Bab 1 - Pertemuan yang Tidak Disengaja

27 3 0
                                        

Yoonsik tidak pernah menyangka bahwa keputusan kecil untuk menjadi relawan di rumah sakit akan mempertemukannya dengan seseorang yang kelak begitu sulit ia lupakan.

Setiap Sabtu, Yoonsik datang ke rumah sakit setelah selesai sekolah. Ia membantu membagikan makanan, mengantarkan buku bacaan, dan menemani pasien yang tidak memiliki banyak keluarga untuk menjenguk.

Awalnya, ia melakukan semua itu karena sebuah alasan sederhana.

Beberapa tahun sebelumnya, seseorang yang sangat ia sayangi harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit. Selama masa itu, Yoonsik melihat banyak pasien yang harus melewati hari-harinya sendirian.

Sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri.

Kalau suatu hari ia punya kesempatan, ia tidak ingin ada orang lain yang merasa sendirian seperti yang pernah ia lihat.

Hari itu, Yoonsik sedang membawa beberapa buku ketika seorang perawat memintanya mengantarkan buku ke kamar 307.

"Bisa tolong antar ini ke kamar 307?" tanya perawat itu sambil menyerahkan beberapa buku.

Yoonsik mengangguk. "Bisa."

"Kamu juga bisa temani pasiennya sebentar. Dia lebih sering sendirian di kamar."

Yoonsik tersenyum kecil.

"Baik, Kak."

Dengan beberapa buku di tangannya, Yoonsik berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Suara langkah kaki dan roda ranjang yang sesekali lewat sudah menjadi pemandangan biasa baginya.

Sementara itu, di kamar 307, seorang laki-laki sedang duduk di dekat jendela.

Namanya Siwoo.

Siwoo selalu menyukai tempat itu.

Bukan karena pemandangan di luar begitu indah, melainkan karena dari balik kaca itulah ia bisa melihat dunia yang terus bergerak tanpa dirinya.

Setiap pagi, ia duduk di kursi yang sama.

Ia melihat orang-orang berjalan di halaman rumah sakit, perawat yang sibuk membawa sesuatu, keluarga yang datang menjenguk, dan sesekali anak kecil yang berlari bersama orang tuanya.

Siwoo hanya memperhatikan.

Sudah terlalu lama ia berada di rumah sakit sampai suasana itu terasa seperti rumah kedua.

Siwoo sudah cukup lama menjalani perawatan karena kardiomiopati berat, penyakit yang membuat jantungnya bekerja lebih keras dari seharusnya. Ada hari-hari ketika ia merasa cukup baik untuk duduk di dekat jendela, tetapi ada pula hari ketika tubuhnya terlalu lelah bahkan untuk sekadar berbicara.

Ia sudah terbiasa dengan keadaan itu.

Karena itu, ketika seseorang bertanya apakah dirinya baik-baik saja, Siwoo hampir selalu memberikan jawaban yang sama.

"Aku baik-baik saja."

Tidak banyak orang yang datang menemuinya.

Bukan karena tidak ada yang peduli. Hanya saja, kehidupan di luar sana terus berjalan. Orang-orang memiliki kesibukan dan kehidupan mereka masing-masing.

Sedangkan Siwoo masih berada di tempat yang sama.

Hari itu pun sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ia duduk di dekat jendela sambil menatap langit yang sedikit mendung.

Sampai akhirnya terdengar ketukan dari pintu.

Tok... tok...

Siwoo menoleh.

BUNGA KESAYANGANKUStories to obsess over. Discover now