Aku kadang heran pada orang-orang yang punya begitu banyak waktu untuk membicarakanku, bahkan di ruang yang dipenuhi orang-orang yang tidak mengenalku.
Sepertinya aku memang terlalu dalam masuk ke kepala mereka.
Ketika tidak ada bahan untuk dibicarakan, namaku tetap dibawa. Pernyataan, sikap, reaksi, bahkan hal-hal kecil dalam keseharianku bisa diolah menjadi narasi untuk membentuk citra tertentu tentangku.
Yang lebih menarik, rupanya tidak cukup hanya dengan membicarakanku. Ada pula usaha untuk membuat orang lain ikut tidak menyukaiku, seolah ketidaksukaan bisa diwariskan lewat cerita yang terus diulang.
Orang-orang di sekitarku pun tidak luput. Mereka ikut diseret, dinilai, bahkan dijadikan bagian dari narasi yang sama.
Lalu ketika ruang percakapan berubah menjadi tempat untuk mengintimidasi, semuanya seolah dianggap wajar. Bukan lagi percakapan untuk mencari titik terang, melainkan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling banyak bicara dan siapa yang paling mudah disudutkan.
Anehnya, orang-orang yang tidak bisa diajak berbicara baik-baik sering kali justru paling pandai memutarbalikkan fakta.
Percakapan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin berubah menjadi cerita yang sudah disusun sedemikian rupa. Potongan kejadian dipilih, konteks ditiadakan, lalu kesimpulan dibuat seolah-olah hanya ada satu kebenaran.
Dan setelah semuanya selesai, datanglah bagian yang paling menarik:
playing victim.
Mereka yang paling lantang menyerang bisa tiba-tiba tampil sebagai pihak yang paling terluka. Mereka yang lebih dulu membentuk narasi justru sibuk menceritakan bagaimana mereka diperlakukan tidak adil.
Begitulah ketika seseorang lebih sibuk memenangkan cerita daripada mencari kebenaran.
Aku tidak terlalu tertarik pada versi diriku yang hidup di kepala orang lain.
Mereka boleh menyusun cerita dari potongan-potongan yang mereka punya. Boleh pula mengajak siapa saja untuk mempercayainya.
Aku tidak punya keinginan untuk masuk ke setiap ruang hanya untuk meluruskan sesuatu yang sejak awal memang tidak ingin dipahami dengan jernih.
Sebab pada akhirnya, orang yang benar-benar ingin tahu akan bertanya.
Yang ingin membenci akan mencari pembenaran.
Dan yang ingin menjadikan dirinya korban akan selalu menemukan cara untuk mengubah posisi.
Jadi, silakan.
Aku cukup menjalani hidupku tanpa merasa perlu hadir dalam setiap percakapan tentangku.
Agaknya aku memang terlalu menarik di kehidupan mereka.
