatis membawa dia ke gedung perpustakaan, ke lantai tiga yang biasanya sepi. Tempat paling nyaman buat para introvert kaya sohibnya, Sangwon.

Di pojok dekat jendela besar, Sangwon sudah duduk sendirian dengan laptop terbuka. Sangwon mengangkat kepala saat mendengar langkah kaki.

"Kabur lagi?"

Leo langsung duduk di kursi di depan meja Sangwon, melempar tasnya ke lantai.

"Anjing, dia nunggu di parkiran lagi. Bawa minuman segala."

Sangwon menutup laptopnya pelan.

"Daehwi?"

"Siapa lagi." Leo mengusap wajahnya kasar.

Bukan Gei, Tapi... 🔞 Leowon✅Stories to obsess over. Discover now