Hujan deras mengguyur kediaman megah beraksen marmer di kawasan elit Jakarta Selatan malam itu.
Di dalam ruang keluarga yang hangat, tawa renyah memantul indah di antara dinding-dinding penuh piagam prestasi.
Kenynal Adhyaska merangkul mesra bahu istrinya, Veranda Aderson, yang tengah duduk di sofa empuk sambil mengelus lembut perutnya yang kian membuncit.
Malam itu terasa seperti puncak kesempurnaan bagi keluarga yang kerap dijuluki The Golden Adhyaska oleh media sosial. Suasana kian bersemarak saat ketiga putri cantik mereka berkumpul di sekitar Veranda.
Shani Adira Adhyaska, si sulung yang lemah lembut, dengan telaten menyeduh teh herbal hangat untuk sang mamah, memastikan kenyamanan Veranda tanpa perlu diminta.
Di sebelahnya, Shanara Gracia Adhyaska duduk tegak dengan senyum manis yang tertata rapi, berusaha terlihat tenang meski tangannya terus mengusap jemari sang mamah dengan kasih sayang yang dalam.
Sementara si bungsu, Gita Sakara Adhyaska, justru duduk memegang buku jurnal dengan kening berkerut halus.
"Mah, Gita udah baca tiga literatur medis terbaru minggu ini," cetus Gita datar tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran bukunya.
"Ibu hamil anak kembar ganda beda jenis kelamin itu tingkat risikonya meningkat empat puluh persen saat memasuki usia kehamilan tiga puluh dua minggu. Kenapa Mamah masih maksa ikut Papah dinas luar kota lusa? Gita butuh penjelasan rasional sebelum izinin Mamah berangkat."
Kenynal tertawa terkeh-keh mendengar analisis putri ketiganya, lalu mengusap rambut Gita.
"Gita, Gita... Papah kan bawa tim medis pribadi. Semua aman, Nak. Papah cuma mau memastikan mamahmu dan calon adik kembar kalian-pangeran kecil dan putri kecil Adhyaska-mendapat udara segar."
"Iya, Gita Sayang," bisik Veranda lembut, menyentuh pipi Gita.
"Apalagi ini anak laki-laki pertama yang Papah tunggu-tunggu. Kita semua udah siapin nama dan kamar yang paling indah, kan?"
Shani tersenyum manis lalu mengangguk, menyelaraskan suasana. "Iya, Gita. Kan ada Dokter Aris juga yang ikut. Lagipula, Mamah kelihatan seneng banget."
Gracia ikut menambahkan dengan nada sangat tenang dan penurut, "Benar kata Kak Shani. Kalau Mamah bahagia, adik-adik di dalam perut pasti ikut sehat. Kita harus dukung keputusan Papah."
Gita menutup bukunya pelan, memandangi wajah seluruh keluarganya satu per satu. Hatinya tetap merasakan keganjilan yang sulit dijelaskan oleh logika.
Namun, di tengah hangatnya lampu gantung kristal dan impian besar akan hadirnya sang anak kembar penerus takhta Adhyaska, Gita akhirnya mengangguk pelan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, bahwa malam yang begitu hangat dan penuh tawa itu adalah malam terakhir kesempurnaan hidup mereka.
Bahwa hanya dalam hitungan empat puluh delapan jam ke depan, takdir yang tak terduga akan merenggut seluruh kemewahan itu, memaksa ketiga saudara perempuan tersebut berdiri di atas puing-puing kepedihan yang memilukan.
