BABAK BARU: HANCURNYA KESETIAAN, BANGKITNYA SISI LIAR

289 9 27
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Pagi itu, mentari Jakarta bersinar terik, berbanding terbalik dengan awan gelap yang menyelimuti pikiran Aris

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Pagi itu, mentari Jakarta bersinar terik, berbanding terbalik dengan awan gelap yang menyelimuti pikiran Aris. Sepanjang malam ia tak bisa memejamkan mata. Kepalanya terus memutar ulang suara desahan Bayu dan rintihan nikmat kekasihnya itu saat bersama Jason, sang sugar daddy dari Bali.
Saat Aris berdiri di depan cermin kamar mandinya, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Tubuh kekarnya yang tebal, dada bidangnya yang kokoh, dan otot-ototnya yang terbentuk sempurna seakan tidak ada artinya saat ego maskulinnya hancur lebur. Selama ini, rasa bersalah karena bermain api dengan Galih selalu menghantuinya. Namun kini, belenggu rasa bersalah itu putus seketika, digantikan oleh kobaran amarah, rasa dikhianati, dan hasrat pelampiasan yang gelap.
Jika Bayu bisa bermain gila di belakangnya, maka Aris tidak punya alasan lagi untuk menahan diri.
Sesampainya di kantor, raut wajah Aris sangat keras dan dingin. Aura intimidasi dari sang kepala divisi marketing begitu pekat hingga beberapa staf menunduk segan saat ia melintas. Tepat di depan kubikel, tatapan Aris bertubrukan dengan Galih.
Pemuda bugar itu tampak segar seperti biasa, kemejanya mencetak jelas postur tubuhnya yang tegap, padat berisi, dan jauh dari kata ramping. Melihat Aris, Galih tersenyum manis, berniat menyapa seperti rutinitas pagi mereka. Namun, sebelum Galih sempat membuka mulut, Aris memberikan instruksi singkat dengan nada bariton yang absolut.
"Ke ruanganku sekarang, Lih. Bawa laporan evaluasi minggu lalu," titah Aris dingin.
Galih sedikit terkejut dengan nada bicara Aris yang kaku, namun ia segera mengangguk dan mengikuti bos sekaligus kekasih rahasianya itu dari belakang.
Begitu Galih melangkah masuk ke dalam ruang kaca, bunyi klik yang keras terdengar. Aris telah mengunci pintu itu rapat-rapat, lalu menutup seluruh tirai vertikal yang menghadap ke area luar, menenggelamkan ruangan itu dalam privasi total.
"Mas Aris, ada a—"
Belum sempat Galih menyelesaikan kalimatnya, Aris berbalik dengan cepat. Pria dominan itu menyudutkan Galih ke dinding dekat pintu. Tangannya yang besar dan bertenaga langsung mencengkeram rahang Galih, meraup bibir pemuda itu dalam sebuah ciuman yang kasar, lapar, dan penuh dengan tuntutan.
Galih terkesiap. Ini bukan ciuman penuh gairah dan kehangatan seperti biasanya. Ciuman Aris kali ini terasa seperti sebuah klaim, sebuah pelampiasan dari emosi yang meledak-ledak. Namun, alih-alih memberontak, insting Galih justru menyambut keliaran itu. Ia mengalungkan lengan solidnya ke leher Aris, membalas lumatan itu tak kalah agresifnya.
Di sela-sela napas mereka yang memburu, Aris melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap tajam ke dalam sepasang mata oriental Galih. Dadanya yang tebal naik-turun dengan cepat, bergesekan dengan dada padat Galih.
"Kamu milikku, Lih. Ingat itu," geram Aris, suaranya bergetar menahan gejolak yang meronta di dadanya.
Melihat tatapan Aris yang gelap dan penuh kepemilikan, seringai nakal perlahan mengembang di bibir Galih. Tangannya dengan berani mengelus dada bidang pria dewasa di hadapannya, meresapi lekuk otot yang berdenyut di balik kemeja kerja Aris.
"Aku selalu jadi milikmu, Mas," bisik Galih dengan suara rendah yang memabukkan. "Apa yang terjadi sama kamu pagi ini? Kamu kelihatan... buas."
Aris tidak menjawab pertanyaan itu. Rahasia pengkhianatan Bayu biarlah menjadi amarah yang ia simpan sendiri untuk saat ini. Ia kembali menarik pinggang Galih, menabrakkan tubuh tegap pemuda itu ke tubuhnya sendiri.
"Jangan banyak tanya," ucap Aris serak, jari-jarinya mulai membuka kancing kemeja Galih dengan paksa. "Hari ini, aku butuh kamu. Lebih dari sebelumnya."
Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, Aris menumpahkan seluruh rasa frustrasi dan kekecewaannya. Ketiadaan rasa bersalah terhadap Bayu membuat Aris sepenuhnya melepaskan sisi liarnya yang selama ini tertahan. Keduanya terhanyut dalam ciuman yang jauh lebih intens, lebih keras, dan lebih mendalam, menandai awal dari fase baru di mana Aris tidak lagi terikat oleh kesetiaan semu yang nyatanya hanya sebuah kebohongan dari seberang pulau.

 Keduanya terhanyut dalam ciuman yang jauh lebih intens, lebih keras, dan lebih mendalam, menandai awal dari fase baru di mana Aris tidak lagi terikat oleh kesetiaan semu yang nyatanya hanya sebuah kebohongan dari seberang pulau

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Cahaya senja Jakarta menyusup melalui celah tirai apartemen, menyoroti dua siluet tubuh bugar yang tengah dimabuk kepuasan. Di atas ranjang berukuran queen size itu, Aris benar-benar melepaskan seluruh sisi liarnya bersama Galih. Pengkhianatan menyakitkan yang baru saja ia ketahui seolah menjadi pemantik yang membakar habis sisa-sisa kesabarannya, dan kini, semua itu ia lampiaskan sepenuhnya pada pria muda di bawahnya.
Galih mengerang tertahan saat ciuman Aris turun menyusuri leher hingga ke dada padatnya. Pemuda yang memiliki postur tubuh solid itu justru semakin terhanyut menikmati keliaran sang atasan. Ia membiarkan dirinya menjadi pelampiasan mutlak dari nafsu Aris yang meledak-ledak. Baginya, tidak ada yang lebih penting selain memikirkan bagaimana sore ini ia dan Aris bisa menikmati permainan liar yang memabukkan ini.
Aris menindih di atas Galih, membuka ruang di antara kedua tungkai Galih dan memastikan kejantanannya pada posisi yang pas. Beban tubuh kekar yang menekan begitu kuat membuat napas Galih tersentak hebat.
"Mas... ahh... kamu buas banget," desah Galih dengan mata setengah terpejam, tangannya mencengkeram kuat seprai yang sudah berantakan.
Aris mengangkat wajahnya, menatap Galih dengan napas yang memburu. Keringat membasahi dada bidang dan otot-otot perutnya yang mengeras, menambah kesan maskulin yang liar.
"Kamu suka kalau aku seperti ini, Lih?" tanya Aris dengan suara bariton yang serak, sarat akan hentakan pinggangnya yang tak terbantahkan.
"Suka... banget, Mas," balas Galih tanpa ragu, memberikan senyum nakal yang menantang. Jemari Galih terulur, mengusap rahang tegas Aris yang dipenuhi peluh. "Lakuin apa aja yang kamu mau, Mas. Sore ini, aku sepenuhnya milik kamu. Buat aku makin melayang."
Kata-kata penyerahan diri yang total itu bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api gairah Aris. Pria karismatik itu kembali menyatukan bibir mereka dalam lumatan yang kasar, lapar, dan mendalam. Tangan besar Aris mencengkeram pinggang Galih dengan posesif, memberikan hentakan yang semakin cepat, menegaskan bahwa di ruangan ini, ia memegang kendali penuh.
"Aku nggak akan nahan diri lagi, Lih," geram Aris di sela-sela ciuman panas mereka, napasnya berhembus hangat di permukaan kulit Galih.
"Jangan ditahan, sayang... habisin semuanya di aku," bisik Galih memprovokasi.
Galih membalas pelukan itu dengan tak kalah erat, merengkuh punggung lebar Aris dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran permainan liar sang eksekutif. Bagi Galih, tidak ada pemandangan yang lebih indah selain melihat pria sedominan Aris kehilangan kendali hanya untuk merengkuhnya. Sore itu, apartemen Galih menjadi saksi bisu bagaimana rasa frustrasi, amarah, dan gairah melebur sempurna menjadi satu kenikmatan duniawi yang melenakan mereka berdua.
"Terusin sayang... punya kamu gede banget, aku sesak," Galih merancau dengan tangannya memainkan dada bidang Aris.
Di puncak pergumulan yang liar dan menguras tenaga itu, napas keduanya semakin memburu, saling berpacu dalam ritme yang tak terkendali.
Dengan satu erangan panjang yang sarat akan kelegaan dan kepuasan absolut, Aris dan Galih akhirnya mencapai batas tertinggi mereka. Gelombang klimaks menghantam keduanya secara bersamaan, menyatukan rasa frustrasi Aris dan gairah memabukkan Galih dalam satu peleburan yang sempurna.
"Ahhhh, sayang... aku gak tahan," Aris ambruk perlahan, menumpukan sebagian berat tubuh besarnya di sisi Galih sambil memeluk pemuda itu erat-erat. Dada mereka yang sama-sama tebal dan bidang naik-turun dengan cepat, saling bergesekan dan dipenuhi kilau peluh yang menjadi bukti betapa intensnya permainan mereka sore itu.
Selama beberapa saat, hanya suara deru napas yang terdengar memenuhi ruang apartemen yang temaram.
Galih menoleh, menatap wajah pria dewasa di sebelahnya dengan mata sayu yang memancarkan kepuasan luar biasa. Ia mengangkat tangannya yang terasa lemas, mengusap lembut rambut Aris yang berantakan. "Kamu benar-benar luar biasa, Mas... Gila, tenaga kamu kayak nggak ada habisnya. Keganasan kamu sore ini bikin aku benar-benar takluk," puji Galih, suaranya masih terdengar serak dan terengah.
Mendengar pujian itu, ego maskulin Aris merasa sangat terpuaskan. Ia menyunggingkan senyum tipis yang menawan, mengecup sekilas pelipis Galih yang basah oleh keringat, lalu membalas tatapan pemuda berotot solid di pelukannya itu.
"Kamu juga hebat, Lih. Nggak banyak yang bisa ngimbangin permainan liarku kayak gini. Ketahanan fisik kamu, tubuh padat kamu... semuanya sempurna. Kamu tahu persis gimana cara memuaskanku dan bikin aku melupakan segalanya," balas Aris tulus, mengakui keperkasaan pemuda 22 tahun yang tak pernah gagal mengimbanginya.
Seolah menyegel pengakuan dan keintiman mereka hari itu, Aris mencondongkan wajahnya. Kali ini, tidak ada lagi ciuman yang kasar, liar, atau menuntut. Ia meraup bibir Galih dalam sebuah ciuman yang sangat hangat, lembut, dan penuh dengan afeksi.
Galih memejamkan mata, tersenyum di sela-sela pagutan mereka, dan membalas lumatan lembut itu sambil merengkuh punggung lebar sang eksekutif. Ciuman panjang itu menjadi penutup yang manis dan menenangkan dari badai gairah yang baru saja melanda mereka, membawa keduanya hanyut dalam kenyamanan pelukan yang enggan untuk dilepaskan.

bersaambung.....
Siapin tisu terus ya

Sisi Lain Sang Penakluk 2 [TAMAT]Stories to obsess over. Discover now