⚠️ [21+] [Dark Romance] [Slowburn]
Baek Hyun-woo hidup dengan darah di tangannya, sedangkan Hong Hae-in hidup untuk menyelamatkan nyawa.
Mereka seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun suatu malam, Hae-in menyelamatkan seorang pria bersimbah darah di...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
• 𝕮𝖔𝖉𝖊 𝕭𝖑𝖆𝖈𝖐 •
Hujan di Seoul tidak pernah sekadar turun; ia menghantam. Malam itu, langit tampak seperti kanvas hitam yang sobek, memuntahkan air deras tanpa jeda hingga seluruh kota seolah tenggelam di bawah tirai kelabu yang tebal. Kilatan petir sesekali membelah langit, memantulkan cahaya putih yang dingin di antara gedung-gedung tinggi sebelum kembali ditelan kegelapan, sementara suara hujan yang menghantam aspal dan atap kendaraan menyatu dengan gemuruh kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di distrik Gangnam, di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh dan klub-klub eksklusif yang berdenyut dengan musik bass berat, sebuah gang sempit menjadi saksi bisu atas eksekusi yang dingin dan terhitung.
Baek Hyun-woo berdiri di tengah genangan air yang kini berwarna merah pekat. Air hujan mengalir dari rambut hitamnya yang basah, melewati pelipis dan rahangnya yang tegas sebelum menetes ke kerah jas putih custom-made miliknya, membawa sebagian darah yang menempel di tubuhnya ke permukaan aspal. Jas yang biasanya menjadi simbol status dan kekuasaan tak tersentuh itu kini ternoda oleh cipratan darah di bagian lengan kiri dan dada, menciptakan bercak merah gelap yang perlahan melebar akibat hujan.
Namun, pria itu tidak terlihat panik. Wajahnya tetap datar, napasnya masih teratur, dan ketenangan yang terpancar dari dirinya terasa begitu tidak wajar di tengah tiga tubuh yang tergeletak di sekelilingnya, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan rapat bisnis membosankan, bukan menghabisi tiga orang pengkhianat dalam waktu kurang dari lima menit.
Di kakinya, seorang pria gemuk bernama Kim Tae-sik merangkak putus asa, mencoba menyeret tubuhnya yang patah menuju ujung gang yang gelap. Telapak tangannya berulang kali menyentuh aspal basah untuk mencari pijakan, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak jauh, sementara salah satu kakinya terseret dengan sudut yang tidak wajar dan meninggalkan jejak merah tipis di antara genangan air. Napasnya tercekat, bercampur dengan rintihan kesakitan yang tertahan, dan ketika ia akhirnya menoleh ke belakang, ketakutan langsung memenuhi wajahnya saat mendapati Hyun-woo masih berdiri di tempat yang sama, tidak terburu-buru mengejarnya dan tidak pula menunjukkan sedikit pun kekhawatiran bahwa Tae-sik mungkin dapat melarikan diri.
Hyun-woo menatapnya dengan mata sedingin es kutub. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di sana, tidak ada kepuasan ataupun kebencian yang dapat dibaca dengan mudah, hanya kekosongan yang mengerikan--sebuah kehampaan moral yang lebih menakutkan daripada amarah karena membuat Tae-sik menyadari bahwa bagi pria di hadapannya, hidup atau mati seseorang mungkin sama sekali tidak memiliki arti.
Hyun-woo melangkah maju dengan perlahan, sepatu kulit hitamnya menginjak genangan air dan menciptakan percikan kecil di sekitar kakinya. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh deru hujan, namun setiap kata yang keluar memiliki berat yang bisa menghancurkan tulang. "Kau pikir kau cerdas, Tae-sik? Menjual peta distribusi 'WhiteCrow' ke polisi daerah?"