Suara denting mesin espresso bermerek La Marzocco yang menderu halus diselingi aroma pekat biji kopi Arabica roasted selalu menjadi melodi pembuka hari di apartemen lantai tujuh itu.
Jozel-dengan celana kain santai dan kemeja garis-garis yang kancing atasnya dibiarkan terbuka-sedang berdiri di depan kitchen island. Tangannya yang terlatih bergerak sigap memegang pitcher stainless steel, melakukan steaming susu hingga mencapai tekstur microfoam yang sempurna. Di sudut meja, dua cangkir keramik abu-abu sudah menanti.
"Pagi, Sayang."
Sebuah bisikan beraroma mint dan sabun mandi mampir di ceruk leher Jozel, disusul sepasang lengan kekar yang dilingkarkan tanpa permisi di pinggangnya dari belakang. Jozel tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik dagu yang kini bersandar santai di bahu kirinya.
"Pagi, Zio," sahut Jozel seraya mengulas senyum tipis, menyandarkan berat badannya sedikit ke dada bidang Mazio. "Lepas dulu, Zio. Ini aku lagi pour susu, nanti latte art-nya miring."
"Biarin miring. Yang penting rasanya sama," gumam Mazio manja-sebuah kelakuan yang hanya pernah dan akan selalu ia perlihatkan di dalam empat dinding apartemen mereka.
Fotografer berusia dua puluh tiga tahun itu memejamkan mata sejenak, menghirup aroma sampo Jozel yang menenangkan. Rambut Mazio masih sedikit basah dari mandi pagi, membiarkan beberapa tetes air jatuh ke bahu kemeja Jozel.
Jozel terkekeh pelan, menuangkan susu hangat itu dengan teliti hingga membentuk pola rosetta yang rapi di atas permukaan kopi. Setelah selesai, ia menepuk pelan lengan Mazio yang mengunci pinggangnya.
"Duduk sana. Sarapannya udah di meja," suruh Jozel.
Mazio akhirnya melepas kungkungannya, namun tak lupa mendaratkan satu kecupan singkat di pipi Jozel sebelum melangkah menuju meja makan kecil yang terletak di dekat jendela kaca besar. Dari sana, pemandangan indah kota di pagi hari membentang luas.
Di atas meja, sudah tersaji dua piring sandwich telur dan avokad. Mazio menarik kursi, memosisikan diri seraya meraih cangkir kopinya. Matanya melirik ke arah Jozel yang kini sibuk mengelap kitchen island dengan serbet bersih.
"Hari ini jadwal kamu di kafe sampai jam berapa?" tanya Mazio sebelum menyesap kopinya.
"Mungkin agak malam," jawab Jozel tanpa menoleh. "Kan aku sempat cerita kemarin, Kak Arka dan calon investor baru mau datang jam empat sore. Kita mau bahas rencana pembukaan cabang kedua di daerah selatan."
Gerakan tangan Mazio yang sedang memegang cangkir terhenti sejenak. Sorot matanya yang tajam menatap punggung Jozel.
"Cabang kedua?" Mazio menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya urusan izin lokasinya belum selesai? Kamu bilang minggu lalu baru mau ditinjau ulang."
Jozel berbalik, menyampirkan serbet di bahunya lalu tersenyum menenangkan. "Pihak investornya gerak cepat, Zio. Mereka suka banget sama konsep yang aku bikin. Jadi hari ini sekalian rapat evaluasi menu dan budgeting."
"Berarti janji makan malam kita nanti batal?" suara Mazio berubah pelan, ada nada dingin tipis yang terselip di sana.
Jozel menghela napas pendek, melangkah mendekati Mazio lalu menduduki paha Mazio yang tertutup celana rumahan. Jozel melingkarkan lengannya di leher Mazio, menatap manik mata fotografer yang kini menatapnya datar.
"Sayang... maaf ya?" bisik Jozel lembut, ibu jarinya mengusap garis rahang Mazio yang mengeras. "Ini kesempatan besar banget buat karierku. Aku gak bisa asal lewatkan gitu aja. Sabar ya? Nanti weekend aku luangin waktu seharian penuh cuma buat kamu. Janji."
Mazio menatap wajah Jozel lekat-lekat. Sisi posesif di dalam dadanya ingin sekali melarang Jozel pergi, ingin menahan barista itu tetap berada di dalam jangkauan pandangannya. Namun melihat binar antusiasme di mata Jozel saat membicarakan proyek barunya, Mazio menelan kembali ego tersebut.
Ia menghela napas berat, merengkuh pinggang Jozel dan menekan tengkuk pria yang lebih tua satu tahun darinya itu untuk mendekat, menyatukan kening mereka.
"Jangan pulang terlalu malam," tegas Mazio. "Dan jangan lupa makan siang. Kalau kamu sakit gara-gara ngurusin cabang baru itu, aku yang bakal tutup kafenya."
Jozel tertawa pelan, mengecup bibir Mazio sekilas. "Iya, Mazio Alrescha. Paham."
~~~~~~
Setelah membereskan piring bekas sarapan, Jozel melangkah ke lorong apartemen untuk menyampirkan tas kainnya. Langkahnya terhenti sejenak di depan bingkai foto berukuran besar yang menggantung di dinding-potret candid dirinya di balik mesin kopi dua tahun lalu saat pameran Mazio.
Mazio berjalan mendekat dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Jozel seraya merengkuh pinggangnya erat.
"Masih suka ketawa kalau ingat foto ini," gumam Jozel pelan, mengusap lengan Mazio di pinggangnya. "Dulu kamu dingin banget pas datang ke kafe."
"Bukan dingin, Sayang." bisik Mazio, mendaratkan kecupan singkat di leher Jozel. "Dari pertama kali lensaku nangkap sosokmu, aku cuma tahu kalau kamu itu pusat perhatianku."
Jozel terkekeh manis. Ia berbalik di dalam dekapan Mazio, merapikan kerah kemeja fotografernya itu dengan jemari lentiknya. "Makasih ya, Zio. Berkat kamu juga aku makin berani punya mimpi besar... termasuk rencana buka cabang baru ini."
Mazio menatap mata Jozel lekat-lekat. Ada binar ambisi yang begitu terang di sana-sesuatu yang sangat ia kagumi, namun perlahan menyelipkan cemas kecil di dadanya.
"Aku selalu dukung kamu, Sayang," suaranya pelan dan dalam. "Tapi janji, sibuk apa pun nanti, jangan sampai lupa pulang."
"Pasti, Zio. Rumah aku kan di sini," sahut Jozel yakin.
Jozel berjinjit sedikit untuk mengecup bibir Mazio-sekali, dua kali, sebelum akhirnya mengurai pelukan mereka. Ia meraih kunci mobil di meja lorong, melambaikan tangan dengan senyum paling manis yang ia punya.
"Aku berangkat dulu ya, Kak Arka udah nunggu di kafe. Love you, Zio."
Pintu apartemen tertutup dengan bunyi klik yang halus. Keheningan seketika menyergap ruangan, meninggalkan Mazio yang berdiri sendirian menatap pintu yang baru saja tertutup.
-To be continued.
BINABASA MO ANG
Double Shot of Obsession S2 (MarHoon)
FanfictionDi dalam satu bingkai yang sama, aku selalu percaya kita adalah muara dari segala arah. Sampai ambisimu pelan-pelan mengubah rumah menjadi tempat tersingkapnya jarak." > Kesuksesan dan rencana ekspansi kafe milik Jozel melesat cepat, namun seiring b...
